Monday, May 25, 2020

Perkataan Yang Tak Pernah Meleset

Bukti-bukti Eksternal Ke-Ilahi-an Alkitab
Serie tulisan: Bukti Alkitab adalah Firman Tuhan

Oleh: Izar Tirta




Dalam tulisan-tulisan sebelumnya, kita sudah membahas dua point dari bukti eksternal ke-Ilahi-an Alkitab yaitu pertama tentang proses penulisannya yang ajaib dan kedua adalah tentang keakuratan Alkitab sebagai catatan sejarah. Point yang kedua memang tidak punya peranan langsung terhadap pembuktian tersebut, sebagaimana yang telah disebutkan dalam tulisan terdahulu: “Adalah di luar bidang arkeologi untuk membuktikan bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan,” namun bukan berarti sumbangsih arkeologi sama sekali tidak penting bagi ditariknya suatu kesimpulan bahwa apa yang dikatakan oleh Alkitab adalah kebenaran.

Pada tulisan ini, kita akan melihat bukti  atau petunjuk lain yang semakin menguatkan keyakinan kita bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan, yaitu dalam hal ini adalah mengenai tidak pernah melesetnya kata-kata nubuatan yang ada di dalam Alkitab.

Adapun alasan mengapa saya mengkategorikan point ini ke dalam bukti eksternal adalah karena bukti yang dibicarakan dalam tulisan ini berkenaan dengan segala sesuatu yang tidak tercatat secara eksplisit di dalam Alkitab namun telah ditemukan oleh arkeologi atau oleh ilmu pengetahuan sejarah, atau pun yang menjadi nyata dengan sendirinya dengan berjalannya waktu.

Apa yang dimaksud dengan Nubuat?

Saya telah membuat sebuah tulisan yang membahas tentang nubuat. Di mana dalam tulisan tersebut saya membahas beberapa pertanyaan, seperti:
Apa itu nubuat?
Apa pengertian nubuat di dalam Perjanjian Lama?
Apa pengertian nubuat di dalam Perjanjian Baru?
Apakah hingga saat ini kita masih membutuhkan nubuat yang baru?
Apakah nubuat dan pengajaran itu sama?
Jika tidak sama, maka dimanakah letak perbedaan antara nubuat dan pengajaran?
Dan jika nubuat itu berbeda dengan pengajaran, maka yang manakah yang lebih dipentingkan oleh para rasul dan oleh Tuhan Yesus sendiri?

Untuk membaca pembahasan tentang nubuat tersebut, silahkan click di sini

Bagaimana nubuat di dalam Alkitab
dapat membuktikan atau mendukung fakta ke-Ilahi-an Alkitab?

Salah satu pengertian[1] dari nubuat adalah pesan yang diberikan oleh Allah kepada seorang nabi tentang suatu peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang.

Apabila Alkitab adalah Firman Allah, maka sepatutnya Alkitab tidak akan meleset dalam menyampaikan berita tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Oleh karena itu, melalui tulisan ini kita akan melihat apakah ada suatu bukti bahwa apa yang dikatakan oleh Alkitab ternyata sungguh-sungguh terjadi di masa setelah Alkitab itu selesai ditulis?

Dari Alkitab kita tahu bahwa Allah ternyata memang menggunakan nubuat sebagai salah satu bukti kuat bagi manusia untuk memperlihatkan keaslian karya-Nya. Artinya, serangkaian nubuat yang terdapat di dalam Alkitab sengaja ditaruh oleh Allah untuk membuktikan bahwa pernyataan-pernyataan dalam Alkitab memang berasal dari Dia.

Dalam kitab Ulangan ada tertulis pula:

“Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan TUHAN? Apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya." (Ulangan 18:21-22)

Di dalam ayat itu pembuktian yang dilakukan bersifat terbalik, yaitu perkataan manakah yang tidak di-Firman-kan oleh Tuhan? Jawabnya adalah, perkataan yang tidak terjadi dan tidak sampai.

Kita dapat membalik logika kalimat ini menjadi demikian: Perkataan manakah yang di-Firman-kan Tuhan? Perkataan yang di-Firman-kan Tuhan adalah perkataan yang terjadi dan sampai. Jelas dan sederhana bukan? Sekarang mari kita lihat dua contoh dari perkataan Tuhan yang tidak meleset sampai sedetil-detilnya.

Contoh pertama: kehancuran Babel

Pada tahun 740 SM Yesaya  menubuatkan Babel akan jatuh, demikian bunyinya:

“Dan Babel, yang permai di antara kerajaan-kerajaan, perhiasan orang Kasdim yang megah, akan sama seperti Sodom dan Gomora pada waktu Allah menunggangbalikkannya: tidak ada penduduk untuk seterusnya, dan tidak ada penghuni turun-temurun; orang Arab tidak akan berkemah di sana, dan gembala-gembala tidak akan membiarkan hewannya berbaring di sana; tetapi yang akan berbaring di sana ialah binatang gurun, dan rumah-rumah mereka akan penuh dengan burung hantu; burung-burung unta akan diam di sana, dan jin-jin akan melompat-lompat; ..” (Yesaya 13:19-21)

