Showing posts with label Tanda keselamatan. Show all posts
Showing posts with label Tanda keselamatan. Show all posts

Wednesday, April 2, 2025

Tuhan Yesus tetap sama baik kemarin, hari ini dan selama-lamanya.

Renungan dari Ibrani 13:1-8

Tuhan Yesus tetap sama baik kemarin, hari ini dan selama-lamanya

 

 

Ibrani 13:1-8 1 Peliharalah kasih persaudaraan! 2 Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat. 3 Ingatlah akan orang-orang hukuman, karena kamu sendiri juga adalah orang-orang hukuman. Dan ingatlah akan orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini. 4 Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah. 5 Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." 6 Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" 7 Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka. 8 Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.

 

Dari ayat-ayat yang disebutkan di atas, ayat 8 adalah ayat yang sangat populer bagi orang Kristen, bahkan tidak sedikit mungkin yang hafal akan ayat tersebut. Ayat 8 tersebut memberitakan Kristus yang tidak pernah berubah, sekalipun seluruh dunia senantiasa mengalami perubahan. Sungguh suatu ayat yang sangat menguatkan dan memberi jaminan bahwa iman kita tidak akan sia-sia. Meskipun demikian, seringkali orang Kristen ternyata tidak membaca ayat 8 ini dalam konteks yang sesuai, melainkan mengambil ayat tersebut secara mandiri tanpa memberi perhatian yang cukup terhadap ayat 1 hingga ayat 7 yang mendahului ayat 8 tersebut.

 

Kalau kita lihat pada ayat 1 sampai dengan ayat 7, maka akan kita dapati bahwa ayat-ayat tersebut sebetulnya berisi prinsip-prinsip Kristen yang secara mudah dapat dipahami oleh orang Kristen, simple christian principles, yaitu hal-hal yang sangat mendasar di dalam kekristenan. Beberapa christian virtue sederhana yang bukan sekedar ajaran moralisme belaka, melainkan prinsip-prinisp yang senantiasa mengarahkan kita kepada Kristus.

 

Peliharalah kasih persaudaraan

 

Kasih persaudaraan atau philadelphia atau brotherly love adalah hal yang mendasar di dalam kekristenan. Alkitab mengajarkan bahwa kasih itu bukan hanya tentang emosi saja, melainkan juga harus dikaitkan dengan kepekaan untuk mencukupkan kebutuhan orang lain, sebagaimana yang seharusnya terjadi di antara sesama saudara di dalam sebuah keluarga.

 

Kekristenan tidak mengajarkan kita untuk secara muluk-muluk memikirkan kasih kepada orang di Afrika atau Antartika yang sangat jauh, bukan karena secara prinsip adalah keliru untuk memikirkan orang di Afrika dan Antartika tadi, tetapi Alkitab mau agar kita memulai gerakan cinta kasih itu dari orang-orang yang dekat terlebih dahulu. Alkitab ingin kita memiliki suatu kepekaan terhadap hal-hal sederhana yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kasih persaudaraan itu tidak hanya berlaku pada saat gereja sedang teraniaya saja, tetapi dapat pula diterapkan pada kehidupan gereja saat ini yang cenderung sangat individual (highly individualistic).

 

Jangan lupa memberi tumpangan

 

Memberi tumpangan adalah suatu perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh orang Kristen. Bagi penulis Ibrani, hal seperti itu sebenarnya merupakan basic christianity, bukan semata-mata karena pada masa itu belum banyak hotel atau tempat penginapan seperti sekarang, melainkan karena hal seperti itu berguna untuk melatih kita agar memiliki keluasan hati terhadap orang lain.

 

Gagasan seperti ini sangat relevan untuk direnungkan bagi kita yang hidup di masa kini, yaitu era yang cenderung bersifat invidualistik serta cenderung sulit untuk menerima orang lain masuk ke dalam area personal kita. Mungkin masih banyak orang yang rela untuk membantu orang lain yang sedang kesusahan, tetapi untuk memberi tumpangan kepada orang lain, hal itu sungguh amat berbeda sama sekali. Karena ketika kita membantu orang lain, setidaknya orang lain itu masih berada di luar area personal kita, tetapi ketika kita memberi tumpangan maka itu berarti kita harus membuka diri bagi orang lain untuk masuk ke dalam rumah kita dan bersinggungan secara langsung dengan kehidupan personal kita. Dan hal seperti ini tidak selalu mudah bagi semua orang, karena orang lain itu mungkin memiliki kebiasaan yang berbeda atau standar kebersihan yang berbeda sehingga kita merasa agak risih untuk hidup berdampingan dengan mereka walau dalam waktu yang relatif singkat.

