Monday, April 27, 2020

Eksposisi singkat Kejadian 4:20, 21 dan 22: Apakah kekayaan dan kesuksesan merupakan tanda bagi orang yang diberkati oleh Tuhan?

 


Dalam kehidupan sehari-hari kita sering diajak berpikir bahwa orang yang diberkati oleh Tuhan adalah orang yang hidupnya kaya raya dan penuh dengan kesuksesan di dalam karier ataupun materi. Tetapi menurut sebuah kisah yang terkenal di Alkitab kita dapat belajar bahwa orang yang dikutuk oleh Tuhan pun masih dapat menikmati kekayaan dan keberhasilan materi di dalam hidupnya.

Sehingga kita tidak seharusnya berpegang pada anggapan bahwa orang yang kaya pasti diberkati oleh Tuhan, ataupun orang yang diberkati Tuhan maka pastilah ia akan menikmati kekayaan dan gelimangan harta di dalam hidupnya.

Kita akan melihat bagaimana suksesnya Kain, manusia yang telah dikutuk oleh Tuhan itu.

Kain berhasil membangun sebuah kota
Di mata orang modern yang sangat mengagungkan pencapaian, karya dan prestasi, Kain adalah orang yang membanggakan. Betapa tidak, setelah Tuhan mengutuk Kain dan tanah pun menolak dia, Kain tidak kehabisan akal dan tidak kehabisan daya upaya. Siapa bilang, orang yang hidupnya sudah dijauhkan dari Tuhan maka hidupnya tidak bisa sukses?

Kain sangat sukses, ia membangun kota. Ia adalah developer pertama di dunia. Apakah kita pernah bertemu langsung dengan seorang developer yang sukses? Bukankah mereka juga orang yang kaya raya serta mampu menerbitkan decak kagum di hati kita? Nah, sekarang kita tahu bahwa Kain yang dikutuk Tuhan pun bisa sukses seperti mereka-mereka itu. Bahkan Kain sudah jadi perancang kota, jauh sebelum ada developer lain di dunia.

Tentu saja dengan berkata begini bukan berarti saya menganggap pekerjaan seorang developer adalah pekerjaan yang berdosa. Tentu saja tidak sesederhana itu, dan tentu saja tidak bijaksana jika kita menilai seseorang semata-mata dari pekerjannya, tanpa mempertimbangkan sikap hati mereka sama sekali. Namun fakta bahwa Kain mampu membangun kota bahkan setelah Tuhan mengutuk dia, mengajarkan kita setidaknya dua hal:

Pertama, orang yang dikutuk Tuhan, belum tentu hidupnya di dunia akan mengalami kemalangan.
Kedua, orang yang sukses di dunia ini, belum tentu adalah orang yang dikasihi dan diberkati oleh Tuhan. Sebab yang dikutuk pun masih bisa sukses.

Kain memiliki banyak keturunan
Kalau saja Alkitab tidak pernah ditulis, maka orang-orang yang tidak punya anak akan merasa menderita sekali, karena akan dianggap sebagai orang yang tidak beruntung. Bahkan bagi kebudayaan tertentu, orang semacam itu bisa dianggap sebagai orang yang dijauhi oleh Tuhan.

“Banyak anak banyak rejeki,” demikian perkataan orang di zaman kita. Keberuntungan seseorang sering diukur dari banyaknya anak yang dimiliki. Sehingga orang yang tidak punya anak tentu saja akan dianggap sebaliknya, otomatis bukan?

Jika seperti itu, maka sekali lagi harus kita katakan bahwa Kain adalah orang yang beruntung. Ia tidak pernah dicatat dalam Alkitab sebagai orang punya masalah dengan istri yang rahimnya tidak subur. Abraham berkutat dengan masalah istri yang mandul. Zakaria juga mengalami persoalan dengan Elisabet yang mandul. Dan barangkali ada di antara kita yang juga sama seperti itu.

Tetapi Kain tidak. Itu bukan persoalan bagi dia. Keturunan kain banyak. Justru Habel yang tidak punya keturunan. Dari kacamata dunia, Kain adalah sosok yang beruntung, sementara Habel adalah orang yang sial.

Keturunan Kain adalah pribadi-pribadi yang handal di bidangnya
Bukan saja Kain itu punya banyak keturunan, tetapi Alkitab juga menyebutkan bahwa keturunan Kain adalah orang-orang top yang sangat mungkin akan diwawancarai oleh Forbes sebelum dimasukkan ke dalam daftar orang kaya di majalahnya itu.

Ada itu melahirkan Yabal; dialah yang menjadi bapa orang yang diam dalam kemah dan memelihara ternak. (Kej 4:20)

Salah seorang keturunan Kain berhasil menjadi peternak yang sukses, dan menjadi bapa orang-orang Nomaden yang suka mengembara. Agaknya Yabal ini adalah seorang yang memiliki peternakan sangat besar di berbagai tempat sehingga ia harus mendirikan berbagai bangunan semi permanen agar mobilitasnya tetap tinggi sementara ia mengawasi kawanan ternak yang dimilikinya.

Nama adiknya ialah Yubal; dialah yang menjadi bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling. (Kej 4:21)

Kalau Yabal sukses dengan dunia peternakan, maka Yubal adiknya adalah seorang penemu sekaligus pemain musik yang sangat handal. Pikirkan Mozart atau Beethoven, pikirkan siapa saja musisi paling handal di jaman kita. Sulit untuk tidak kagum pada orang-orang yang mahir dalam bidang kesenian bukan? Sekaligus sulit membayangkan betapa besar bakat dan talenta yang dimiliki oleh orang-orang beruntung itu.

Kain juga tidak kalah hebat. Salah seorang keturunannya adalah jenius di bidang musik, seorang pria yang sangat bertalenta.

Zila juga melahirkan anak, yakni Tubal-Kain, bapa semua tukang tembaga dan tukang besi. (Kej 4:22)

Sektor peternakan sudah digarap, sektor kesenian sudah dirambah, maka kini kita berjumpa dengan orang sukses berikutnya, yaitu seorang industrialis yang sukses mengelola hasil bumi berupa mineral. Ia mengolah tembaga dan besi sehingga menjadi alat-alat yang berguna di dalam kehidupan masyarakat pada masa itu.

Tubal-Kain bukan saja berhasil menemukan dan menggali tembaga dan besi dari dalam tanah. Ia juga berhasil mengolah bahan baku dasar tersebut menjadi alat yang berguna. Forbes pasti akan memasang nama Tubal Kain dalam majalahnya, sebagai bos tembaga sekaligus raja besi dunia.

Sulit membayangkan Kain sebagai pria yang malang, walau pun ia dikutuk Tuhan. Kain sendiri pun mungkin sudah lupa akan statusnya sebagai orang yang dibuang dari hadapan Tuhan. Kesuksesan demi kesuksesan, terus mengalir dalam hidupnya. Seperti inikah profil orang yang dikutuk Tuhan?

Bagi kita orang modern, Kain dan keluarganya adalah kalangan elit yang terhormat dan membanggakan. Kita pasti akan membicarakan keluarga ini pada  obrolan di tengah-tengah acara arisan keluarga kita. Dan sangat mungkin ada  banyak dari kita ingin memajang foto-foto di ruang tamu yang memperlihatkan momen membanggakan pada saat kita sedang bersalaman dengan Kain atau salah satu keturunan keluarganya. Bersalaman dengan Yabal si musisi handal sambil berfoto bareng Tubal-Kain sang raja besi di rumah peternakan nan luas dan mewah milik Yubal. Siapa yang akan menolak? Apalagi kita tahu bahwa tiga orang itu adalah keturunan dari city developer terkemuka pula. Rasanya kita mau sekali berelasi dengan keluarga ini, karena siapa tahu kita pun bisa kecipratan sukses dari apa yang dipunyai oleh mereka.

UNTUK DIRENUNGKAN
Itulah gambaran dari jalan kemuliaan keluarga Kain. Sesuai namanya, Kain mendapat banyak hal dalam hidup ini. Tapi dia tidak mendapatkan relasi dengan Tuhan. Dalam kekayaannya, Kain tidak pernah lagi berbicara dengan Allah. Tapi peduli amat bukan? Toh dia sudah kaya, dia sudah memiliki segala-galanya di dunia ini. Dalam kematiannya, Habel masih bisa berbicara dengan Allah. Tapi peduli amat juga kan? Toh dia sudah mati, dia sudah kehilangan segala-galanya di dunia ini.
 
Kalau kita bisa memilih, kehidupan mana yang lebih menarik untuk dipilih? Jalan hidup Kain yang membuat Forbes (dan sebagian besar dari orang di jaman kita) angkat topi? Atau jalan hidup Habel yang sia-sia?