Lalu pada tahun 627 SM Yeremia juga mengatakan hal tesebut (lihat Yer 50:3,39-40). Dan ternyata pada tahun 539 SM Babel benar-benar jatuh di tangan bangsa Media-Persia pimpinan Koresy. Lalu pada abad ke 20 ada seorang misionaris Amerika yang melayani di Istambul bernama Dr Cyrus Hamlin yang juga melaporkan tentang apa yang terjadi pada daerah yang dulu dikenal sebagai tempat berdirinya kerajaan Babel:

“Reruntuhan kota Babel menimbulkan reaksi kimia pada tanahnya dan tanah yang tadinya subur berubah menjadi tanah gersang, tepat seperti yang tertulis dalam Yesaya 13. Pada abad pertama Masehi, Babel menjadi reruntuhan berbau busuk yang hanya dihuni oleh binatang buas. Pada abad 12 puing istana kota yang terdahulu, sudah tidak mungkin lagi didekati karena banyaknya ular dan kalajengking berbisa di daerah itu. Suatu hari saya menggaji seorang syekh beserta kelompoknya untuk menemani saya berburu selama seminggu di daerah Babel. Menjelang matahari terbenam orang-orang Arab itu mulai menggulung tenda-tenda mereka dan bersiap-siap untuk meninggalkan tempat tersebut. Saya segera menjumpai syekh itu untuk mengajukan protes, namun semua kata-kata saya tidak membawa hasil apa-apa. Tidak aman katanya. Tidak ada manusia yang berani tinggal di sini sesudah matahari terbenam. Jin-jin dan setan-setan bermunculan dari lobang-lobang dan gua-gua setelah hari gelap, dan siapa saja yang tertangkap oleh mereka, akan menjadi satu dengan mereka. Tidak ada orang Arab yang pernah melihat matahari tenggelam di Babel.”[2]

Menakutkan bukan? Jin yang melompat-lompat memang menakutkan, tetapi yang lebih menakutkan lagi adalah kuasa Firman Tuhan di dalam Alkitab yang begitu tepat dan tidak pernah meleset. Mungkin kita pernah mendengar bahwa Saddam Hussein pun pernah berencana membangun kembali sisa-sisa peradaban Babel serta mengembalikan kejayaannya ketika ia masih memerintah? Namun apa yang terjadi? Di manakah Saddam Hussein sekarang? Bukan saja Babel gagal berdiri kembali, tapi justru kerajaan Saddam yang ikut hancur.



Contoh ke dua: kehancuran Tirus

Pada abad 6 SM, Tuhan pernah berjanji untuk menghancurkan Tirus, kota sombong yang penuh dosa itu seperti yang tertulis dalam Yehezkiel 26:4,5,12-14.

Mereka akan memusnahkan tembok-tembok Tirus dan meruntuhkan menara-menaranya, debu tanahnya akan Kubuang sampai bersih dari padanya dan akan Kujadikan dia gunung batu yang gundul. Ia akan menjadi penjemuran pukat di tengah lautan, sebab Aku yang mengatakannya, demikianlah firman Tuhan ALLAH; ia akan menjadi jarahan bagi bangsa-bangsa. (Yehezkiel 26:4 dan 5)

Mereka akan merampas kekayaanmu dan menjarah barang-barang perniagaanmu; mereka akan meruntuhkan tembok-tembokmu dan merobohkan rumah-rumahmu yang indah; batumu, kayumu dan tanahmu akan dibuang ke dalam air. Aku akan mengakhiri keramaian nyanyianmu dan suara kecapimu tidak akan kedengaran lagi. Aku akan menjadikan engkau gunung batu yang gundul dan dengan demikian engkau akan menjadi penjemuran pukat, sehingga engkau tidak akan dibangun kembali, sebab Aku, Tuhanlah yang mengatakannya, demikianlah firman Tuhan ALLAH. (Yehezkiel 26:12-14)

Tirus akan dihancurkan oleh Babel, warganya dibunuhi, kotanya diratakan dan dibuang ke laut. Apakah semuanya terjadi persis seperti itu?

Catatan sejarah mengatakan bahwa beberapa tahun setelah nubuat itu diberikan, Nebukadnezar membawa pasukannya ke Tirus untuk mengepung kota itu. Tiga belas tahun lamanya kota itu bertahan sebelum akhirnya hancur dilanda badai pasukan Nebukadnezar yang kemudian membunuhi siapapun yang ada di dalam kota. Meskipun demikian tidak semua warga Tirus tewas, sebagian lolos melarikan diri dan akhirnya berhasil mencapai sebuah pulau kira-kira setengah mil dari garis pantai kota lama (Tirus adalah kota di pinggir pantai). Dan di pulau itu mereka perlahan-lahan membangun komunitas dan kota dengan benteng yang baru sehingga untuk sementara mereka aman. Namun dalam nubuat itu dikatakan bahwa Tirus akan diratakan, penduduknya dihabisi dan kotanya di buang ke laut? Apakah ini berarti nubuat Tuhan telah gagal? Tunggu dulu, cerita belum berakhir disini.