 

Tetapi melalui cara seperti ini, Tuhan ingin melatih kita agar dapat lebih mengerti dan mengenal Pribadi Kristus yang sangat terbuka, sangat luas hati, sangat rela untuk ditumpangi (hospitable) oleh kita. Orang Kristen diundang untuk menjadi seperti Kristus yang rela membuka diri-Nya bagi orang, untuk dikotori oleh ketidaksucian mereka. Dari Alkitab kita melihat bahwa Tuhan Yesus bukan saja dikotori oleh kita, tetapi bahkan sampai mati oleh kekotoran dosa kita itu.

 

beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.

 

Abraham pernah dikunjungi oleh 3 orang yang ternyata bukan orang biasa-biasa saja, melainkan adalah Allah sendiri yang datang sambil didampingi oleh dua malaikat-Nya. Kita bisa mengetahui bahwa Orang itu adalah Tuhan karena Ia menerima penyembahan dari Abraham.

 

Kejadian 18:2 Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah,

 

Kehadiran Tuhan dalam wujud manusia yang datang menemui Abraham adalah suatu pendahuluan dari kehadiran Tuhan secara nyata sebagai Manusia di dalam diri Yesus Kristus. Pada era Abraham, Allah datang bukan melalui kelahiran sebagai seorang Manusia, melainkan sebagai perwujudan manusia yang biasa kita sebut sebagai Theophany. Kita tidak tahu persis, karena Alkitab juga tidak menyatakan pada kita, apakah yang hadir pada waktu itu adalah Allah Bapa ataukah Allah Anak, kita hanya tahu bahwa Alkitab menyebut-Nya sebagai Yahwe.

 

Melalui kisah tersebut kita disadarkan betapa Tuhan itu tidak jauh dari manusia. Ia yang adalah Mahakuasa dan Mahasuci, tidak segan-segan untuk datang kepada manusia, baik dalam perwujudan sementara sebagai manusia, maupun dalam wujud Manusia yang sesungguhnya dalam diri Tuhan Yesus, dan bahkan kehadiran Ilahi melalui sesama kita.

 

Tentang kehadiran Tuhan melalui sesama kita, hal itu tercatat dalam Matius 25:36-40 : 36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. 37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? 38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? 39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? 40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

 

Bagian ini juga mencatat tentang orang yang secara tidak sadar melakukan kebaikan pada orang lain yang ternyata adalah Tuhan sendiri. Artinya, orang yang mengenal Tuhan justru tidak menyadari kebaikan yang ada di dalam diri mereka sendiri. Orang masih sangat merasa dengan penuh kesadaran bahwa dirinya adalah orang baik, biasanya sebetulnya justru bukan orang yang sungguh-sungguh mengenal Tuhan.

 

Ingatlah akan orang-orang hukuman

 

Ayat 3 ini mengajarkan kita untuk ingat pada orang hukuman. Kita disadarkan bahwa orang lain juga susah, bukan cuma kita saja. Jika kita sadar hal itu maka kita bisa memiliki kindness atau kemurahan hati. Tapi jika kita merasa diri paling susah, maka sulit menjadi kind. Jika kita sadar bahwa kita juga adalah orang hukuman, maka kita juga perlu punya compassion pada orang lain yang juga ada dalam hukuman. Orang yang jarang gagal, maka sulit menerima orang yang gagal. Alkitab mengingatkan bahwa kita perlu mengasihani orang hukuman, bukan karena posisi kita ada di atas, melainkan karena kita juga sama-sama orang hukuman. Same eye level.

 

Tuhan yang ada di atas pun tidak terus berada di atas. Ia turun agar sama rendah dengan manusia berdosa. Bukan saja same eye level tetapi bahkan di bawah eye level orang lain. Yesus yang bukan orang hukuman, mau mengingat orang hukuman, bahkan menerima hukuman itu bagi manusia. Manusia sulit memahami hal ini, karena jangankan menerima hukuman, menerima salah perlakuan saja pun kita sulit. Kita ingin menjadi kaya agar tidak menerima perlakuan yang salah. Itu sebabnya kita sulit memhami perbuatan Kristus yang menanggung kesalahan orang, meskioun Ia tidak salah

 

hormat terhadap perkawinan … janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada

 

Ayat 4 bicara tentang rasa puas akan hal yang kita miliki, yaitu misalnya kesetiaan pada perkawinan, setia pada orang yang sama

 

Ayat 5 berkaitan dengan ayat 4, tidak ada rasa puas, menjadi serakah. Ada kaitan antara seksual immorality dan haus akan uang, yaitu dalam hal keserakahan. Contentment adalah rare jewel. Kita harus belajar merasa puas dengan kehadiran Tuhan. Ketimbang fokus mencari apa yang Tuhan bisa sediakan untuk menyenangkan hati kita. Lebih baik kita fokus pada bagaimana menyenangkan hati Tuhan.

