Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Tuesday, May 24, 2022

Pemeliharaan Tuhan yang ajaib terhadap Kitab Suci-Nya

Bukti-bukti Eksternal Ke-Ilahi-an Alkitab
Serie tulisan: Bukti Alkitab adalah Firman Tuhan

 

Meskipun Alkitab adalah Firman Tuhan, bukan berarti semua manusia pasti senang akan keberadaannya. Tidak sedikit upaya-upaya yang dilakukan manusia untuk melenyapkan Alkitab. Dan tidak jarang pula kita mendengar kisah tentang kaisar-kaisar Romawi yang menangkapi orang-orang Kristen dan membunuh mereka secara kejam. Dan bersamaan dengan pembantaian itu, Alkitab - yaitu tulisan-tulisan yang dianggap berotoritas dan sangat berharga bagi orang Kristen - juga ikut disita serta dimusnahkan.

Kaisar yang terkenal paling berapi-api dalam memusuhi kekristenan adalah Gaius Aurelius Valerius Diocletianus atau yang biasa dikenal sebagai kaisar Diocletian (245–312 M). Semasa Diocletian menjadi kaisar (284–305 M), ia melakukan segala sesuatu yang ada dalam kekuasaannya untuk menbinasakan iman Kristen melalui pembakaran orang Kristen maupun pemusnahan Alkitab. Pada tahun 303 M ia mengeluarkan perintah resmi di seluruh kekaisarannya agar orang Kristen dibunuh dan Alkitab dibakar.

Profesor Greenslade, editor buku Cambridge History of the Bible, menulis tentang pengumuman resmi Diocletian demikian: “Sepucuk surat kerajaan diumumkan di mana-mana, memerintahkan penghancuran gereja-gereja sampai rata dengan tanah dan pemusnahan Kitab Suci dengan api, serta mengumumkan bahwa mereka yang mempunyai kedudukan tinggi akan kehilangan semua hak mereka sebagai penduduk, sedangkan mereka yang bekerja di dalam rumah tangga, jika mereka meneruskan status mereka sebagai orang Kristen, maka mereka akan kehilangan kebebasannya.”[1]

Pada masa itu, menjadi orang Kristen dan memiliki Alkitab sungguh harus dibayar dengan harga yang sangat mahal.

Pada sekitar tahun 312 Masehi, kaisar Constantine dikabarkan menjadi orang yang memeluk agama Kristen. Dan seiring dengan masuknya kaisar Constantine ke dalam lingkungan Kristen, masuk pula orang-orang Kristen tanpa pertobatan ke dalam gereja. Mengapa bisa demikian? Karena kaisar menetapkan kepercayaan orang Kristen itu menjadi agama negara. Akibatnya, banyak orang yang otomatis menjadi Kristen di dalam kekaisaran tersebut. Dalam waktu singkat sejumlah besar manusia berubah statusnya menjadi orang Kristen.

Agak lucu dan ironis juga, jika pada masa-masa kaisar sebelumnya, orang takut menjadi Kristen. Kini justru orang khawatir jika tidak menjadi Kristen. Sepintas hal ini terkesan membesarkan hati, namun sesungguhnya kenyataan ini lebih membawa dampak buruk daripada baik. Mengapa? Sebab pada waktu itu banyak orang yang mengaku Kristen namun sebenarnya tidak benar-benar mengerti apa yang dimaksud dengan iman Kristen.

Tanpa iman yang dibangun oleh pengertian yang benar dari Alkitab, akhirnya orang-orang Kristen itu melakukan banyak kompromi terhadap dosa di dalam kehidupannya sehari-hari. Jangankan menjalani kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah, mereka bahkan tidak mempercayai Alkitab sebagai Firman Tuhan. Atau mungkin alam bawah sadar mereka percaya, namun mereka tidak pernah secara sadar mau menggubrisnya.

Abad-abad selanjutnya memperlihatkan semakin buruknya keberadaan orang Kristen yang tidak mengenal Kitab Suci, karena justru dari kalangan orang Kristen semacam inilah kemudian keluar hukum-hukum yang melarang orang-orang Kristen awam memiliki Alkitab. Gereja, anehnya, mengawasi secara ketat, mencari dan menghukum orang-orang yang menyimpang dari peraturan-peraturan agama yang telah ditetapkan itu. Gereja bahkan menghukum secara kejam siapa saja yang kedapatan memiliki Kitab Suci.