Pada abad 4 SM muncullah seorang penguasa yang sangat besar kuasanya, yaitu Alexander Agung. Dalam ekspansi besar-besarannya, sampailah ia di Tirus. Ia mengirim utusan ke seberang pulau dan meminta kota Tirus baru untuk menyerah. Penduduk Tirus, sadar dengan posisi baru mereka yang sulit ditaklukkan, hanya tertawa mendengar ancaman tersebut. Tetapi Alexander Agung memerintahkan Diades, insinyur kepercayaannya, untuk membangun jalan pintas di tengah lautan untuk sampai ke pulau tempat Tirus baru berdiri. Darimana Diades menemukan segala material untuk membangun jalan itu? Tembok Tirus lama yang masih berdiri dirontokkan, batu-batu dan kayu yang ada dicampakkan ke laut untuk membuat jalan bagi pasukan Alexander.

Lihatlah, Tirus lama akhirnya dicampakkan ke laut, persis seperti yang dikatakan Tuhan. Alexander sama sekali tidak menyadari bahwa pada saat itu ia menjadi alat Tuhan untuk menggenapi nubuatan yang diberikan pada Yehezkiel kira-kira 2 abad sebelumnya. Bagaimana dengan Tirus baru? Jika ia masih berdiri, maka tentu nubuat Tuhan belum terpenuhi, apalagi jika dalam nubuat itu disebut secara spesifik bahwa kota Tirus akan menjadi batu karang tempat nelayan menjemur pukat.



Setelah jalan lintas lautan rampung, Alexander segera menghabisi seluruh penduduk Tirus dan meratakan kota baru itu. Lalu di abad 20 M, seorang misionaris Amerika melaporkan perjalanannya ke daerah di mana Tirus baru dulu berdiri, dan dari foto-foto perjalanan ia memperhatikan bahwa di pulau itu, tempat di mana Tirus baru pernah berdiri dengan perasaan aman, terlihat banyak nelayan menjemur pukat di atas karang. Menakutkan sekali bukan? Setiap detil perkataan Tuhan terlaksana tanpa seorang pun mampu menahannya.

Orang percaya maupun tidak percaya telah dijadikan Tuhan sebagai alat untuk melaksanakan apa yang Ia katakan. Dari sini lagi-lagi kita belajar untuk tidak sombong dan merasa puas diri dengan pelayananan kita. Jika dalam tulisan terdahulu kita belajar bahwa Tuhan dapat memakai batu-batu (benda mati) untuk meneriakkan kemuliaan nama-Nya. Maka dalam tulisan ini kita melihat bahwa orang tidak percaya pun bisa dipakai Tuhan untuk melaksanakan rencana-Nya. Tidak ada pekerjaan yang terlalu sulit bagi Tuhan. Oleh karena itu, jika hari ini Ia mempercayakan suatu pelayanan pada kita, maka itu semata-mata adalah anugerah.

Kita masih bisa berbicara banyak sekali tentang bukti-bukti semacam yang disebutkan di atas, tetapi semoga dua contoh kecil ini saja sudah cukup membuat kita bersyukur atas keberadaan Alkitab yang adalah Firman Tuhan. Apa yang di-Firman-kan oleh Tuhan pasti terlaksana, sebab Firman Tuhan adalah kebenaran.

Zaman ini banyak kaum peragu yang berani menghina Alkitab secara terbuka. Zaman ini orang-orang merasa punya hak untuk memilih percaya atau tidak percaya pada Alkitab. Namun semoga setelah mempelajari tulisan ini, dari hati kita tumbuhlah suatu keyakinan, kecintaan dan kegentaran terhadap Alkitab. Melalui nubuat yang terlaksana secara akurat, terbuktilah bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan.

Professor Kraemer, seorang ahli dalam Islamologi, mengatakan bahwa tidak ada kitab suci dari agama apapun yang berisi nubuat yang terperinci seperti Alkitab (tidak ada satu pun!), apalagi kitab dengan banyak nubuat yang terlaksana secara akurat. Terus terang, cuma Alkitab yang bisa seperti ini.

Alkitab adalah Firman Tuhan. Celakalah orang yang menghina Alkitab dan menganggapnya hanya buku kuno biasa. Jika Babel dikutuk begitu rupa oleh Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan orang-orang berdosa yang begitu sombong menghina Yesus dengan cerita bohong tentang Dia?

Semua kisah tentang Yesus yang tidak sesuai dengan Alkitab, pastilah merupakan kebohongan yang berasal dari si iblis. Jika Tirus dikutuk begitu rupa, bagaimanakah nasib orang-orang tidak percaya yang merasa puas dengan dirinya sendiri? Mereka berpikir kebaikan hidup mereka cukup untuk diterima oleh Tuhan, sehingga mereka merasa tidak membutuhkan Juruselamat. Apakah kiranya yang akan terjadi dengan mereka-mereka itu? Dan apakah pula yang terjadi dengan kita yang sekalipun mengerti dan percaya, namun tidak berusaha menghidupinya??