Jalan hidup Habel mirip dengan jalan kehidupan Yesus. Dan, jalan kehidupan Yesus adalah jalan kehidupan yang tidak mungkin membuat Forbes angkat topi. Jauh lebih mungkin bagi Forbes untuk memilih angkat kaki dari hadapan Dia, ketimbang angkat topi untuk Dia. Kiranya Tuhan memberkati kita dengan belas kasihan dan bijaksana dalam memilih jalan hidup kita. Amin. (Oleh: Izar Tirta)


Kunjungi website Kristen kami lainnya disini

Eksposisi Kejadian 4:16: Mengapa manusia haus akan harta dunia dan pengakuan dari orang lain?




Some guys have all the luck… some guys have all the pain… begitulah sepenggal lirik lagu yang pernah dinyanyikan oleh Rod Stewart, penyanyi dan songwriter dari Inggris.
 
Ungkapan Stewart tersebut mau tidak mau mengingatkan saya akan nasib ke dua anak Adam dan Hawa. Kain, namanya mengandung arti “mendapatkan.” Sedangkan Habel berarti “kesia-siaan.” Yang satu memperoleh, yang satu kehilangan. Sungguh bagaikan sebuah ironi, bukan?
 
Semenjak jatuh ke dalam dosa, jiwa manusia mengalami kekosongan yang amat mendalam, sehingga manusia begitu haus untuk mengisi kekosongan itu dengan apapun yang bisa mereka dapatkan.
 
Itu sebabnya kita, sebagai keturunan dari manusia yang berdosa, sangat mengagungkan budaya mendapatkan ini, jauh melebihi budaya memberi atau membagi-bagikan. Orang yang mendapat banyak adalah orang yang beruntung dan mengagumkan sekali di mata dunia. Orang yang tidak punya apa-apa, yang rela kehilangan segala sesuatu hingga nyawa pun harus diberikan kepada orang lain, adalah orang yang hidupnya sangat sia-sia. Keberhasilan seseorang di dunia ini selalu diukur dari berapa banyak yang telah ia dapatkan selama hidupnya.
 
“He who dies with the most toys wins,” demikian perkataan Malcom Stevenson Forbes yang sangat terkenal itu. Dan Forbes membuktikan ucapannya dengan senantiasa mempromosikan gaya hidup yang sangat glamour, sarat dengan pesta, traveling dan bahkan akhirnya berkesempatan untuk menutup usia dengan status sebagai orang yang masih sangat kaya. Forbes bukan cuma pandai membuat ungkapan yang keren, tetapi ia juga berhasil menghidupi ungkapan keren-nya itu dalam kegiatan sehari-hari.
 
Bukan itu saja, majalah Forbes yang dimilikinya, senantiasa menampilkan daftar orang-orang paling kaya di dunia dengan sederetan angka-angka yang mencerminkan berapa banyak yang telah didapatkan oleh orang-orang beruntung itu dalam kehidupan mereka.
 
“Mendapatkan.” Siapakah yang tidak ingin mendapatkan sesuatu untuk dimiliki? Kehausan kita untuk mendapatkan atau memperoleh segala sesuatu itu nyaris sulit ditemukan batasannya, karena sangat banyak sekali. Mulai dari uang, rumah, mobil, emas, gadget paling mutakhir, hingga hasrat untuk mendapat pujian, disanjung keluarga, menjadi anak kebanggaan orang tua, mendapat kebahagiaan, kemudahan, nama baik, kesehatan, umur panjang dan bahkan mendapatkan penerimaan dari Tuhan. Siapa yang tidak ingin mendapatkan semua hal tersebut di dalam hidupnya?
 
Bukan suatu kebetulan jika hasrat kita yang tidak ada habis-habisnya untuk mendapatkan segala sesuatu itu, memiliki arti yang sama dengan nama Kain. Bahkan setelah membunuh adiknya, Kain mendapatkan kesempatan untuk tetap hidup (setidaknya hidup menurut definisi kita orang modern, bukan hidup menurut definisi Alkitab), sempat memiliki banyak keturunan, membangun kota besar dan memiliki kekayaan. Nyaris tidak ada berita kesialan yang menghampiri hidupnya.
 
Dalam konteks bahasa modern, Kain adalah lambang kesuksesan hidup, Forbes tentu bangga terhadap orang yang satu ini.
 
Saya yakin, jika saja Kain tidak keburu diberi label sebagai “penjahat” oleh Guru Sekolah Minggu atau pemimpin rohani kita, maka kita pun diam-diam akan memimpikan kehidupan seperti yang dimiliki Kain, bukan? Siapa sih yang tidak ingin menghajar orang yang membuat kita merasa kesal? Siapa sih yang tidak ingin tetap hidup bebas, bahkan setelah membunuh orang sekalipun? Siapa sih yang tidak ingin punya banyak keturunan? Siapa sih yang tidak kepingin kaya? Kain punya semua itu, bukan saja ia memiliki banyak keturunan, Alkitab bahkan melukiskan keturunan Kain sebagai orang-orang yang sukses, yaitu sekumpulan orang-orang yang sudah pasti akan turut menghiasi halaman-halaman majalah Forbes yang terkenal itu.
 
Berikut ini kita akan sama-sama melihat beberapa keberhasilan Kain, ditinjau dari kacamata manusia modern (yang telah jatuh ke dalam dosa):

Kain tidak dibunuh, bahkan setelah ia membunuh
Di mata Kain, Habel benar-benar adik yang menyebalkan. Ia mempermalukan Kain di hadapan Tuhan. Ia membuat ibadah Kain yang sekedar ritual tanpa hati yang percaya kepada Tuhan itu menjadi kelihatan buruk dan kurang religius. Jika Habel tidak ada, maka siapakah yang tahu bahwa Kain sebetulnya tidak percaya kepada Tuhan? Dari tampak luar, Kain adalah orang yang religius, ia suka beribadah, suka memberi persembahan, sungguh-sungguh kelihatan saleh, benar-benar seorang yang beragama.

Tetapi Habel membuat segalanya jadi berbeda. Melalui Habel orang jadi sadar dan bisa membuat perbandingan bahwa beribadah bukan pertama-tama berbicara tentang tampilan luar kehidupan seseorang. Beribadah terutama adalah tentang sikap hati yang percaya kepada Tuhan. Penulis kitab Ibrani melukiskan hal itu dengan cara demikian: Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu … (Ibrani 11:4)

Habel beriman kepada Tuhan di dalam hatinya sedemikian rupa sehingga ia memberi persembahan yang terbaik untuk Tuhan. Ada kasih di dalam hati Habel untuk Tuhan yang ia sembah.

Dalamnya laut dapat diduga, tetapi apa yang ada di dalam hati, siapakah yang bisa mengetahuinya? Demikian ungkapan populer yang kerap kita dengar. Manusia memang tidak mungkin bisa mengetahui kedalaman hati manusia, tetapi Tuhan bisa. Dan justru apa yang terjadi di dalam hati inilah yang menarik perhatian Tuhan. Tuhan tidak tertarik pada ibadah yang hanya terlihat di dalam tampilan luar. Tuhan melihat jauh menembusi apa yang kelihatan, menuju apa yang tidak kelihatan, yaitu sikap hati.

Karena ada yang bagus, maka yang jelek jadi kelihatan. Inilah yang terjadi di antara Kain dan Habel. Karena ada Habel yang hatinya sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, maka kemunafikan Kain jadi terlihat jelas.

Setelah Kain membunuh Habel, Tuhan memang datang kepadanya. Tetapi berbeda dengan harapan kita bahwa Tuhan akan menghajar dia dengan pukulan keras yang mematikan. Tuhan justru seolah-olah membiarkan dia. Kain hanya diusir dari hadapan Tuhan. Hanya diusir….

Setelah berdosa besar, tapi (seakan-akan) lolos dari hukuman maut, siapa yang gak seneng mengalami hal ini? Dalam kehidupan kita, ada banyak berita yang kita baca atau dengar atau bahkan kita lihat dengan mata kepala sendiri, tentang orang-orang yang melakukan kejahatan seperti korupsi, pembunuhan, penipuan, percabulan, ketamakan, penindasan terhadap orang yang lebih lemah, penyalahgunaan wewenang serta jabatan dan lain sebagainya, namun yang tetap saja dapat lolos dari penghukuman atau penghakiman di dunia ini.

Di dalam kejahatannya, mereka lolos karena hukum dunia tidak berhasil menangkap mereka. Orang-orang yang seharusnya berperan sebagai hakim yang menjunjung tinggi keadilan tidak mampu atau tidak mau membawa para penjahat itu menerima hukuman yang setimpal atas kejahatan mereka.

Ada beberapa faktor yang biasanya membuat keadilan semacam itu gagal ditegakkan. Faktor-faktor itu bisa disebabkan karena hakimnya telah disuap atau karena bukti-buktinya tidak cukup (atau sengaja dibuat tidak cukup, atau karena sengaja dihilangkan) atau bisa juga karena orang yang berbuat jahat itu dipandang masih bisa berguna untuk menjalankan kepentingan tertentu bagi kelompok tertentu dalam masyarakat.