Pada era kegelapan gereja yang memakan waktu sekitar 1000 tahun itu, imam-imam pun tidak mampu membaca naskah Alkitab dalam bahasa Latin, apalagi orang awam. Isi Alkitab sangat asing bagi masyarakat dan tidak terjangkau oleh siapapun, terkubur dalam-dalam oleh ketidakpedulian manusia.

Sebagai akibat dari ketidaktahuan (dan ketidak-mau-tahuan) ini, orang-orang yang mengaku Kristen tidak tahu lagi ajaran-ajaran apa yang terdapat dalam Kitab Suci. Mereka akhirnya membangun ajaran sendiri berdasarkan hikmat manusia yang berdosa. Konon sampai dengan tahun 1870, memiliki Alkitab tetap ilegal di Italia. Sungguh dalam dan mengherankan ketidaksukaan manusia pada Kitab Suci, bukan?

Baru pada era Martin Luther dengan gerakan Reformasi-nya, manusia diajak untuk kembali pada kebenaran Kitab Suci, melalui salah satu slogan terkenalnya Sola Scriptura. Berkat upaya pengajaran Alkitabiah inilah, manusia mulai mengenal kembali Allah sebagaimana yang diberitakan dalam Alkitab. Manusia juga mulai mengenal siapa dirinya, apa peranannya di dalam alam semesta, kemana tujuan akhir manusia dan lain sebagainya.

Namun pada sekitar abad 18–19 M, dengan adanya kemajuan teknologi, manusia mulai kembali mempertanyakan Alkitab. Perubahan situasi ini sungguh amat disayangkan, karena sesungguhnya teknologi berhutang banyak sekali pada Alkitab. Berkat Alkitab-lah, manusia dapat dikatakan mulai melek teknologi. Sebelum kebenaran Alkitab dieskplorasi pada era Reformasi, kebanyakan masyarakat hidup dalam kebodohan dan dihantui oleh berbagai takhayul.

Adalah Charles Darwin dengan teori Evolusinya, yang telah memicu sebuah gelombang besar atheisme di antara umat manusia. Dan Alkitab lagi-lagi harus jadi sasaran, menderita, dicemooh, dibakar, diragu-ragukan, atau paling sedikit tidak diperdulikan lagi.

Pada era itu pula muncullah François-Marie Arouet atau yang oleh kalangan para penulis masa itu dikenal sebagai Voltaire (21 Nov 1694 – 30 May 1778). Ia seorang penulis esai dari kalangan cendekiawan dan memiliki pandangan filosofis deisme. Sebenarnya ia adalah seorang penulis berbakat yang dikagumi pada zamannya, namun ia memakai bakat dan kemampuannya itu justru untuk melawan Alkitab.

Menurut Voltaire, Alkitab adalah tulisan manusia yang secara sengaja menciptakan figur Allah untuk disembah. Voltaire tidak percaya bahwa Allah benar-benar ada, dan menurutnya Yesus tidak lebih dari tokoh khayalan belaka. Voltaire memang dikenal sebagai orang yang sangat membenci Alkitab.

Akan tetapi, ada suatu kisah yang patut menjadi perenungan kita sehubungan dengan Voltaire si pembenci Alkitab ini. Konon di gedung perpustakaan miliknya, Voltaire pernah mengumumkan:

“Aku benci Alkitab! Saya akan menjelajah hutan Kitab Suci dan mengikat semua pohon-pohonnya, supaya dalam waktu seratus tahun Alkitab akan dilupakan dan dihapuskan. Serta kekristenan akan menjadi sekedar suatu memori yang menguap lenyap. Dengan tanganku sendiri, akan kuhancurkan ajaran dari dua belas rasul itu!”

Namun, apa yang terjadi? Segera setelah Voltaire meninggal, gedung perpustakaan itu dibeli oleh The Geneva Bible Society dan dipakai sebagai tempat mencetak Alkitab. Sungguh ironis bukan? Tempat di mana diumumkan bahwa Alkitab akan lenyap, justru menjadi tempat di mana Alkitab diperbanyak.

Sebuah buku karya Herbert Lockyer mencatat kesaksian dari seorang perawat dan seorang dokter yang hadir pada saat Voltaire akan meninggal. Perawat itu begitu ketakutan melihat Voltaire di akhir hayatnya berteriak-teriak pada si dokter:

“Aku ditinggalkan oleh Allah dan manusia! Akan kuberikan setengah dari kekayaanku padamu jika engkau bisa memberiku hidup barang enam bulan lagi dan setelah itu aku akan pergi ke neraka, dan engkau akan ikut bersamaku. O.. Kristus ! Oh.. Yesus Kristus !!....” 