Jika perkataan dalam Alkitab tidak pernah meleset, dapat dibuktikan oleh penemuan arkeologi dan sejarah, serta memiliki proses penulisan yang melampaui akal manusia, maka marilah dengan rendah hati kita terima ajaran Alkitab, karena Alkitab adalah Firman Tuhan. Marilah dengan kesungguhan hati kita berusaha melakukan ajaran-ajaran tersebut dalam hidup kita serta berupaya mengajarkannya pula pada orang lain yang mau membuka hati bagi Tuhan.

Kita berharap untuk bukan saja mengetahui segala sesuatu yang tertulis dalam artikel ini, namun kita berharap agar pada suatu saat kita dapat pula mengajarkan kebenaran ini pada orang lain. Sebab kita semua sepatutnya “dilengkapi untuk memperlengkapi” orang lain. Sehingga dengan demikian, ajaran Firman Tuhan akan tersebar luas, keyakinan orang Kristen dapat dikokohkan dan semoga hidup mereka pun pada akhirnya boleh diubahkan sesuai dengan pengertian yang diterima dari Alkitab.

Mari kita isi setiap hati yang percaya dengan pengetahuan kebenaran sehingga dari sana boleh tumbuh pula perbuatan-perbuatan kebenaran. Dan mari kita sebarluaskan ajaran kebenaran sehingga semakin banyak orang yang memuji serta mempermuliakan Tuhan.

Kiranya Tuhan memberkati kita dengan pengenalan akan Dia. Amin.



[1] Bukan satu-satunya.
[2] Jonathan Gray, The Forbidden Secret, 126

Ketika Batu-Batu Berteriak

Alkitab sebagai Catatan Sejarah Penyelamatan Yang Akurat
Serie tulisan: Bukti Alkitab adalah Firman Tuhan




Ketika Ia dekat Yerusalem, di tempat jalan menurun dari Bukit Zaitun, mulailah semua murid yang mengiringi Dia bergembira dan memuji Allah dengan suara nyaring oleh karena segala mujizat yang telah mereka lihat. Kata mereka: "Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!" Beberapa orang Farisi yang turut dengan orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, tegorlah murid-murid-Mu itu." Jawab-Nya: "Aku berkata kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak." (Lukas 19:37-40)

 
Buku "Arkeologi Dan Sejarah Alkitab"
 
Sekilas, ucapan terakhir Tuhan Yesus dalam dialog di atas hanya terdengar seperti suatu sindiran pada mereka yang tidak percaya. Namun nyatanya dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang dicapai manusia, kita tahu bahwa batu-batu pun dapat menyampaikan sebuah kisah. Kisah yang sulit dibantah. Kisah yang menggedor intelektual dan mengusik nurani setiap insan yang ragu. Saat ini telah terbukti, bukan hanya manusia yang dapat bercerita, batu-batuan pun dapat meneriakkan kemuliaan nama Tuhan. [Baca juga: Proses penulisan Alkitab yang sangat ajaib. Klik disini.]

Arkeologi: pengertian dan peranannya bagi Alkitab

Arkeologi, dalam pengertian sederhana, merupakan suatu studi sistematis terhadap hal-hal yang ditinggalkan oleh kebudayaan masa lampau. Studi ini mulai menarik perhatian para ilmuwan pada sekitar abad 17, namun tujuan utamanya ketika itu adalah untuk mencari harta karun. Baru pada abad 19, ilmu ini mulai berkembang untuk tujuan mempelajari kebudayaan kuno.

Bagi Alkitab, peran atau fungsi arkeologi adalah untuk memeriksa kebenaran dari peristiwa, orang-orang dan tempat-tempat yang dituliskan dalam Alkitab. Atau dengan kata lain, arkeologi adalah suatu alat bantu yang berguna untuk membuktikan bahwa Alkitab berisi catatan sejarah yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Namun ironisnya, ilmu ini mula-mula justru dipakai oleh mereka yang tidak percaya kepada Yesus. Mereka melakukan berbagai penggalian Arkeologi justru untuk membuktikan bahwa Alkitab penuh dengan mitos, takhayul dan bahkan kebohongan. Akan tetapi, semakin banyak para ilmuwan ateis itu menggali situs-situs sejarah masa lampau, semakin banyak pula temuan-temuan yang membenarkan segala sesuatu yang tertulis di dalam Alkitab. Hingga akhirnya, para ilmuwan itu justru memakai Alkitab sebagai panduan untuk menemukan peninggalan-peninggalan sejarah yang belum mereka ketahui.

Hasil dari penggalian lebih lanjut tersebut bahkan lebih mengejutkan lagi, kebudayaan-kebudayaan kuno yang semula diperkirakan tidak mungkin ada, melalui arkeologi dengan Alkitab sebagai panduan, justru ditemukan. Kota-kota yang selama ini hanya dianggap dongeng oleh para intelektual, ternyata sungguh-sungguh ada, persis seperti yang dikatakan Alkitab. Dalam kurun waktu kurang lebih 100 tahun terakhir ini, melalui arkeologi telah terjadi suatu “ledakan penemuan” yang tak terbantahkan bahwa apa yang ditulis dalam Alkitab benar adanya.