Singkatnya, selalu ada kemungkinan di dalam dunia yang berdosa ini bagi orang-orang yang berbuat jahat lolos dari hukuman. Dan bagi orang tersebut, kondisi ini jelas merupakan suatu keberuntungan. Kain adalah sosok mula-mula dari keberuntungan tersebut. (Sekali lagi harus saya tegaskan bahwa keberuntungan di sini adalah dilihat dari kacamata orang berdosa, bukan dari sudut pandang Alkitab).

UNTUK DIRENUNGKAN
Secara kasat mata, secara sudut pandang dunia, Kain adalah sosok yang beruntung. Tetapi di balik keberuntungan itu, Kain sudah tidak mempunyai kesempatan untuk kembali kepada Tuhan. Mana yang lebih menarik hati kita, nasib baik seperti Kain? Atau kesempatan untuk kembali kepada Tuhan, walau konsekuensinya pahit?


Untuk membaca uraian tentang Kisah Kain dan Habel dari Kitab Kejadian Pasal 4 lainnya silahkan
lihat di website kami disini

Tuhan memberkati.

Thursday, April 23, 2020

Bukti Alkitab adalah Firman Tuhan: Proses penulisan Alkitab yang sangat ajaib.





Pada suatu peristiwa ada seorang pemberita Injil yang melayani di Korea. Dalam khotbahnya ia berkata: “Percayalah pada Yesus Kristus, maka engkau akan diselamatkan!”

Tapi salah seorang yang hadir di antara jemaat merespon kalimat itu dengan marah, ia berkata: “Kenapa saya harus percaya pada Yesus?”

Pemberita Injil itu menjawab: “Karena Alkitab Firman Tuhan berkata seperti itu.”

Si pemarah merasa belum puas, ia bertanya lagi: “Lantas darimana saya tahu bahwa Alkitab memang Firman Tuhan?!!”

Pemberita Injil ini adalah seorang yang setia dan jujur hatinya, namun ia tidak siap menghadapi pertanyaan seperti ini. Pikirannya bekerja keras mencari jawaban sementara hatinya berdoa. Akhirnya setelah beberapa saat hening, ia menjawab: “Baca sendiri! Engkau akan tahu bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan!” [Baca juga: Apa saja bentuk-bentuk Firman Tuhan itu? Klik disini.]

***

Sekilas jawaban ini terasa agak terlalu dipaksakan karena yang memberi jawab seolah putus asa hingga tidak mampu memberi jawaban yang tepat. Akan tetapi, jawaban ini ada benarnya juga. Bukti-bukti ke-Ilahi-an Alkitab memang di antaranya terdapat di dalam Alkitab itu sendiri, atau kita sebut saja sebagai bukti internal. Dan selain itu ada pula bukti-bukti, atau lebih tepatnya fakta-fakta, yang mendukung kebenaran Alkitab yang dapat kita peroleh dari luar Alkitab, yang kita sebut saja sebagai bukti eksternal.

Jadi, kalau kita coba definisikan, bukti internal dari ke-Ilahi-an Alkitab adalah bukti-bukti atau fakta-fakta yang dapat kita temukan di dalam teks Alkitab itu sendiri. Sedangkan bukti-bukti eksternal adalah bukti-bukti yang ditemukan setelah adanya penelitian lebih lanjut, yaitu berupa pengamatan, analisa perkembangan sejarah maupun merupakan hasil temuan arkeologis. Untuk lebih jelasnya, mari kita kupas satu persatu bukti-bukti tersebut, dan saya akan mengajak anda untuk memulainya dari bukti eksternal terlebih dahulu. [Baca juga: Arkeologi meneguhkan Alkitab sebagai Firman Tuhan. Klik disini.]

Bukti eksternal:
 
Proses penulisan yang ajaib
 
Walaupun kitab pertama dalam susunan Alkitab kita adalah Kejadian[1] yang ditulis oleh Musa, namun Musa mungkin bukanlah penulis Alkitab yang paling tua. Sebagian ahli berpendapat bahwa tulisan paling tua dari Alkitab mungkin sekali adalah kitab Ayub yang ditulis pada sekitar tahun 2000 SM. Karena kitab Kejadian ditulis oleh Musa maka pastilah usia dari kitab Kejadian lebih muda dari tulisan Ayub, sebab Musa sendiri baru lahir pada tahun 1526 SM, yaitu sekitar 500 tahun setelah Ayub.

Ayub yang tinggal di tanah Uz,[2] diperkirakan hidup pada zaman yang tidak berjauhan dengan Abraham (Abraham lahir kira-kira tahun 2166 SM). Ralp O.Muncaster, seorang profesor dari Vanguard University of Southern California, menjelaskan hubungan antara Ayub dan Abraham seperti ini:

Bagian-bagian pertama Alkitab mungkin dicatat sejak Abraham. Peristiwa-peristiwa Ayub diyakini terjadi sekitar masa Abraham di Mesopotamia – daerah di mana tulisan sudah berkembang dengan baik. Kampung halaman Abraham di Ur merupakan pusat pendidikan. Di Ur telah ditemukan tablet-tablet tanah liat yang mencatat berbagai kontrak, mengajarkan metode-metode dan matematika. Abraham, yang berasal dari keluarga kaya, mungkin memiliki pendidikan yang tinggi. Mungkin manuskrip-manuskrip Ayub (atau catatan-catatan lainnya) diteruskan dari Abraham ke Musa secara turun-temurun – walaupun sampai kini belum ditemukan bukti yang mendukung. Kulit binatang digunakan untuk mencatat dokumen-dokumen tertulis sejak tahun 3000 SM, sehingga ada kemungkinan bahwa Abraham memiliki dokumen-dokumen tertulis yang mudah dibawa-bawa semacam itu.[3]

Jika tulisan paling tua diperkirakan adalah tulisan Ayub,[4] maka tulisan paling muda, artinya yang paling dekat dengan tahun kita sekarang, adalah tulisan rasul Yohanes. Diperkirakan pada tahun 95 M rasul Yohanes yang sudah tua sedang ada di tempat pembuangan di pulau Patmos yang gersang. Di sanalah rasul yang menyebut dirinya sebagai murid yang dikasihi Yesus ini menerima penglihatan-penglihatan yang amat dahsyat. Penglihatan itu ditulis oleh Yohanes dan tulisan itu kemudian menjadi kitab yang sekarang kita kenal sebagai kitab Wahyu.

Dari dua data ini, yaitu tulisan yang diperkirakan paling tua dan tulisan yang paling akhir dibuat, maka kita mendapatkan rentang waktu yang tidak sedikit dalam sejarah penulisan Alkitab, yaitu antara tahun 2000 SM sampai tahun 95 M atau sama dengan 2095 tahun.

Pada umumnya, literatur Kristen mengatakan bahwa Alkitab ditulis selama rentang waktu 1500 tahun, karena patokan yang diambil adalah kitab Kejadian yang ditulis oleh Musa pada kira-kira tahun 1446 SM. Sebenarnya perbedaan ini bukanlah masalah yang serius, apakah 2000 tahun atau 1500 tahun semuanya adalah rentang waktu perkiraan yang perbedaannya masih dapat ditoleransi, tergantung dari titik mana kita mengukurnya, Kejadian atau Ayub.

Orang yang mengambil titik tolak dari kitab Kejadian mungkin dengan maksud untuk memudahkan, yaitu antara kitab paling pertama dan kitab yang paling akhir penempatannya di Alkitab, yaitu Wahyu. Meskipun demikian, yang paling penting untuk diperhatikan adalah bahwa merupakan suatu hal yang luar biasa jika di dalam rentang waktu sepanjang itu manusia bisa bekerja sama membuat suatu tulisan yang memiliki alur kisah konsisten dan berpuncak pada seseorang yang paling Agung di dunia ini yaitu Yesus Kristus.

Mungkinkah semua itu terjadi karena ada semacam konspirasi di antara umat manusia yang sepakat untuk bekerjasama dalam membuat sebuah tulisan dengan satu tema? Tidak sama sekali. Antara penulis satu dengan penulis lain dipisahkan oleh waktu, lokasi, kondisi, profesi, kebutuhan, suku dan budaya. Tidak mungkin ada suatu kesempatan di antara mereka untuk membuat kesepakatan yang demikian, dan memang faktanya tidak ada satupun indikasi dari sejarah maupun dari Alkitab sendiri bahwa para penulis ini saling bekerjasama secara sadar.

Di tinjau dari sudut waktu saja, mestinya sudah nyata bahwa kerjasama semacam itu tidak mungkin dilakukan. Bagaimana mungkin dalam rentang 15 atau 20 abad, sekelompok umat manusia (yang tidak semuanya saling mengenal secara pribadi) dapat bekerja sama begitu kompak untuk menghasilkan sebuah karya tulis yang berkesinambungan? Sementara beberapa penulis di antara mereka mungkin sama sekali tidak sadar bahwa kelak tulisannya akan menjadi salah satu dari kitab-kitab dalam Alkitab, tulisan paling berotoritas di muka bumi.