Dalam jerit memilukan itu, Voltaire menghembuskan nafasnya yang terakhir. Perawat yang menjaga Voltaire di akhir hayatnya mengatakan: Aku tidak akan mau lagi melihat kematian seorang atheis, meski diberikan seluruh kekayaan dunia sekalipun.[2]

Manusia dengan segala yang dimilikinya dapat saja berusaha menghancurkan Alkitab, namun alih-alih keberadaan Alkitab diruntuhkan, segala upaya jahat itu malah menjadi satu bukti kokoh ke-Ilahi-an Alkitab, yaitu melalui fakta adanya suatu pemeliharaan yang ajaib terhadap Alkitab. Jika Alkitab hanya buku biasa, maka tentu tidak mungkin Alkitab dapat mempertahankan eksistensinya hingga sekarang, di tengah perubahan jaman dan segala upaya untuk melenyapkan Alkitab. Namun justru karena Alkitab adalah Firman Tuhan, maka Allah yang empunya Alkitab dan yang telah menuliskannya bagi kita, mampu memelihara Alkitab dari bahaya apa pun. Sesungguhnya, kita manusia terlalu kecil dan tidak mampu menjaga Alkitab dari segala serangan-serangan yang hebat. Kita hanya bisa memainkan suatu peran yang kecil saja, Allah sendirilah yang akan berperang membela Firman-Nya. Tapi ingat, meski peran kita hanya kecil, Tuhan mau kita setia menjalankannya. Puji Tuhan.

Jika Allah sudah sedemikian rupa memelihara Alkitab, sudah sepantasnyalah kita sebagai orang yang percaya pada Yesus Kristus juga turut memelihara Alkitab. Bagaimana caranya? Tentu bukan dengan cara menyimpan Alkitab di dalam suatu lemari besi yang terkunci rapat. Atau dengan cara mengubur Alkitab di dalam tanah agar tidak terjangkau oleh tangan-tangan jahat. Bukan demikian.

Kita memelihara Alkitab dengan cara membacanya, merenungkannya, menjadi pelaku-pelaku Firman serta mengajarkan kebenaran di dalamnya kepada orang lain. Dengan cara ini, Alkitab menjadi sesuatu yang integral dengan hidup kita secara pribadi dan juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari jemaat Tuhan di dunia ini.

Manusia bisa membakar Alkitab, tetapi tidak mungkin melenyapkannya, apalagi mengubah kebenaran di dalamnya. Sungguh luar biasa Alkitab itu. Sepasukan tentara tidak bisa melenyapkannya. Waktu tidak dapat mengubahnya. Ideologi dan filsafat manusia yang ingin meruntuhkan ajaran Alkitab, malah runtuh terkubur bersama dengan para filsufnya.

Dari tulisan ini, kita belajar pula tentang bahayanya menjadi orang Kristen yang tidak mempelajari Alkitab. Kasus yang terjadi pada zaman kaisar Constantine dapat menjadi perenungan yang baik bagi kita. Janganlah kita cepat terkesima oleh pertumbuhan kuantitas orang Kristen, melainkan hendaklah kita dengan sunguh-sungguh mewartakan ajaran Kitab Suci pada orang-orang yang mengaku percaya. Pertumbuhan kuantitas yang tidak diiringi ajaran Kitab Suci yang benar dapat berakibat terulangnya sejarah gelap kekristenan pada era Constantine itu.

Dari kasus menakutkan yang terjadi pada Voltaire, kita juga belajar bahwa keangkuhan manusia yang menolak Kitab Suci pada akhirnya akan menghadapi hukuman dari Allah. Walaupun Voltaire mengaku tidak percaya, namun nuraninya memberi kesaksian bahwa Allah ada dan bahwa Yesus benar.[3] Itu sebabnya, ia berteriak memanggil Yesus yang semula ia umumkan sebagai tokoh khayalan. Pada masa sekarang, betapa banyaknya keangkuhan semacam Voltaire ini sedang terjadi di tengah-tengah kita. Janganlah kita gentar, melainkan waspada dan bersandarlah pada Allah yang akan berperang melawan musuh-musuh-Nya itu.