Josh Mc.Dowell, seorang penulis dan apologet Kristen pernah mengatakan:
"Biblical archaeology is defined as the investigation of ancient material cultures with a view to illuminating the cultural milleus of biiblical narratives" (Josh McDowell, Evidence That Demands a Verdict)

Arkeologi tanpa sejarah adalah sesuatu yang tidak berarti. Arkeologi hanya dapat memberitahukan adanya serangkaian perkembangan kebudayaan, tetapi tidak dapat memberikan suatu kronologi atau urutan waktu yang persis. Sejarah memberitahukan kepada kita kronologi, peristiwa-peristiwa, orang-orang, tempat-tempat di masa lalu. Walaupun arkeologi dapat membuktikan sejarah Alkitab, namun adalah di luar bidang arkeologi untuk membuktikan bahwa Alkitab adalah Firman Allah.

Dengan kata lain, arkeologi hanyalah alat bantu yang terbatas, dibutuhkan bukti-bukti lain yang saling melengkapi untuk sampai pada kesimpulan bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Meskipun demikian, sumbangsih yang diberikan oleh arkeologi bagi diterimanya Alkitab sebagai tulisan yang berotoritas di antara manusia yang tidak percaya, tidaklah sedikit. Berikut ini kita akan melihat sedikit contoh dari temuan arkeologi.

Dalam Kejadian 4 disebutkan bahwa salah satu keturunan Kain adalah Yubal yang disebut sebagai “bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling.” Penggalian arkeologi di daerah Ur, tempat lahirnya Abraham dan juga tempat yang diduga merupakan lokasi Taman Eden, menemukan bukti paling awal dari alat musik senar dan tiup. Ini mengubah pandangan dunia sebelumnya tentang sejarah musik tertua.

Kisah Nuh dengan air bah, barangkali lebih sering dipandang sebagai dongeng sebelum tidur oleh manusia yang merasa dirinya pintar, akan tetapi arkeologi telah menemukan lebih dari 200 laporan dari berbagai budaya di dunia tentang banjir besar yang memusnahkan manusia dan binatang. Misalnya catatan raja Asurbanipal, dari Asyur. Lalu pada tahun 1854 di daerah yang diperkirakan lokasi Niniwe, ditemukan pula catatan yang sangat mirip dengan laporan Alkitab tentang banjir itu. Begitu miripnya sampai detil-detil seperti nama Nuh, jumlah orang dalam bahtera dan pelepasan seekor burung untuk melihat apakah air sudah surut, disebutkan pula dalam catatan tersebut.

Menara Babel yang disebutkan dalam Kejadian 11 juga ditemukan di daerah yang sangat diyakini sebagai wilayah Babel. Dalam wilayah itu ditemukan tempat penyembahan yang menjulang tinggi dan dibangun dengan batu bata, persis seperti yang dikatakan Alkitab. Sebuah tulisan dalam tablet tanah liat yang ditemukan di sana menyebutkan tentang sebuah tempat penyembahan yang “menggusarkan hati dewa” sehingga kuil itu dimusnahkan dalam semalam, dan orang-orang di sana tercerai-berai sambil mengucapkan “suara-suara aneh” yang tidak dapat saling mereka pahami.

Kota Sodom dan Gomora yang dihancurkan Tuhan, pernah dianggap sebagai mitos belaka. Namun penggalian yang dilakukan di Tell Mardikh, menemukan catatan-catatan yang menyebutkan dua nama kota itu. Sodom dan Gomora ternyata memang pernah ada, dan telah benar-benar hancur karena dihukum oleh Tuhan.

Masih sangat banyak temuan-temuan arkeologis yang meneguhkan catatan-catatan dalam Alkitab, dan tentu kita tidak dapat membahasnya satu persatu dalam tulisan yang singkat ini. Namun yang penting untuk kita perhatikan adalah bahwa semuanya itu dapat dipakai Tuhan untuk memperingatkan generasi yang bengkok di zaman kita ini bahwa benda-benda mati seperti bebatuan peninggalan masa lampau pun dapat menceritakan kemuliaan Tuhan yang ajaib. Dari hal ini kita juga dapat belajar bahwa sikap sombong dalam melayani Tuhan sangatlah tidak pantas. Sebab jika Tuhan mau, Ia dapat saja memakai benda-benda mati untuk bersaksi bagi Dia, seperti yang dapat dibaca pada kisah kesaksian berikut ini.

Kesaksian dua orang William

Ada dua orang William, sama-sama berprofesi sebagai arkeolog dan sama-sama tidak percaya pada Alkitab.

Yang pertama William Albright, ia berusaha membuktikan bahwa kisah sejarah yang terdapat dalam Perjanjian Lama bukanlah suatu kisah nyata. Ia bermaksud menggunakan arkeologi untuk membuktikan bahwa Alkitab hanyalah omong kosong belaka. Akan tetapi, selama studi lapangan yang ia mulai sejak tahun 1930 (hingga tahun kematiannya pada 1971) Albright menemukan fakta-fakta yang justru mendukung Alkitab. Albright tidak dapat menghindar lagi, ia akhirnya menjadi orang percaya.