Lagipula, jangankan 15 abad, jika pada masa ini saja kita kumpulkan sekitar 40 penulis yang kita beri satu tema untuk mereka kembangkan, maka pastilah hasil tulisan ke 40 orang itu akan berbeda. Kecil sekali kemungkinan (kalau tidak mau mengatakan mustahil) bahwa hasil karya mereka memiliki sinkronisasi yang baik. Apalagi jika ke 40 penulis itu kita beri kebebasan untuk menulis apa saja sesuai cara pandang mereka, profesi mereka, kebutuhan mereka, budaya mereka dan lain sebagainya, maka mengharapkan bahwa mereka akan menulis sebuah tema yang sinkron sungguh-sungguh mustahil.

Di antara penulis itu ada Musa, seorang terpelajar yang kemudian menjadi gembala. Ia menulis di padang gurun. Lalu ada Yosua, seorang panglima militer, juga menulis di padang gurun. Lalu ada Samuel, seorang nabi. Ada penulis kitab Ruth, yang tidak diketahui dengan pasti siapa orangnya. Ada raja, yaitu Daud dan Salomo yang menulis di istana. Ada Ezra, seorang ahli kitab dan guru. Ada Yesaya, Yeremia, Yehezkiel yang merupakan nabi. Ada Nehemia, juru minum raja. Ada Amos, seorang gembala. Ada Matius, mantan pemungut cukai. Ada Lukas, seorang tabib. Ada Yohanes, Petrus dan Yakobus yang sama-sama nelayan. Ada Paulus, seorang Farisi yang pandai dan berpendidikan tinggi, dan masih banyak lagi. Beberapa penulis teridentifikasi namanya, namun beberapa tidak diketahui. Kitab Ibrani misalnya, yang sampai sekarang tidak diketahui dengan pasti siapa penulisnya.

Selain waktu penulisan yang amat panjang dan pribadi penulis yang amat beragam, bentuk atau karya tulis yang dihasilkan pun berbeda-beda. Ada tulisan yang dikategorikan sebagai kitab sejarah, tetapi ada pula yang merupakan puisi dan lagu-lagu. Ada tulisan yang merupakan biografi, namun ada pula yang berbentuk surat. Ada tulisan yang isinya penuh dengan aturan yang jelas, tapi ada pula yang isinya penuh dengan simbol-simbol. Ini semakin menunjukkan betapa rumit dan ajaibnya proses penulisan Alkitab. Sehingga jika semua itu saling berhubungan dan saling mengisi menjadi suatu mahakarya yang utuh, maka kita tidak dapat menyimpulkan sesuatu yang lain daripada suatu pengakuan bahwa ada Oknum Ilahi di balik semua penulisan tersebut.

Manusia adalah makhluk yang fana, paling tidak selama hidup di bumi ini, sehingga tidak mungkin melihat suatu mahakarya dengan rentang waktu yang demikian panjang serta dengan tingkat kerumitan yang begitu tinggi. Tetapi jika Allah yang menjadi penulis sejati di balik tangan-tangan manusia yang menulis, tentu saja hal seperti itu tidak mustahil.

Jadi, apakah Akitab hanya merupakan kumpulan buku biasa ataukah suatu karya Ilahi? Proses penulisannya yang ajaib telah memberi jawaban pada kita bahwa Alkitab adalah suatu karya Ilahi. Alkitab adalah Firman Tuhan sejati yang ditulis oleh Pribadi yang mahatahu dan kekal. Ia berkuasa untuk menuliskan semuanya itu, karena Dia adalah Pribadi yang menguasai sejarah. Puji Tuhan untuk karya-Nya yang agung luarbiasa! Renungkanlah hal ini baik-baik, sehingga kelak kita bisa menjelaskan pula dengan penuh kasih kepada mereka yang ragu-ragu.

Masih adakah bukti-bukti lainnya? Tentu, bahkan masih banyak, namun kita akan membahasnya dalam tulisan-tulisan mendatang. Tuhan memberkati. (Oleh: izar tirta)



[1] Dalam artian lain, Kejadian juga pantas disebut kitab pertama, karena di dalam kitab itulah dituliskan bagaimana segala sesuatu yang ada pertama kali diciptakan atau pertama kali bermula.
[2] Tak ada yang tahu persis dimana tepatnya lokasi tanah Uz, namun ada yang memperkirakan antara Damsyik dan sungai Efrat.
[3] Ralph O.Muncaster, Apakah Alkitab dapat dipercaya? (Batam: Gospel Press, 2002), 10.
[4] Memang ada pula perdebatan apakah kitab Ayub ditulis oleh Musa ataukah oleh Ayub sendiri, akan tetapi umumnya tradisi gereja lebih cenderung menerimanya sebagai tulisan Ayub.

Monday, April 20, 2020

Apa sajakah bentuk-bentuk dari Firman Tuhan itu?




Bentuk-bentuk Firman Tuhan
(Bagian kesatu)
Ketika Yang Mahakuasa Bersabda

Kita sudah belajar tentang betapa pentingnya Firman Tuhan bagi kita. Kita juga sudah tahu bahwa Firman Tuhan adalah kebenaran mutlak yang harus diterima oleh umat manusia. Kini kita akan memikirkan, dengan cara apa sajakah Tuhan menyampaikan Firman-Nya? Dan melalui pertanyaan ini kita masuk dalam pembicaraan tentang bentuk-bentuk Firman Tuhan (forms of the Word of God). [Baca Juga: Proses penulisan Alkitab yang ajaib. Klik disini.]



Buku "Pembuktian Atas Kebenaran Kristus"

Sejauh ini kita belum bicara tentang Alkitab. Memang Alkitab adalah Firman Tuhan. Akan tetapi keduanya dapat dibicarakan secara terpisah atau ditinjau dari sudut pandang yang berbeda. Sejauh ini yang kita bicarakan barulah tentang pengertian dari Firman Tuhan itu sendiri. Alkitab adalah hanya satu di antara beberapa bentuk dari Firman Tuhan. Seperti apakah bentuk-bentuk lain dari Firman Tuhan itu? Mari kita lihat.

Firman Tuhan dalam bentuk Pribadi Manusia
Bentuk paling dahsyat atau paling nyata atau paling jelas dari Firman Tuhan bukanlah tulisan atau kata-kata belaka, melainkan sebuah Tubuh yang nyata dari seorang Manusia yang benar-benar hidup di dunia ini. [Baca juga: Ada 8 alasan mengapa Tuhan Yesus datang menjadi Manusia. Klik disini.]

Pernah dalam hidup ini barangkali, ketika kita merasa bahwa percakapan via telepon dengan seseorang terasa belum cukup sampai kita bertemu langsung dengan orang yang bersangkutan. Melalui percakapan jarak jauh memang komunikasi antar pribadi dapat berlangsung, akan tetapi ada perbedaan kualitas antara percakapan tanpa tatap muka dengan percakapan yang melibatkan pertemuan langsung antar pribadi. Dalam penyataan Allah rupanya hal seperti inipun terjadi. Allah bisa saja tinggal diam dalam kenyamanan-Nya di sorga sambil mengkomunikasikan pikiran dan maksud-maksud-Nya pada manusia melalui kata-kata semata. Tetapi nyatanya yang terjadi tidaklah demikian. Ketika waktunya genap, Allah datang ke dunia ini untuk berhubungan langsung dengan kita. Bahkan lebih dahsyat lagi, Ia menjadi sama seperti kita dalam segala hal, kecuali bahwa Ia tidak berdosa.

Yohanes 1:14 mengatakan “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.” Kata-kata manusia tidak dapat melukiskan secara lengkap dan nyata tentang betapa agung dan mulianya fakta ini. Hanya hati yang beriman dan pikiran yang mengerti, mampu menerimanya dengan ucapan syukur. Jika Firman adalah keseluruhan ekspresi intelektual, emosi dan kehendak dari Allah Yang Mahakuasa, maka bagaimanakah bisa terjadi sesuatu yang begitu dahsyat dapat “mengkerut” menjadi bentuk yang kecil di tengah-tengah dunia yang kotor? Betapa besarnya hati dan betapa tak terselaminya jalan pikiran Allah yang telah merelakan diri untuk menjadi begitu kecil dan rapuh.

Sebagai kontrasnya, bagian lain dari Alkitab melukiskan laporan pandangan mata seorang pria yang tinggal dalam pengasingan. Pria itu menulis: “Aku melihat sorga terbuka, ada seekor kuda putih dan Ia yang menungganginya bernama “Yang Setia dan Yang Benar” Ia menghakimi dengan adil. Dan mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota dan pada-Nya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorang pun, kecuali Ia sendiri. Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah “Firman Allah.” (Wahyu 19:11-13)

Kedua bagian Alkitab itu melukiskan tentang Individu yang sama. Pada bagian yang pertama, dilukiskan bagaimana Pribadi yang besar ini telah merendahkan diri begitu dalam, sedangkan pada bagian yang kedua, dilukiskan bagaimana sebenarnya keberadaan Pribadi yang agung itu. Yesus adalah Pribadi yang identik dengan sebutan Yang Setia, Yang benar, Yang menghakimi dengan adil, Yang mata-Nya bagaikan nyala api, Yang kepala-Nya terdapat banyak mahkota, Yang memiliki sebuah nama begitu transenden, Yang jubah-Nya dibasuh oleh darah dan Yang nama-Nya adalah “Firman Allah.” Belum pernah ada manusia (dan tidak akan pernah ada) di dunia ini yang pantas menerima segala predikat yang diberikan pada Yesus. Ia adalah perwujudan nyata dari Firman Allah sendiri.