Marilah mulai sekarang kita semakin mencintai Alkitab kita yaitu dengan cara setia membaca, mempelajari, merenungkan, menghidupi dan mengajarkan kebenaran di dalamnya. Kita bersyukur boleh tinggal di sebuah negara di mana Alkitab dapat bebas dimiliki. Sekarang ini, setiap keluarga di Indonesia dapat memiliki lebih dari satu Alkitab, puji Tuhan, tetapi siapa yang dapat memastikan bahwa kondisi semacam ini akan berlangsung terus?

Tulisan ini dimaksudkan untuk mengingatkan kita bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan, dan itu terbukti dari pemeliharaannya yang ajaib. Oleh karena Alkitab adalah Firman Tuhan, maka Dia pulalah yang akan memelihara Alkitab dari tangan-tangan jahat umat manusia. Terpujilah Allah yang telah ber-Firman melalui Alkitab dan berbahagialah kita yang boleh menerimanya dengan hati yang penuh sukacita.

Tuhan Yesus memberkati. (Oleh: Izar Tirta).


[1] Stanley L.Greenslade, Cambridge History of the Bible,

[2] Hal ini disebutkan pula oleh Ray Ellis di dalam khotbahnya yang berjudul Victory in Time of Crisis tahun 2010.

[3] Hal semacam ini dicatat oleh Paulus dalam Roma 1:18-22. Semua orang tidak percaya yang hidup saat ini, bukan kekurangan bukti tentang Allah dan Yesus. Seperti Voltaire, mereka menekan kebenaran itu di dalam hati mereka. Pada saat meninggal dunia, kebenaran hati nurani itu akan bersaksi, sehingga mereka tidak dapat berdalih, namun sayangnya pada saat seperti itu segalanya mungkin sudah sangat terlambat.

 

Saturday, September 11, 2021

Siapakah Harun di dalam Alkitab?

Sebuah eksposisi singkat dari tokoh Alkitab Harun.
Apakah peranan tokoh Harun di dalam Alkitab?
Apa yang dapat kita pelajari dari tokoh Harun ini?
Apa yang terjadi pada Harun setelah peristiwa Lembu Emas?
Apakah Tuhan mengampuni Harun setelah peristiwa Lembu Emas itu?
Ataukah Tuhan menghukum Harun karena memimpin Israel pada penyembahan berhala?


 


Pendahuluan

Harun adalah tokoh yang cukup populer di dalam Alkitab, khususnya di dalam kitab Perjanjian Lama, dan tulisan ini merupakan sebuah pemaparan tentang tokoh Harun di dalam Alkitab tersebut. Semoga melalui tulisan ini, kita dapat lebih mengenal tokoh Harun dan terutama bagaimana pekerjaan Tuhan dinyatakan melalui dia. Dan tentu saja tujuan yang paling utama dari pembacaan Alkitab pada akhirnya adalah bagaimana kita dapat mengenal Pribadi Allah itu sendiri. [Baca Juga: Mengapa Kekristenan tidak mengakui Apocrypha sebagai Kitab Suci? Klik disini.]

Buku "Mengapa Engkau Meninggalkan Aku"
Klik disini.

Menurut Jerome nama Harun berarti "gunung kekuatan." Dia merupakan putra tertua dari Amram dan Yokhebed, berasal dari suku Lewi dan adalah saudara dari Musa dan Miryam. Hal itu tertuang dalam Bilangan 26:59 yang berbunyi: Dan nama isteri Amram ialah Yokhebed, anak perempuan Lewi, yang dilahirkan bagi Lewi di Mesir; dan bagi Amram perempuan itu melahirkan Harun dan Musa dan Miryam, saudara mereka yang perempuan.

Kitab Keluaran juga mencatat tentang hal tersebut, demikian: Dan Amram mengambil Yokhebed, saudara ayahnya, menjadi isterinya, dan perempuan itu kemudian melahirkan Harun dan Musa baginya. Umur Amram seratus tiga puluh tujuh tahun (Kel 6:20). Para ahli Perjanjian Lama memperkirakan bahwa kelahiran Harun itu terjadi pada tahun 1574 SM.

Cukup ironis bahwa nama Harun yang berarti gunung kekuatan itu, justru sempat memimpin bangsa Israel jatuh ke dalam penyembahan berhala. Dari Alkitab kita belajar bahwa semua manusia memang adalah makhluk yang telah jatuh ke dalam dosa. Betapa pun besarnya nama yang diberikan kepada seorang manusia, tetapi jika tidak ditopang oleh anugerah pertolongan Allah, maka manusia tidak akan mampu menjaga kelakuan yang berkenan di hadapan Tuhan.