Jika Albright meragukan PL, maka pada akhir abad 19 William Ramsay melakukan studi arkeologi yang mendalam di Asia Kecil dan Timur Tengah untuk melecehkan tulisan Lukas di PB yang tidak dipercayainya. Namun apa mau dikata, semua temuan dari studinya itu justru menegaskan bahwa apa yang dikatakan Lukas benar adanya. Dunia akademik tempat ia biasa bersosialisasi ikut terguncang ketika Ramsay mengumumkan bahwa Lukas adalah salah satu sejarahwan terbesar yang pernah ada. Tak pelak lagi, Ramsay pun akhirnya menjadi percaya.

Sejarah: makna pentingnya bagi iman Kristen

Sebagai orang Kristen pusat perhatian kita adalah Alkitab, yaitu Firman Tuhan yang juga berisi catatan sejarah dengan tingkat keakuratan yang sangat tinggi. Kita tidak dapat sampai pada kesimpulan bahwa Alkitab adalah Firman Allah semata-mata dari penyelidikan arkeologi, diperlukan petunjuk-petunjuk dari sisi yang lain. Arkeologi bahkan tidak berarti sama sekali tanpa adanya catatan dan penjelasan dari Alkitab.

Arkeologi juga tidak mungkin mampu menolong umat manusia untuk masuk ke dalam pengenalan akan Pribadi Allah yang sejati. Namun arkeologi dapat menjadi salah satu sarana penunjuk bagi manusia bahwa Alkitab benar dan bahwa Alkitab adalah catatan sejarah yang dapat diandalkan karena sifatnya yang akurat.

Semoga pengertian ini memperkaya cara pandang kita terhadap Alkitab. Alkitab kita bukanlah buku kuno yang berisi dongeng, melainkan suatu catatan sejarah yang akurat. Oleh karena itu, janganlah kita anggap sepi cerita-cerita di dalam Alkitab. Walaupun beberapa di antaranya terdengar bagaikan “dongeng hebat” yang penuh dengan peristiwa fantastis, yakinilah bahwa semuanya itu sungguh-sungguh pernah terjadi di dalam sejarah umat manusia.

Allah kita adalah Allah yang berbicara dan berkarya melalui sejarah. Oleh karena itu sungguh bijaksana jika orang Kristen memperhatikan sejarah penyelamatan yang dilakukan oleh Allah.

Akan tetapi pada zaman sekarang, kekristenan mulai cenderung lebih suka pada hal-hal supranatural dan mencari-cari suara Allah di masa kini pada orang-orang tertentu, terkagum-kagum pada mukjizat-mukjizat serta mulai meninggalkan penyelidikan terhadap sejarah penyelamatan Allah di dalam Alkitab. Sikap semacam ini amat berbahaya, sebab bukan berarti bahwa Allah tidak mungkin lagi berbicara pada kita di masa kini. Bukan pula berarti bahwa mukjizat sudah tidak mungkin lagi terjadi di masa sekarang. Akan tetapi karena karya Allah yang sejati hanya dapat dipahami dengan benar melalui sejarah penyelamatan yang dituliskan dalam Alkitab, maka jika kita tinggalkan kebiasaan menggali Alkitab niscaya kita akan keliru dalam mengenal Dia.

Kita perlu memahami kenyataan bahwa mukjizat-mukjizat dan hal-hal supranatural tidak selalu datang dari Allah, iblis pun dapat melakukannya.[1] Keselamatan dari bencana dan marabahaya juga tidak selalu merupakan karya Tuhan, iblispun dapat melakukannya. Jika fokus kita hanya pada hal-hal demikian, maka jangan kaget jika banyak jiwa-jiwa kristen saat ini telah dibelenggu oleh si iblis. Iblis senang dengan orang Kristen kultural yaitu mereka yang dari luar nampak giat melibatkan diri dalam budaya-budaya khas Kristen namun yang tidak mau peduli atau tidak mau ambil pusing pada ajaran Firman.

Bukan tanpa alasan yang jelas jika Allah memilih untuk berkarya di dalam sejarah. Sebab dengan cara ini, maka tuduhan bahwa iman kristen bersifat subjektif dapat diantisipasi. Sejarah adalah sesuatu yang objektif, dapat dibuktikan misalnya melalui arkeologi atau berdasarkan saksi-saksi mata ataupun catatan-catatan yang telah dibuat oleh orang-orang yang terlibat.

Oleh karena itu, mengatakan percaya kepada Yesus (seharusnya) kini bukan lagi masalah pendapat pribadi karena hal tersebut sudah ditorehkan dalam sejarah. Untuk lebih jelasnya saya beri contoh: Karena sejarah mencatat bahwa Bung Karno adalah Presiden RI pertama, maka tidak mungkin ada yang dapat berkata. “Yah itukan menurut kamu, kalau menurut apa yang kupercaya sih bukan dia presiden RI pertama.”

Perkataan semacam itu menjadi aneh bukan? Sebab, menerima fakta sejarah tentang Bung Karno sebagai Presiden pertama RI bukanlah masalah pilihan pribadi yang bersifat subjektif. Suka atau tidak suka, percaya atau tidak percaya, kejadiannya sudah seperti itu dan banyak yang menyaksikan hal tersebut.