Kita sudah mengetahui bahwa Firman adalah kebenaran dan bahwa Firman adalah keseluruhan ekspresi dari pikiran (intelegensia), emosi dan kehendak Allah Yang Mahakuasa. Kita sudah mengetahui bahwa Firman adalah ekspresi atau penyataan Allah kepada manusia. Maka sekarang kita belajar lebih jauh lagi, yaitu bahwa Yesus adalah perwujudan yang paling nyata dari Firman. Sehingga apapun yang dikatakan oleh Yesus, itulah Firman Allah. Apapun yang diperbuat Yesus, maka perbuatan itu adalah kehendak Allah. Apapun yang dirasakan oleh Yesus, maka itulah perasaan emosional Allah. Apapun yang direncanakan dan dikehendaki Yesus, maka itulah kehendak Allah. Tidaklah mengherankan jika Yesus mengatakan: “Akulah kebenaran.” Tidak mengherankan pula jika Yesus berkata: “Aku dan Bapa adalah satu.”

Jadi, melalui Firman (kata-kata) Allah menyatakan diri-Nya pada kita. Melalui Yesus, Allah membuat Firman-Nya jauh lebih nyata lagi dari sekedar kata-kata. Melalui Yesus, Allah datang sendiri ke bumi ini dan menunjukkan pada kita secara nyata sekali tentang siapa diri-Nya.

Firman Tuhan dalam bentuk ucapan Allah secara langsung
Dalam menyatakan diri-Nya, Allah kerap kali mengeluarkan ucapan-ucapan atau kata-kata secara langsung. Dan ucapan Allah secara langsung ini, dapat dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu:

Ucapan yang berfungsi sebagai ketetapan (God’s decree)
Sebagai Pribadi Yang Mahakuasa, Allah dapat membuat ketetapan-ketetapan melalui kata-kata-Nya. Ia tidak membutuhkan persetujuan dari pihak manapun. Ia tidak memerlukan nasihat atau pertimbangan dari siapapun. Dalam ke-Mahatahuan-Nya yang sempurna dan ke-Mahakuasaan-Nya yang mutlak, Allah dapat mengucapkan perkataan-perkataan yang berfungsi sebagai ketetapan yang berlaku di seluruh alam semesta. Sekali ucapan dikeluarkan maka sesuatu pasti terjadi atau ada sesuai dengan apa yang diucapkan itu.

Contoh-contoh untuk Firman Tuhan yang berbentuk seperti ini banyak ditemukan dalam Alkitab, misalnya dalam kasus penciptaan. “Jadilah terang. Jadilah cakrawala” atau “Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering” dan berbagai kalimat yang diawali kata “Hendaklah..” di dalam Kejadian pasal 1 adalah contoh yang dapat kita ambil dari Perjanjian Lama. Tentu masih banyak lagi ungkapan-ungkapan sejenis ini di dalam PL. (Maukah anda juga coba mencari contoh-contoh semacam itu di dalam PL?)

Di dalam Perjanjian Baru, ungkapan semacam ini pun ada. Yesus Kristus di dalam pelayanan-Nya berulang kali mengeluarkan kata-kata yang penuh kuasa, misalnya ketika Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang lumpuh (Mrk 2:11), mengutuk pohon ara (Mrk 11:14), menghardik angin (Mrk 4:39), membangkitkan orang mati (Yoh 11:43) dan masih banyak lagi. Di dalam Ibrani 1:3 bahkan dikatakan bahwa Yesus “menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.” Ucapan Allah sebagai ketetapan (God’s decree)[1] artinya, ucapan-ucapan yang ketika dikeluarkan langsung memberi hasil persis seperti yang diucapkan itu.

Jika kita simak ucapan dalam Ibrani 1:3 di atas, dapat kita bayangkan bahwa ucapan Allah ini begitu besar kuasanya, sehingga tanpa-Nya seluruh keberadaan yang kita kenal melalui panca indera ini tidak mungkin berjalan. Yesus menopang segala yang ada dengan firman-Nya. Betapa mulianya kata-kata ini. Bayangkan, bahwa hari ini bumi masih berputar, matahari masih terbit, laut masih tetap di tempatnya, daratan masih ada, anda masih hidup, negara kita masih ada, jantung anda masih berdebar, darah masih mengalir dalam tubuh kita, makanan masih ada, minuman masih bisa diperoleh, oksigen masih bisa dihirup dengan bebas dan gratis, persekutuan masih ada, gereja masih berdiri walau ditekan sana sini, segala sesuatu masih ada sebagaimana adanya sekarang, karena apa..? Karena Yesus menopang dengan firman-Nya.

Betapa panjang sabarnya Yesus ketika melihat orang-orang mencaci maki Dia dengan mulut yang Ia ciptakan, manusia membenci Yesus dengan pikiran dan hati yang Ia buat, manusia menulis segala hal yang buruk tentang Yesus sambil menggunakan segala sumber daya yang Yesus sediakan. Oksigen yang dipakai orang-orang untuk bernapas adalah ciptaan Dia dan Dia pula yang menopang agar suplai oksigen terus ada di bumi ini. Lalu orang-orang menghirup oksigen dalam-dalam untuk mengisi paru-paru - yang juga tak dapat mereka ciptakan sendiri - untuk menghina Yesus. Betapa panjang sabarnya Dia.[2] Dan betapa menyakitkannya kenyataan ini bukan? Tetapi, itulah faktanya. Ucapan Allah adalah ketetapan dan Dia sudah menetapkan demikian. Kita harus menghormati-Nya. Kita harus percaya pada-Nya.

Karena ucapan Allah adalah kebenaran dan merupakan ketetapan bagi alam semesta ini, maka kita harus percaya pada setiap ucapan-Nya. Walaupun kadang pikiran kita ingin mengatakan hal yang lain, walaupun hati kita kadang ingin menolaknya, walaupun pengalaman hidup kita berkata sesuatu yang beda dengan apa yang dikatakan dalam Firman,[3] kita tetap harus percaya. Jika kita tetap bersikeras untuk menentang kata-kata Allah, maka yang rugi adalah diri kita sendiri. Pikiran kita, perasaan kita, pengalaman hidup kita bukanlah kebenaran mutlak dan sama sekali bukan ketetapan. Semua itu masih bisa berubah. Hanya ucapan Allah yang benar secara mutlak. Hanya ucapan Allah yang dapat menjadi ketetapan.

Kita akan melihat lebih jauh lagi bentuk-bentuk Firman Tuhan dalam tulisan mendatang. Semoga melalui tulisan ini, cinta anda pada Firman Tuhan dan pada Pribadi Yesus semakin bertumbuh. Tuhan memberkati.

Pertanyaan untuk direnungkan:
Jika Yesus Kristus adalah Firman Tuhan. Dan jika Firman Tuhan adalah kebenaran mutlak. Maka apa pendapat anda terhadap situasi dunia yang semakin bebas berbicara tentang hal-hal yang buruk tentang Yesus Kristus? Bagaimana perasaan anda hidup di tengah situasi dunia sekarang ini sebagai orang yang percaya bahwa Yesus Kristus adalah Firman Tuhan yang benar secara mutlak? Sebenarnya, apakah anda sungguh-sungguh percaya bahwa Yesus memang adalah kebenaran mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar lagi? Ataukah anda merasa bahwa sebaiknya kita sebagai orang Kristen belajar untuk sedikit toleran dan merangkul gagasan dari kepercayaan lain, karena pada dasarnya semua kepercayaan adalah baik dan mengajarkan kebaikan?

Bentuk-bentuk Firman Tuhan
(Bagian kedua)
Ucapan Allah secara langsung

Pada bagian sebelumnya kita telah belajar beberapa bentuk dari Firman Tuhan yaitu:
1. Firman Tuhan dalam bentuk Pribadi Manusia
2. Firman Tuhan dalam bentuk ucapan Allah secara langsung, yang dibagi lagi menjadi:
- Ucapan yang berfungsi sebagai ketetapan (God’s decree)

Pada tulisan ini kita akan melihat kategori lain dari Firman Tuhan dalam bentuk ucapan Allah secara langsung, yaitu:

Ucapan yang ditujukan kepada pribadi tertentu
Dalam Perjanjian Lama kita berulang kali membaca peristiwa-peristiwa di mana Allah berbicara secara langsung kepada pribadi tertentu. Pada zaman itu, ketika Alkitab yang kita kenal sekarang belum semua tertulis secara lengkap, Allah memang kerap kali berbicara secara langsung kepada mansia. Melalui pembicaraan secara langsung inilah, manusia dapat mengenal jalan pikiran Allah, merasakan apa yang dirasakan oleh Allah dan mengetahui apa yang dikehendaki oleh Allah (masih ingat kan arti dari Firman?). Melalui perbincangan tersebut, manusia mulai belajar mengenal jati diri Allah. Sungguh bersahabat sikap Allah pada kita bukan? Ia sudi berbincang-bincang pada manusia yang seharusnya dimurkai oleh karena dosa-dosanya itu. Tetapi itulah Allah. Bukan saja perbincangan itu telah terjadi di antara Allah dan manusia, tetapi juga penting untuk kita ingat bahwa inisiatif untuk memulai pembicaraan selalu datang dari Allah.