[Baca juga: Bersaksi di dalam kuasa Roh Kudus. Klik disini]

Di sisi lain, kejatuhan Harun di padang gurun dapat sekaligus mengajar kita akan betapa besar anugerah Tuhan pada manusia. Meskipun Tuhan tahu bahwa Harun pada suatu saat akan jatuh, tetapi Tuhan tetap memberi kesempatan dan menyelamatkan Harun dari perbudakan Mesir. Dan bahwa setelah Harun jatuh ke dalam dosa pun, Tuhan masih menerima dia, mengampuni dia dan tetap memberi peran pelayanan kepadanya.

Ketika Harun membangun sebuah anak lembu emas untuk disembah oleh orang Israel sebagaimana yang tercatat pada Keluaran 32, penghakiman yang berat menimpa orang Israel atas perbuatan mereka, namun sebagaimana yang dapat kita lihat Harun sendiri tetap melanjutkan pelayanannya sebagai imam bagi bangsa Israel. Mungkin kita dapat merasakan adanya suatu ketidakadilan ketika menyadari bahwa Harun seperti diluputkan dari hukuman, sementara orang Israel yang lainnya diadili, sedangkan kita tahu bahwa dialah yang memimpin Israel dalam pembuatan berhala itu.

Ada dua kemungkinan dalam memandang peristiwa Harun terkait peristiwa lembu emas tersebut. Cara pandang pertama, seseorang dapat mengatakan bahwa Harun memang pada akhirnya dihukum Tuhan pula oleh sebab perbuatannya membuat anak lembu emas tersebut. Meskipun dia tidak dihukum pada waktu yang tepat dan segera, yaitu ketika peristiwa lembu emas itu terjadi, tetapi kita tahu bahwa Harun kemudian mati di padang gurun dan tidak pernah sempat  memasuki Tanah Perjanjian. Selain itu, Harun juga harus menanggung kepedihan karena kehilangan dua orang putranya yang sudah dewasa. dalam penghakiman dari Tuhan. Hal itu tercatat dalam Imamat 10:1 yang berbunyi demikian:

Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka.

Dan terhadap perbuatan itu, Allah menunjukkan murka-Nya sehingga Nadab dan Abihu pun mati. Alkitab selanjutnya mencatat: Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN. (Imamat 10:2)

Apakah antara peristiwa lembu emas dan peristiwa kematian Nadab dan Abihu sama sekali tidak ada hubungannya? Kita punya alasan untuk percaya bahwa kedua peristiwa itu ada hubungannya. Alkitab sering melukiskan bagaimana suatu dosa yang tidak sungguh-sungguh dibereskan di hadapan Tuhan dapat berkembang menjadi dosa lain yang lebih besar.

[Baca juga: Apakah ciri dari iman yang sejati? Klik disini]

Cara pandang kedua adalah bahwa Allah tidak menghukum Harun karena membuat anak lembu emas karena Harun telah dipilih sebagai imam besar Israel. Terlepas dari dosa Harun, perannya dalam memimpin bangsa Israel untuk beribadah kepada Tuhan tetaplah penting. Keluaran 28 mengungkapkan peran penting Harun dan putra-putranya dalam ritual penyembahan Israel. Posisi imam besar telah dijanjikan oleh Tuhan dalam Keluaran 28, sebelum Harun membentuk anak lembu emas yang tercatat dalam Keluaran 32. Kegagalan Harun tidak serta merta membatalkan janji Tuhan.

Memang Alkitab sendiri sering memberi kesaksian tentang Tuhan yang kerap menggunakan orang-orang yang kelihatannya paling tidak mungkin atau paling tidak layak untuk melayani Dia. Harun, orang yang menyesatkan orang Israel untuk menyembah anak lembu emas, adalah orang yang dipilih Allah untuk memimpin Israel dalam menyembah Tuhan. Tentu saja hal ini bukan tanpa cerita pertobatan Harun sendiri, sebagaimana yang akan saya jelaskan kemudian di bawah.

Alkitab mecatat pula beberapa kasus lain ketika Tuhan menggunakan orang-orang yang paling kecil kemungkinannya untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu demi kemuliaan-Nya. Contoh lain adalah Daud, seorang anak gembala yang dipilih menjadi raja; Paulus, seorang penganiaya gereja yang menjadi martir dan pemimpin misionaris; Petrus, seorang nelayan yang menjadi penginjil; Maria Magdalena, seorang wanita yang pernah kerasukan setan namun kemudian menjadi orang pertama yang melihat kebangkitan Yesus; dan masih banyak lagi. Semua itu mengingatkan kita akan Firman Tuhan yang berkata: Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, (1 Korintus 1:27).