Dalam pengertian yang sama, karena peristiwa-peristiwa dalam Alkitab adalah peristiwa sejarah, maka tentu tidak dapat dibenarkan jika kini ada orang yang merasa bahwa percaya pada Yesus dan percaya pada Alkitab semata-mata adalah masalah pilihan pribadi.

Apakah merupakan masalah pilihan pribadi untuk percaya bahwa Matahari terbit di Timur? Apakah merupakan masalah pilihan pribadi untuk percaya bahwa Jerman pernah menyerang Polandia? Apakah merupakan pilihan subjektif untuk percaya bahwa Korea terbagi menjadi dua? Atau bahwa tembok Jerman telah runtuh?

Untuk sesuatu yang telah nyata dibuktikan oleh sejarah, sebenarnya tidak ada tempat bagi logika kita untuk menganggapnya sebagai sekedar  pilihan pribadi, bukan?

Janganlah kita tertipu oleh semangat zaman ini yang suka melupakan masa lalu. Zaman ini telah terlalu arogan di dalam kebodohannya. Sebagai orang Kristen kita justru harus mempelajari masa lalu, karena melalui sejarah-lah Allah kita telah berbicara.

Tugas kitalah kini untuk mempelajari kata-kata Allah di masa lalu dan menjadikannya bekal pelajaran bagi sikap hidup kita di masa sekarang. Inilah cara yang dipilih Allah untuk mengajar kita dan kita patut menghormati pilihan-Nya. Mari kita wartakan pula pengertian semacam ini pada orang-orang yang mau membuka hatinya untuk Tuhan, sehingga kewibawaan Alkitab dan kecintaan serta kerinduan untuk menggali sumber kehidupan daripadanya boleh kembali dijunjung tinggi di antara orang-orang percaya.

Tuhan memberkati. (Oleh: izar tirta).



[1] Baca dan renungkan Kel 7:11; Matius 24:24; Kis 8:9-11; 2 Tes 2:9-12

Friday, May 1, 2020

Mengapa Habel perlu digantikan oleh Set?

Eksposisi singkat Kejadian 4:25
 


Mengapa Habel yang kemudian mati dibunuh oleh Kain itu perlu digantikan oleh Set? Apakah hal tersebut merupakan suatu kebetulan saja? Ataukah ada makna rohani yang dapat kita renungkan dari keputusan Allah untuk menghadirkan Set sebagai pengganti dari Habel?
 
Dalam tulisan terdahulu kita telah banyak membicarakan kehidupan Kain dan Habel dengan segala lika-likunya. Termasuk segala ironi yang menyelimuti kehidupan mereka berdua.

Kain yang begitu diagungkan oleh orang tuanya, justru bertumbuh dewasa sebagai pria yang kejam dan tidak menghargai Tuhan. Sementara Habel yang kurang diharapkan kehadirannya ke dalam dunia ini, justru mendapat perkenanan di hati Allah.

Ironi berikutnya adalah, Kain yang jahat justru bertahan hidup dan mendapat banyak hal dalam dunia ini. Sedangkan Habel yang dikasihi Allah malah seakan-akan mati dengan sia-sia.

Dan terakhir, kita mungkin merasa heran pada realita jalan hidup Habel yang ternyata lebih mirip sebuah jalan kesia-siaan, sementara jalan hidup Kain-lah yang justru lebih terlihat bagaikan sebuah jalan kemuliaan.

Mengapa segalanya jadi terbolak-balik seperti ini?
Apakah Alkitab telah keliru ditulis? Saya yakin persoalannya bukan terletak pada Alkitab yang seolah telah keliru di tulis. Tetapi persoalannya ada pada kita, yaitu pada cara kita melihat dan menilai hidup ini, yang rupa-rupanya amat berbeda dengan cara Tuhan melihat.

Jika pada tulisan terdahulu saya mengakhiri penuturan dengan kisah kesuksesan Kain beserta kaum keturunannya, maka pada tulisan kali ini, saya akan menyambung kisah tersebut dengan mengangkat kisah Habel, terutama setelah ia mati terbunuh. Benarkah pelita kebaikan Habel sudah redup sama sekali, digantikan oleh sinar kemuliaan duniawi ala Kain?

Jika demikian, bukankah hal itu seolah-olah berarti karya keselamatan Allah bagi manusia sudah gagal bahkan sebelum dimulai? Apakah Allah kita adalah Allah yang rencana-Nya gagal serta dikalahkan oleh kemuliaan manusia yang bersifat fana?

Kalau kita membaca novel atau menonton film drama, mungkin ending dari kisahnya memang adalah kemuliaan dan kesuksesan manusia. Tetapi ini adalah Alkitab. Ini adalah kisah Tuhan dan bukan terutama kisah tentang manusia. Melalui Alkitab kita berharap untuk melihat kemuliaan Tuhan dan bukan kemuliaan manusia. Dan kita bersyukur bahwa kisah permusuhan antara keturunan ular dan keturunan wanita itu, tidak berakhir pada kisah Kain dan Habel, tetapi masih terus berlanjut.