Di taman Eden, ketika segala sesuatu masih murni tak tercemar oleh dosa, Allah berbicara dengan Adam, manusia pertama (Kej 2:16). Setelah Hawa tercipta, Allah juga berbicara dengan mereka berdua (Kej 1:28). Lalu ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Allah juga tidak berhenti untuk berbicara dengan manusia. Peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa ini rupanya telah mengubah hubungan akrab yang sudah terjalin antara manusia dan Allah sebelumnya. Dosa membuat manusia takut untuk berhubungan dengan Tuhan (Kej 3:8). Syukurlah, Allah tetap sudi untuk berhubungan dengan manusia. Ia memanggil mereka yang telah jatuh ke dalam dosa itu. Sampai sekarang pun Allah tetap memanggil orang-orang berdosa untuk berbincang-bincang dengan diri-Nya.

Sejarah hubungan Allah dengan manusia yang tercatat dalam Perjanjian Lama memperlihatkan banyak contoh dimana Allah memanggil manusia dan berbicara dengan mereka. Allah memanggil Kain, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf,  Musa, Yosua, para Hakim, Daud, Salomo, Yesaya, Yeremia dan masih banyak lagi. Allah kita adalah Allah yang senantiasa berinisiatif untuk berbicara pada manusia. Adakalanya Ia berbicara untuk memberi petunjuk, adakalanya untuk memberi janji, pada suatu kesempatan Ia berbicara untuk memberi berkat, pada kesempatan lain Ia menghukum. Dari tahun ke tahun, dari generasi satu ke generasi lainnya, Allah terus berbicara pada pribadi-pribadi tertentu di dalam sejarah manusia. Melalui komunikasi inilah manusia mulai belajar mengenal Allah. Dan di dalam berbagai peristiwa dimana Allah berbicara, para pendengarnya tidak memiliki keraguan sedikitpun bahwa suara yang ia dengar adalah suara Allah. Meskipun demikian suara yang didengar itu bukanlah suara aneh yang asing bagi telinga manusia, melainkan suara yang dapat dimengerti. Artinya, Allah berbicara pada manusia dengan menggunakan bahasa manusia.

Jadi jika kini ada anggapan bahwa Allah adalah Pribadi yang diam, maka anggapan itu tentu tidak dapat dikatakan benar. Sebab sejarah mencatat bahwa Allah telah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara pada manusia (Ibrani 1:1). Jika manusia tidak dapat mendengar Allah berbicara di masa kini, maka mungkin sekali hal itu disebabkan karena manusia yang tidak mau mendengar Dia. Manusia memilih untuk hanya mendengar apa yang ingin mereka dengar. Termasuk dalam hal mendengar suara Allah, manusia hanya ingin mendengar segala sesuatu yang enak di dengar dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Padahal Allah tidak dapat diperlakukan seperti itu. Ia adalah Pribadi yang Mahakuasa, di hadapan Dia apapun yang kita miliki tidak ada artinya. Kita tidak dapat memerintah Allah untuk menceritakan segala ‘dongeng’ yang enak ditelinga dan menyenangkan hati. Kita juga tidak dapat memaksa Allah untuk bertanggungjawab atas segala kondisi tidak menyenangkan yang kita alami. Singkatnya, bukan kita yang memutuskan untuk mendengar apa yang kita mau, tetapi Allah-lah yang memutuskan untuk mengatakan apa yang Dia mau.

Allah adalah Pribadi yang ber-Firman dan dalam kehidupan setiap manusia Allah senantiasa berbicara, tetapi seringkali manusia tidak suka dengan cara Allah berbicara, atau manusia terlalu sibuk dengan pelbagai hal sehingga tidak ada waktu untuk mendengar suara Allah. Akhirnya, karena merasa tidak pernah mendengar suara Allah, manusia menyimpulkan bahwa Allah tidak peduli lagi. Bahkan lebih parah lagi, Allah dianggap sudah mati dan tidak dibutuhkan lagi. Manusia modern zaman sekarang telah belajar di dalam kekerasan hatinya untuk mengatasi hidup ini dengan caranya sendiri. Perlahan-lahan dunia mulai tidak peduli lagi pada suara Allah. Padahal, jika kita me-refresh memory kita pada tulisan terdahulu yang mengatakan bahwa Firman Tuhan adalah hidup manusia, maka betapa menakutkannya kondisi dunia yang tidak mau mendengar Allah? Dunia ini sepertinya hidup, bahkan seakan bertambah maju. Tetapi di dalam hidup dan kemajuan yang semu itu, dunia telah mati dan sedang menuju pada kebinasaan kekal.

Meskipun demikian, Allah tidak berubah, Ia tetap Allah yang berbicara pada pribadi-pribadi di dunia ini. Selama dunia ini masih ada, masih ada kesempatan untuk membuka hati dan pikiran pada Firman Tuhan, namun karena tidak seorangpun yang tahu kapan hidupnya akan berakhir, maka sudah sepatutnya setiap pribadi mulai sekarang belajar mencari suara Tuhan, Pribadi Agung yang ber-Firman itu.

Pada zaman dahulu, setiap pribadi yang diajak berbicara oleh Allah seringkali menemukan bahwa mereka tidak selalu berhasil menangkap maksud Allah itu. Dibutuhkan waktu dan terutama ketaatan di dalam mendengar Dia. Hal semacam inipun berlaku bagi kita. Oleh karena itu, janganlah kita pernah merasa sudah cukup mendengar sehingga tidak mau mendengar lagi. Janganlah kita merasa cukup hanya mendengar, sehingga tidak ada dorongan untuk taat pada apa yang telah kita dengar dari Tuhan. Dengarlah terus, berulang-ulang. Taatilah terus, berulang-ulang.

Ucapan yang disampaikan melalui pribadi tertentu
Bentuk Firman Tuhan semacam ini, hampir sama dengan bentuk yang baru saja disebutkan di atas. Hanya saja dalam bentuk ini, Tuhan memakai perantara dalam berbicara. Perantara itu dapat berupa manusia, malaikat, atau bahkan seekor binatang.

Manusia yang dipakai sebagai perantara ini pun beraneka ragam, namun pada umumnya di zaman Perjanjian Lama mereka disebut sebagai nabi. Sedangkan di dalam Perjanjian Baru orang-orang yang dipakai sebagai perantara itu umumnya disebut sebagai rasul. Nabi dan rasul adalah orang-orang yang secara langsung menerima Firman dari Allah untuk disampaikan pada orang lain. Jadi dalam bagian sebelumnya, Firman Tuhan yang diterima oleh pribadi-pribadi tertentu itu ditujukan bagi pribadi yang menerima. Sedangkan dalam bagian ini, Firman Tuhan yang diterima itu bukan semata-mata untuk dirinya melainkan memang ada perintah dari Allah untuk menyampaikan Firman itu pada orang lain.

Ulangan 18:18-19 mencatat kata-kata Allah yang disampaikan melalui Musa: “Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka. Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, daripadanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.”

Dari ayat Alkitab ini, kita melihat bahwa Tuhan-lah yang memilih dan mengangkat orang-orang yang menjadi perantara ucapan Allah, atau yang disebut juga nabi pada masa Pernjanjian Lama. Oleh karena itu, pada masa sekarang tidak boleh ada seorang manusia yang sembarangan menganggap dirinya sebagai nabi, karena nabi adalah pilihan Allah sendiri dan nabi bertugas untuk menyampaikan kata-kata Allah. Antara kata-kata Allah yang disampaikan pada nabi dan kata-kata yang disampaikan pada pendengar tidak boleh ada perbedaan. Oleh karena itu, nabi harus mengerti apa yang dikatakan oleh Allah dan setia dalam mewartakan kata-kata itu pada orang lain.

Di sisi lain, orang yang mendengar perkataan-perkataan nabi juga memiliki tanggungjawab, yaitu mendengarkan[4] kata-kata itu. Orang lain yang menjadi pendengar tidak boleh menganggap sepi kata-kata para nabi, karena perkataan itu bukanlah perkataan manusia melainkan perkataan Allah. Jika pendengar tidak percaya pada apa yang dikatakan nabi, maka nabinya tidak dipersalahkan melainkan Allah akan menuntut tanggungjawab pada para pendengar yang tidak percaya itu.

Betapa luar biasa dan menakutkannya peran nabi itu. Luar biasa karena kata-kata yang ia ucapkan identik dengan kata-kata Allah. Menakutkan karena jika ia keliru menyampaikan apa yang Allah mau atau terlalu berani mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan Allah maka ia pun akan dituntut untuk bertanggungjawab kepada Allah. Ulangan 18:20 berbunyi: “Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati.”