Terus terang saja, kita semua adalah orang bodoh dan lemah di hadapan Tuhan. Kita disebut bodoh karena seringkali tidak tahu apa yang menjadi kehendak Tuhan. Kita disebut lemah karena begitu rentannya untuk jatuh ke dalam dosa. Jika seseorang memiliki keterbukaan hati akan jamahan Tuhan, maka kebodohan dan kelemahan kita itu tidak akan menghalangi Tuhan untuk memakai kita dalam suatu tugas yang dikehendaki-Nya.

Ada dua faktor lain mengenai Harun dan peristiwa anak lembu emas yang juga penting untuk dipertimbangkan. Faktor pertama, Harun termasuk di antara mereka yang bertobat dari dosa. Keluaran 32:26 mengatakan, maka berdirilah Musa di pintu gerbang perkemahan itu serta berkata: "Siapa yang memihak kepada TUHAN datanglah kepadaku!" Lalu berkumpullah kepadanya seluruh bani Lewi. Sebagai seorang keturunan Lewi, Harun dapat dipastikan ada di antara mereka yang bertobat, dan kita percaya bahwa kasih karunia Tuhan pasti diberikan pada mereka semua yang bertobat itu, termasuk Harun.

Faktor kedua dapat ditemukan dalam Keluaran 32:30 yang berbunyi: Keesokan harinya berkatalah Musa kepada bangsa itu: "Kamu ini telah berbuat dosa besar, tetapi sekarang aku akan naik menghadap TUHAN, mungkin aku akan dapat mengadakan pendamaian karena dosamu itu."

Apa yang terjadi dalam peristiwa Harun dan anak lembu emas masih relevan sebagai contoh atau pelajaran yang baik sampai sekarang. Ada orang berdosa, tapi lalu dipilih oleh Tuhan untuk melakukan pekerjaan-Nya. Karena kelemahannya ia kemudian terjatuh ke dalam dosa, bahkan dosa yang memalukan. Tapi karena Allah kita adalah Allah yang penuh cinta kasih, Ia masih mau memberi ruang pengampunan bagi mereka yang mau bertobat.

Perjanjian Baru pun mengajarkan hal yang serupa, ketika kita berdosa, Tuhan memanggil kita untuk bertobat dan untuk menerima pengampunan-Nya melalui Tuhan kita, Tuhan Yesus Kristus. 1 Timotius 2:5 mengatakan: Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.

Selain Tuhan Yesus menjadi pengantara kita, Ia juga bekerja untuk memulihkan keadaan kita yang rusak oleh dosa. Dan ketika kita dipulihkan, Tuhan pun dapat menggunakan hidup kita secara lebih efektif kembali di dalam pelayanan-Nya. Inilah karakter Tuhan yang penuh anugerah cinta kasih itu.

Menurut Bilangan 26:59 Musa dan Harun adalah orang Lewi baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. Diperkirakan dia berusia tiga tahun lebih tua daripada Musa (Keluaran 7:7), dan ia lahir sebelum perintah Firaun untuk membunuh bayi laki-laki Ibrani (Keluaran 1:22). Meskipun demikian Harun bukan anak tertua di dalam keluarga itu, melainkan Miriam saudara perempuannya. Ketika Musa baru berusia tiga bulan dan Harun berusia tiga tahun, Miriam sudah lebih dewasa usianya sehingga bisa menawarkan tenaganya untuk pergi dan memanggil perawat Ibrani bagi putri Firaun, untuk merawat adik bayinya itu.

Penyebutan pertama tentang Harun tercatat dalam Keluaran 4:14 yang berbunyi: Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Musa dan Ia berfirman: "Bukankah di situ Harun, orang Lewi itu, kakakmu? Aku tahu, bahwa ia pandai bicara; lagipula ia telah berangkat menjumpai engkau, dan apabila ia melihat engkau, ia akan bersukacita dalam hatinya.

Harun digambarkan sebagai "orang Lewi" agaknya sebagai rujukan bahwa ia adalah seorang imam dan sebagai imam ia dapat menjalankan peran yang sebagai wakil umat Allah. Tuhan mengarahkan dia untuk "pergi ke padang gurun menemui Musa" Alkitab mengatakan: Berfirmanlah TUHAN kepada Harun: "Pergilah ke padang gurun menjumpai Musa." Ia pergi dan bertemu dengan dia di gunung Allah, lalu menciumnya. (Kel. 4:27).