Adam bersetubuh pula dengan isterinya, lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Set, sebab katanya: "Allah telah mengaruniakan kepadaku anak yang lain sebagai ganti Habel; sebab Kain telah membunuhnya." (Kej 4:25)

Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Set merupakan karunia bagi Adam dan Hawa dari Allah, sebab Set adalah pengganti dari Habel yang telah dibunuh oleh Kain. Sungguh luar biasa bukan? Betapa baiknya Allah bahkan terhadap manusia yang telah berdosa.
 
Jika kita bertanya-tanya, mengapa Habel perlu digantikan oleh Set, maka barangkali jawabannya adalah agar kita sadar bahwa kisah Habel belum berakhir. Ia sama sekali tidak dilupakan, baik oleh manusia, apalagi terutama oleh Tuhan. Keluarga Adam dan Hawa kembali dikaruniai seorang anak yang secara spesifik disebutkan bahwa anak itu adalah pengganti Habel. Di dalam Tuhan yang berdaulat, kekacauan seperti pembunuhan pun dapat diubah menjadi sebuah pengharapan.

Apa lagi yang dapat kita renugnkan dari pertanyaan, mengapa Habel perlu digantikan oleh Set?

Tuhan menggantikan kehadiran Habel karena sebetulnya ia adalah wakil dari keturunan perempuan, yaitu orang-orang yang mendapat anugerah untuk mengenal Tuhan. Semula Hawa menyangka bahwa Kain-lah yang merupakan keturunan yang akan meremukkan kepala si ular. Namun sang waktu telah membuktikan bahwa anggapan Hawa itu ternyata keliru. Kain tidak lain dan tidak bukan justru adalah keturunan si ular itu sendiri, yang memiliki jiwa menentang dan menantang Tuhan.

Dengan matinya Habel, bukan berarti bahwa harapan manusia akan datangnya keselamatan yang dari Tuhan akan pupus sama sekali, sebab Tuhan telah menghadirkan keturunan yang lain sebagai pengganti dirinya.

Kita bersyukur, bahwa Adam dan Hawa tidak secara langsung menerima kutukan dari Tuhan pada saat mereka jatuh ke dalam dosa. Adam dan Hawa memang dihukum oleh Tuhan, bahkan mengalami kematian ketika diusir dari hadirat Alah, namun mereka tidak dikutuk secara langsung seperti Kain. Hal ini memberi peluang pada Adam dan Hawa untuk masih bisa melahirkan keturunan yang tidak dikutuk oleh Tuhan.

Lahirnya Set membawa sukacita besar bagi keluarga Adam dan Hawa. Dengan sukacita pengharapan, Hawa menamai anak itu sambil mengkaitkannya secara langsung dengan Habel. Melalui Set, kita melihat bahwa sukacita Hawa telah dipulihkan kembali. Cara Hawa meresponi kelahiran Set mengingatkan kita pada kegembiraan wanita itu waktu pertama kali mendapatkan Kain.

Kita bersyukur bahwa walaupun Allah menghukum orang berdosa, namun cinta kasih-Nya yang besar itu masih memberi peluang bagi manusia untuk menikmati anugerah-Nya. Kita turut bergembira melihat Hawa yang seperti kembali mampu untuk tersenyum. Hawa pernah dua kali keliru menilai. Ia terlalu gembira atas Kain dan ia terlalu putus asa atas Habel. Dua-duanya sama kelirunya. Tapi kini, pada akhirnya, melalui kebaikan hati Tuhan, Hawa boleh kembali memiliki harapan.. and this time … for a good reason.

Hawa bukan saja kembali mengkaitkan kelahiran seorang anak dengan Tuhan, tetapi Hawa juga telah berhasil memandang Habel dari sudut pandang yang tepat. Anak yang sia-sia itu, ternyata dipandang benar oleh Tuhan. Anak yang sia-sia itu, ternyata merupakan bukti bahwa bagaimana pun juga Tuhan masih mengasihi umat manusia. Anak yang kurang diharapkan itu, ternyata justru menjadi cikal bakal dari pengharapan akan anugerah Tuhan. Melalui Set, anak pengganti Habel itu, sinar pengharapan kembali terbit di hati Hawa.

UNTUK DIRENUNGKAN
Kita dapat dengan mudahnya keliru dalam menilai kehidupan. Apa yang kita pikir penting, ternyata tidak dianggap penting oleh Tuhan. Apa yang kita anggap tidak berharga, ternyata memiliki nilai kekekalan di dalamnya. Kita butuh Firman Tuhan sebagai pedoman dalam menilai kehidupan di sekitar kita.

Keadaan yang tanpa harapan sekalipun tidak dapat menghalangi kebaikan Tuhan dalam memberi anugerah-Nya kepada manusia. Sebaliknya, keberhasilan dan kesuksesan hidup yang begitu kita dambakan, belum tentu merupakan representasi dari berkat yang sejati dari Tuhan kita. (Oleh: Izar Tirta)

Baca Artikel Kristen Lainnya:
Mengapa dunia kita penuh dengan bencana? Klik disini
Apakah kiamat sudah dekat? Klik disini