Betapa seriusnya Firman Allah. Betapa berbahayanya jika kita manusia memandang Firman dengan sikap yang tidak hormat. Firman identik dengan Pribadi Allah. Firman berkuasa untuk mencipta dan menopang alam semesta beserta segala sesuatu yang ada di dalamnya. Pendengar Firman tidak boleh menyepelekan isi Firman, karena akan dimintai tanggungjawab oleh Allah. Pembawa Firman pun tidak dapat sembarangan, karena Tuhan pun akan memintai tanggungjawab darinya.

Dewasa ini, sikap hormat manusia pada Firman Tuhan sudah semakin luntur. Jangankan orang tidak percaya, orang yang mengaku percaya pun kurang dalam memperlakukan Firman sebagaimana mestinya. Kita orang percaya tidak luput dari kesalahan jika kita malas mempelajari Firman, menafsirkan Firman dengan sembarangan atau pun berkata-kata dengan mengatasnamakan Allah padahal tidak sesuai dengan ajaran Firman. Dewasa ini, orang percaya dapat membangun teologi secara sembarangan tanpa dasar yang kokoh dari Firman Allah. Fondasi mereka hanya dibangun di atas rasa nyaman, kebudayaan dan kebiasaan sehari-hari serta pengalaman-pengalaman pribadi yang belum teruji oleh doktrin Alkitab yang benar. Ini sangat berbahaya, tetapi inilah yang sering terjadi.[5]

Pada tulisan mendatang kita akan melanjutkan pembahasan ini dan melihat bentuk-bentuk lain dari Firman Tuhan. Semuanya ini dituliskan agar kita semakin diperkaya akan pemahaman terhadap Firman Tuhan, sehingga dengan demikian akan muncul sikap hormat dan cinta pada Firman itu sendiri. Tuhan memberkati.

Pertanyaan untuk direnungkan: Setelah melihat bagaimana Allah begitu berupaya untuk menyatakan diri-Nya melalui berbagai bentuk Firman, kesimpulan apa yang dapat anda tarik sehubungan dengan karakter Allah? Hal-hal apakah menurut anda yang kiranya dapat menyenangkan hati Allah yang memiliki karakter seperti itu?


Bentuk-bentuk Firman Tuhan
(Bagian ketiga)
Alkitab: Firman Tuhan dalam rupa aksara

Kita sudah mempelajari beberapa bentuk dari Firman Tuhan, yaitu:
  1. Firman Tuhan dalam bentuk Pribadi Manusia
  2. Firman Tuhan dalam bentuk ucapan Allah secara langsung, yang dibagi lagi menjadi:
-          Ucapan yang berfungsi sebagai ketetapan (God’s decree)
-          Ucapan yang ditujukan kepada pribadi tertentu
-          Ucapan yang disampaikan melalui pribadi tertentu

Pada tulisan ini kita akan mempelajari bentuk Firman Tuhan yang terakhir yaitu bentuk tulisan dan biasa kita kenal sebagai Alkitab.

Sekalipun bentuk yang paling akhir dibicarakan, bukan berarti bentuk ini paling tidak berarti. Kita bahkan tidak mungkin dapat mengetahui dengan lengkap dan benar semua bentuk-bentuk lain dari Firman Tuhan jika tidak ada Firman Tuhan dalam bentuk tulisan. Darimana kita tahu bahwa zaman dahulu ada Yesus Kristus? Darimana kita tahu bahwa Allah suka berbicara pada manusia? Darimana kita tahu bahwa Allah senantiasa setia memegang janji-Nya? Jawabannya adalah dari Alkitab. Itu sebabnya Alkitab sangat penting dan menjadi satu-satunya sumber berotoritas yang kita miliki saat ini untuk mengenal Allah.

Ada tiga pandangan terhadap Alkitab yaitu:
  1. Alkitab berisi Firman Tuhan
  2. Alkitab menjadi Firman Tuhan
  3. Alkitab adalah Firman Tuhan
Tiga pandangan ini sepertinya mirip satu sama lain, namun sesungguhnya amat berbeda (Pada dasarnya, sesuatu yang mirip memang pada hakekatnya tidak sama).

Pandangan yang pertama mengandung pengertian bahwa di dalam Alkitab terdapat (berisi) Firman Tuhan. Sepintas pandangan ini sepertinya benar, akan tetapi jika kita telusuri lebih dalam, pandangan ini sebenarnya keliru. Mengapa? Sebab orang yang mempunyai pandangan seperti ini mengatakan bahwa ada bagian-bagian tertentu dari Alkitab yang bukan Firman Tuhan. Pada bagian-bagian dimana jelas tertera kata-kata: “Lalu Allah berfirman pada ….,” mereka akui sebagai Firman Tuhan.[6] Tetapi pada bagian-bagian dimana tidak jelas ada kata-kata Tuhan,[7] atau pada bagian dimana jelas sekali yang berkata-kata adalah manusia,[8] atau bahkan iblis[9], maka mereka tidak akui itu sebagai Firman Tuhan. Apalagi jika mereka menemukan bagian-bagian dimana secara manusiawi kita baca jelas sekali sebagai tulisan manusia, misalnya pada surat-surat Paulus atau tulisan Lukas maka bagian-bagian tersebut tidak diakui sebagai Firman Tuhan. Bahkan kelompok tertentu mulai mempertanyakan apakah bagian-bagian tertentu yang berisi ucapan Yesus adalah benar-benar ucapan Yesus ataukah itu hanya karangan si penulis saja?[10] Tentu saja ini tidak benar. Kita tidak memandang Alkitab dengan cara seperti ini.

Pandangan yang kedua mengandung pengertian bahwa Alkitab baru menjadi Firman Tuhan jika ayat-ayat yang kita baca itu mengena secara pribadi pada diri kita. Dalam bahasa yang cukup populer dikalangan gereja tertentu, dikatakan bahwa “Firman Tuhan ini menjadi rhema[11] dalam hidupku.” Pandangan ini sepertinya benar dan terdengar rohani, tetapi sayangnya pandangan ini juga mengandung suatu bahaya.

Alkitab adalah Firman Tuhan, terlepas dari apakah kita berhasil menangkap suatu gagasan yang ada di dalamnya atau tidak. Ketika kita katakan Alkitab adalah Firman Tuhan, maka kebenaran yang terkandung di dalam kata-kata itu adalah kebenaran objektif, artinya tidak tergantung pada penilaian manusia.

Jika suatu saat anda membaca suatu bagian dari Alkitab dan anda merasa ditegur secara langsung melalui ayat itu, anda dapat berkata (secara praktis): “Firman Tuhan telah berbicara padaku.” Akan tetapi bukan berarti bahwa ketika bagian-bagian tertentu dari Alkitab yang anda baca sepertinya tidak sesuai dengan kebutuhan atau problem anda saat itu, maka anda boleh berkata: “Wah ini bukan Firman Tuhan.” Ini tidak boleh terjadi demikian.

Apakah anda mengerti suatu bagian yang dibaca dari Alkitab atau tidak. Apakah anda menerima gagasan yang terkandung di dalamnya atau tidak. Apakah anda percaya atau tidak. Apakah bagian itu sesuai dengan kebutuhan saat ini secara praktis atau tidak. ALKITAB ADALAH FIRMAN TUHAN. Dan FIRMAN TUHAN ADALAH KEBENARAN. Oleh karena itu, Alkitab pun adalah kebenaran. Ini adalah kebenaran objektif yang tidak tergantung pada pendapat manusia.

Apakah anda ingat peristiwa ketika anda membaca bagian-bagian tertentu dari Alkitab yang anda tidak mengerti apa artinya atau apa kegunaan praktisnya? Cobalah baca silsilah Yesus Kristus misalnya, dan renungkan kebutuhan praktis apa yang dapat terpenuhi bagi hidup anda saat ini dari kalimat-kalimat seperti si A memperanakkan si B, lalu si B beranak si C dan seterusnya?? Mungkin tidak ada, atau paling tidak karena hal-hal seperti itu membutuhkan penggalian yang dalam dan serius, maka dampak kegunaan langsungnya tidak mudah atau tidak segera dapat ditemukan. Tetapi apakah hal ini boleh dijadikan alasan bahwa bagian yang membeberkan silsilah itu bukan Firman Tuhan? TENTU TIDAK BOLEH.

Cobalah baca Imamat 11:2-47 dan renungkan apa yang harus kita lakukan secara praktis saat ini sehubungan dengan teks itu? Cobalah baca bagian di mana Yudas menggantung diri, lalu pikirkan apakah ada semacam rhema dari teks itu bagi hidup anda saat ini?? Alkitab adalah Firman Tuhan, jangan kita membatasi Alkitab hanya ketika kata-kata yang terkandung di dalamnya menjadi rhema (yaitu hanya ketika Alkitab berbicara secara langsung dan praktis) bagi kita saja. Cara-cara yang subjektif semacam itu harus kita tinggalkan dan mulailah dengan upaya-upaya penggalian Alkitab yang lebih serius dan bertanggung jawab.