Dalam ketaatan pada isyarat itu, setelah empat puluh tahun berpisah, dia bertemu Musa di "gunung Tuhan", di mana penglihatan tentang semak yang menyala. Harun kembudian membawa Musa kembali ke Gosyen. Di sana Harun, yang tampaknya sudah menjadi orang berpengaruh di antara orang Israel, memperkenalkan Musa kepada para penatua mereka yang berkumpul; dan, sebagai juru bicaranya, menyatakan kepada mereka amanat Allah yang disampaikan melalui Musa. Dan melalui kemampuan Harun dalam bersikap persuasif seperti itu, di bawah Roh, orang-orang Israel pun dapat percaya, bahkan menundukkan kepala, dan menyembah Allah.

Alkitab melukiskan hal itu demikian: Lalu pergilah Musa beserta Harun dan mereka mengumpulkan semua tua-tua Israel. Harun mengucapkan segala firman yang telah diucapkan TUHAN kepada Musa, serta membuat di depan bangsa itu tanda-tanda mujizat itu.  31 Lalu percayalah bangsa itu, dan ketika mereka mendengar, bahwa TUHAN telah mengindahkan orang Israel dan telah melihat kesengsaraan mereka, maka berlututlah mereka dan sujud menyembah (Kel. 4:29-31).

Selama empat puluh tahun ketidakhadiran Musa di Midian, Harun menikah dengan Elisyeba atau Elisabet, putri Aminadab, dan saudara perempuan Naason, seorang pangeran dari anak-anak Yehuda. Alkitab mencatat: Dan Harun mengambil Eliseba, anak perempuan Aminadab, saudara perempuan Nahason, menjadi isterinya, dan perempuan ini melahirkan baginya Nadab, Abihu, Eleazar dan Itamar. (Keluaran 6:23). Serta: Ram memperanakkan Aminadab, dan Aminadab memperanakkan Nahason, pemimpin bani Yehuda (1 Taw 2:10).

Darinya ia memiliki empat putra: Nadab, Abihu, Eleazar (ayah Pinehas), dan Itamar. Dari pembicaraan pertamanya dengan Firaun hingga akhir pertemuannya, Harun selalu mendampingi saudaranya yang lebih terkenal itu, Harun dengan setia bekerja sama dan membantu Musa melakukan perintah Allah. Bahkan dalam perjalanan ke Sinai, kita melihat pertempuran yang terkenal antara Israel dan orang Amalek, dimana Harun bersama Hur menopang tangan Musa yang lelah. Harun terus menopang hingga Israel menang.

Musa berkata kepada Yosua: "Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku." Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit. Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam. Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang. (Keluaran 17:9-13)

Harun mempunyai peranan yang tinggi penting pula sebagai penafsir Musa. Bahkan ia dinobatkan menjadi imam Allah secara turun-temurun, suatu peran yang bahkan tidak dimiliki oleh Musa. Meskipun demikian ia tidak luput dari rasa iri sehingga bergabung dengan Miriam untuk menentang Musa. Alkitab mencatat dalam Bilangan 12:1,2 yang berbunyi: Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush. Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN.

Ketika Musa naik ke Gunung Sinai untuk menerima loh batu berisi hukum Taurat secara langsung dari tangan Tuhan, Harun hanya diperbolehkan untuk mendekat, cukup dekat untuk melihat kemuliaan Allah, tetapi tidak memiliki akses langsung kepada hadirat-Nya.

Harun memang sepertinya bukan tokoh yang terkenal. Kita jauh lebih sering berfokus pada Musa ketika membaca kisah Keluaran. Kita begitu sering berbicara tentang Musa atau berkhotbah tentang dia. Dan itu mungkin tidak terlalu mengherankan sebab Musa adalah orang yang mendapat perjumpaan yang sangat khusus dengan Tuhan; Musa menerima hukum; Musa memimpin bangsa Israel ke Tanah Perjanjian. Bahkan nama Musalah yang tercantum dalam “Pahlawan iman” pada kitab Ibrani pasal 11. Sebaliknya, Harun sama sekali tidak ada dalam daftar ini. Harun hanya muncul sekali-sekali saja dalam ingatan kita, seperti tokoh figuran yang tenggelam di latar belakang sebuah kisah besar.

Meskipun cukup dapat dimengerti tetapi mungkin hal ini perlu kita perbaiki. Kita bisa belajar cukup banyak dari Harun. Ia menemani Musa ke Mesir dan membantu pembebasan Israel. Harun juga memiliki prestasi iman yang luar biasa, di samping tentu saja kegagalannya sebagai manusia.

Bukan tanpa sebab jika Tuhan menempatkan Harun sebagai saudara laki-laki Musa. Ketika Musa ragu kedatangan Harun membantu Musa menerima amanat dari Allah. Kedatangan kakak laki-lakinya membuat Musa percaya diri untuk melangkah dengan iman. Mengetahui kakak laki-lakinya ada di sana untuk mendukungnya, dan berbicara untuknya. Kehadiran Harun telah berperan dalam membebaskan Musa untuk mengeksplorasi, dan menerima, panggilan Tuhan.

Selain itu, Harun adalah Imam Lewi Pertama. Di awal perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir, Harun adalah pendukung Musa. Namun, di Gunung Sinai, peran Harun bertambah yaitu sebagai imam Israel. Kita membaca tentang ini dalam Keluaran 28 ketika Allah memerintahkan Musa “Mintalah Harun, saudaramu, dibawa kepadamu dari antara orang Israel, bersama dengan putranya Nadab dan Abihu, Eleazar dan Itamar, sehingga mereka dapat melayani Aku sebagai imam” (Keluaran 28:1 ). Karena Harun lahir dari suku Lewi, hal itu menjadikan dia sebagai imam Lewi yang pertama tercatat dalam Alkitab.

Sebagai imam, Harunlah yang memberi petunjuk kepada Israel tentang bagaimana mereka harus mendekati Tuhan dalam penyembahan dan doa. Harun mengenakan pakaian imamat yang memuat nama-nama putra Israel. Harun, secara spiritual, menanggung beban kesalahan orang Israel di atas bahunya setiap kali dia mempersembahkan korban di hadapan Tuhan (Keluaran 28:12). Dari Harun bangsa Israel belajar secara mendalam tentang peran imam untuk mempersiapkan bangsa itu memahami peran Kristus sebagai imam yang Sempurna kelak.

Di sisi lain kita tahu bahwa Harun juga berjuang dengan perasaan insecurity (ketidakamanan). Seperti semua karakter lainnya di Alkitab, Harun adalah orang yang tidak sempurna. Persoalan terkait rasa ketidakamanan dalam dirinya, seperti sudah disebutkan di atas terlihat ketika ia berbicara menentang Musa. Tidak dapat dihindarkan bahwa sang kakak laki-laki itu tampak iri dengan popularitas dan kepemimpinan adiknya.

Kasus lain dari ketidakamanannya adalah dalam kasus anak lembu emas (Keluaran 32). Dengan adanya situasi dimana Musa belum kembali dari puncak gunung. Harun seperti didesak untuk menampilkan satu sosok ilahi yang nyata, menggantikan ketidakhadiran Allah dan Musa. Tanpa ragu Harun menyatakan setuju. Apa yang mendasari sikap setujunya itu?

Apakah Harun bosan berada dalam bayang-bayang adiknya? Mungkin saja. Apakah Harun sangat ingin disukai? Bisa jadi. Apapun alasannya, Harun mendorong Israel membuat anak lembu emas dan berkata kepada orang-orang “Inilah dewa-dewamu yang memimpin kamu keluar dari Mesir” (Keluaran 32:4). Selanjutnya iapun memimpin orang Israel dalam sebuah festival yang mencakup semua jenis pesta pora.

Mereka yang menerima tugas dan panggilan Ilahi dari Tuhan tidak luput dari kekurangan mereka sebagai manusia. Sebagai orang beriman kita harus terus-menerus memilih untuk menaati Tuhan dan berani melawan suara orang banyak di sekitar kita, bahkan suara hati kita sendiri yang berdosa pun harus secara aktif di lawan. Tokoh Harun di dalam Alkitab, mengingatkan kita bahwa bahkan mereka yang memiliki peran penting dalam rencana keselamatan Allah pun harus senantiasa memiliki sikap kerendahan hati, dan berusaha untuk tetap setia pada panggilan Tuhan. Kiranya Tuhan menolong dan memberkati kita. Amin.

[Baca juga: Perjalanan dua murid Emaus bersama Tuhan. Klik disini.]