Bagian-bagian yang belum kita mengerti dari Alkitab adalah juga Firman Tuhan, tanggung jawab kitalah untuk mempelajarinya dan mengaplikasikannya dalam hidup kita. Memang di dalam Alkitab ada bagian-bagian yang secara langsung dapat diaplikasikan secara praktis misalnya “jangan membunuh,” “kasihilah sesamamu,” “ampuni yang bersalah” atau “beritakanlah injil” dan lain sebagainya. Tetapi Alkitab tidak melulu berisi perintah-perintah yang demikian. Alkitab adalah suatu kisah yang Tuhan torehkan di dalam sejarah. Kisah mana jika kita gali dan renungkan dalam-dalam dapat membuat hati kita bergolak dalam cinta dan syukur yang tidak habis-habisnya terhadap Tuhan. Kisah mana yang jika kita mengerti konteks dan kegunaannya dapat menjadi pengajaran yang berguna untuk lebih mengenal Pribadi Allah, berguna untuk membentuk karakter kita dan berguna untuk menunjukkan pada kita jalan keselamatan satu-satunya.

Di sisi lain, tentu tidak dapat pula kita katakan bahwa Alkitab sebagai Firman Tuhan hanya berguna bagi mereka yang punya kesempatan untuk mempelajarinya. Bagaimana dengan orang-orang percaya yang keburu meninggal tanpa sempat belajar atau tidak mampu belajar karena cacat atau keterbatasan intelektual? Apakah mereka juga dituntut tanggung jawab semacam itu? Kita berhubungan dengan Allah yang Mahaadil dan Mahatahu, kepada siapa Ia memberi banyak (entah waktu, entah kemampuan) Ia akan menuntut banyak. Dan Ia tahu siapa-siapa yang akan dituntut dan siapa-siapa yang tidak. Dari pihak kita yang penting adalah selama kita masih hidup dan memiliki kemampuan untuk mempelajari maka kita bertanggungjawab untuk melakukannya. Jangan melihat apa yang orang lain mampu atau tidak mampu lakukan. Tetapi fokuslah pada apa yang menjadi tanggungjawab kita dan kita mampu untuk melakukannya. Tuhan tahu siapa yang sungguh-sungguh dan siapa yang karena malas atau enggan lalu berusaha berlindung di balik alasan “aku tidak punya waktu” atau “aku tidak mampu.”

Kita sudah cukup banyak berbicara tentang dua pandangan yang keliru terhadap Alkitab sebagai Firman Tuhan. Melalui pembahasan tersebut dengan sendirinya dapat disimpulkan bahwa pandangan ketiga-lah yang harus kita pegang, yaitu bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan. Masalahnya sekarang, darimana kita tahu pasti bahwa Alkitab memang adalah Firman Tuhan? Bukti-bukti apakah, jika ada, yang dapat menguatkan pandangan tersebut? Kita akan membahas itu dalam tulisan berikutnya.

Semoga melalui tulisan ini, kita bisa mengevaluasi diri kita masing-masing dalam cara kita memandang Firman Tuhan. Jika keliru, perbaikilah. Jika sudah benar, puji Tuhan pertahankanlah dan kembangkanlah sampai kepada tahap anda bisa menguatkan (atau mengajarkan) orang lain pula melalui pandangan tersebut. Tuhan memberkati.




[1] Kata “decree” yang dipakai ini sama dengan kata “dekrit” dalam “Dekrit Presiden” misalnya. Jadi God’s decree, dalam artian untuk membandingkan, boleh juga diterjemahkan menjadi “Dekrit Allah.” Sehingga kalau kita bisa membayangkan apa itu Dekrit Presiden, kita juga kurang lebih dapat membayangkan apa arti dari “God’s decree.”
[2] Sebenarnya terlalu gampang bagi Yesus untuk menghancurkan dunia yang berdosa ini dalam sekejap. Namun dalam bijaksana Ilahi-Nya yang tidak mungkin kita selami, Ia membiarkan segala sesuatu masih terjadi seperti sekarang. Jadi kalau sekarang anda melihat orang semacam Dan Brown misalnya berani menulis penghinaan pada Yesus, atau orang-orang lain yang tidak percaya pada Yesus begitu berapi-api untuk menekan orang-orang percaya dan mengatakan kebohongan tentang Yesus, janganlah kita terguncang di dalam iman kita. Ucapan atau Firman Yesus adalah ketetapan bagi alam semesta ini, mereka yang membenci Dia sama sekali bukan lawan tanding yang sepadan dengan-Nya. Yesus hanya sedang membiarkan semua ini terjadi sesuai maksud dan rencana-Nya yang belum dapat kita pahami. Dia tidak mungkin kalah oleh kekuatan dunia macam apapun. Bahkan tanpa Dia, dunia ini tidak mungkin ada.
[3] Pernah suatu kali saya menyampaikan berita Injil pada seseorang yang percaya pada Reinkarnasi. Ketika pembicaraan sampai pada ayat yang berbicara tentang “manusia mati hanya satu kali sesudah itu dihakimi (Ibrani 9:27),” orang ini lantas mendebat dengan pengalaman hidupnya yang ia tafsirkan sebagai fakta-fakta dari kebenaran Reinkarnasi. Sampai hari ini, orang tersebut belum mau percaya pada Yesus.
[4] Saya membedakan antara kata: “mendengar” dan “mendengarkan” (antara hear & listen dalam bahasa Inggris). Mendengar berarti telinga kita menangkap suatu bunyi. Mendengarkan berarti bukan saja telinga menangkap suatu bunyi, tetapi juga hati & pikiran kita menangkap gagasan dari bunyi itu, mempercayai gagasan itu & melakukan apa yang dipercayai tersebut.
[5] Pada kesempatan lain jika memungkinkan, kita dapat membahas pokok pikiran ini, asal mulanya serta contoh-contohnya.
[6] Contohnya pada Kej 46:2; Kel 6:1; Kel 12:1; Yos 1:1; Yes 38:4; Kis 18:9 dan masih banyak lagi.
[7] Misalnya pada kitab Esther dimana tidak ada satu pun sebutan untuk Tuhan.
[8] Misalnya pada kitab Mazmur atau pun Kidung Agung yang merupakan ungkapan-ungkapan hati dan jiwa manusia. Bahkan kitab Kidung Agung tidak jarang menjadi kitab yang agak dipergunjingkan sehubungan dengan ungkapan-ungkapan yang eksplisit mengenai tubuh wanita. (Tidak heran kitab ini paling jarang dijadikan tema khotbah di gereja-gereja)
[9] Misalnya pada Matius 4:5,6;  Lukas 8:28 dan lain-lain.
[10] Kalangan Liberal mengatakan bahwa Yohanes 3:16 bukanlah asli kata-kata Yesus, melainkan pemikiran Yohanes yang ditambahkan ke dalam dialog Yesus dan Nikodemus.
[11] Rhema berasal dari bahasa Yunani yang artinya berbicara. Rhema dan Logos mempunyai pengertian yang hampir sama, bahkan penggunaannya di Alkitab seperti dapat di tukar-tukar dan dalam bahasa Indonesia keduanya diterjemahkan sebagai firman. Akan tetapi, dalam penggunaan sehari-hari, kata Rhema lebih sering dipakai oleh kalangan kristen tertentu dan dimengerti sebagai: “Suara Roh Kudus yang berbicara pada orang percaya saat ini.”  Kalangan yang memakai istilah ini justru memberi penekanan yang terlalu besar pada suara-suara demikian sehingga setiap orang seakan bisa mengatakan bahwa Roh Kudus telah berbicara pada dirinya. Sebagai manusia kita memang tidak bisa dan tidak boleh membatasi cara Allah berbicara. Akan tetapi, dengan adanya Alkitab, maka perhatian kita terhadap suara Allah haruslah dititikberatkan pada Alkitab daripada pengalaman-pengalaman pribadi ketika menerima suara Roh Kudus. Lagipula kita harus bertanggungjawab untuk menguji “suara-suara itu” dengan membandingkannya pada ajaran Alkitab. Jika suara itu beda dengan Alkitab, maka itu pasti suara setan, karena Roh Kudus tidak mungkin bertentangan dengan Alkitab. Jika suara itu sama dengan Alkitab, maka mengapa kita harus menganggap bahwa suara itu lebih berotoritas dari Alkitab, atau bahkan mengapa Roh Kudus harus berbicara secara langsung demikian sementara hal-hal itu sudah diatur di dalam Alkitab? Roh Kudus tentu tidak ingin mendorong orang Kristen untuk bertambah malas dalam menggali Alkitab bukan? Itu sebabnya, saya kira, mengapa gereja-gereja yang setia pada penggalian dan pemberitaan Firman,  tidak memberi penekanan pada suara-suara semacam ini, melainkan menitikberatkan pada penggalian suara Tuhan melalui Alkitab.