 

Uang itu sangat bahaya, menyembah Tuhan atau mamon. Pelacur bisa diselamatkan, tetapi orang yang cinta uang punya kerajaannya sendiri yang berbeda dengan kerajaan Allah. Itu sebabnya ia tidak bisa menerima Tuhan, itu sebabnya Firman Tuhan tidak bisa masuk ke dalam telinga orang yang cinta akan uang. Contoh di dalam Alkitab tentang orang-orang yang cinta akan uang adalah Yudas, Akhan bin Zerah, pemuda kaya raya yang menemui Tuhan Yesus, Ananias dan Safira. Semua orang itu tidak mendapat keselamatan, bukan karena anugerah Tuhan terlalu kecil untuk menjangkau mereka, tetapi karena hati mereka yang begitu melekat pada kekayaan memang sangat sulit untuk memberi ruang kepada Tuhan.

 

Maka ibadah harus disertai rasa cukup. Belajar menerima Tuhan yang mencukupkan kita. Alkitab mengajarkan bahwa asalkan ada makanan, minuman dan pakaian maka sudah cukup. Salah satu kedewasaan dalam Tuhan, kita makin merasa reduction of needs. Makin tua harusnya makin sedikit kebutuan dan yang paling kita butuhkan adalah Tuhan. Itulah yang harus kita kejar.

 

Hamba uang tidak pernah merasa cukup, ia tidak mungkin mencintai Tuhan, yang ia kejar adalah uang yang lebih banyak untuk memenuhi keinginan yang tidak ada puasnya. Orang seperti ini akan end up di Neraka.

 

Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata

 

Iman kita mungkin lebih kecil daripada iman Musa, tetapi Allahnya Musa sama dengan Allahnya kita. Yang kuat bukan iman kita, tetapi Tuhan itulah yang kuat.

 

Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka

 

Kita perlu melihat akhir hidup orang-orang beriman karena dengan berakhirnya hidup mereka, kita tahu bahwa iman mereka sudah teruji. Kita mudah tertarik pada orang sukses, orang kaya, padahal seharusnya kita belajar dari pemimpin rohani yang imannya telah teruji.

 

8 Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.

 

Tuhan Yesus akan terus memberi pemimpin teladan. Tuhan akan tetap jadi teladan. Ia tetap sama dari dulu, menawarkan simple christianity. Kita bisa berubah, waktu dalam kesulitan kita sering berubah, tetapi Tuhan Yesus tidak pernah berubah.

 

Sunday, March 31, 2024

Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan

Apa yang harus kita pahami dari perkataan Amsal yang berbunyi “Takut akan Tuhan adalah permulaan dari pengetahuan.” tersebut?

Setidaknya ada 3 hal yang dapat kita renungkan, yaitu :

Pertama, bahwa di dalam hidup ini ada Tuhan yang harus ditakuti oleh manusia. Ini bukan sesuatu yang secara otomatis pasti dimiliki oleh semua orang di dunia. Banyak orang memiliki berbagai rasa takut di dalam hidupnya. Ada yang takut pada kematian, ada yang takut miskin, takut sakit, ada pula yang takut dilupakan, takut kepada setan, takut kepada orang-orang jahat dan masih banyak lagi. Tetapi Amsal mengingatkan bahwa ada sebuah rasa takut yang paling utama yang harus dimiliki manusia, yaitu takut kepada Tuhan.

Kedua, bahwa segala sesuatu yang dapat dicapai oleh rasio manusia, seperti intelektualitas, emosi dan kehendak, harus ditundukkan di bawah kuasa Tuhan. 

Daya pikir kita (intelektual) harus dikendaikan oleh rasa takut akan Tuhan. Kemampuan kita untuk berlogika seharusnya dipakai untuk mengerti dan mengenal Tuhan, bukan malah dipakai untuk menyerang, mendiskreditkan atau menghina Pribadi Tuhan.

Emosi perasaan kita harus dikendalikan untuk merasa takut kepada Tuhan, yaitu takut mengecewakan-Nya, takut membuat Tuhan sedih, takut membuat Tuhan marah, takut kurang mengasihi Tuhan. Bukankah di dalam hidup ini kita bisa merasa takut kurang berbuat semaksimal mungkin bagi orang yang kita kasihi? Misalnya, orang tua bisa merasa takut kurang memberi anaknya segala sesuatu yang terbaik. Seorang pacar bisa merasa takut kurang menunjukkan cinta kepada pasangannya. Jika kita sebagai manusia bisa merasa takut kurang memberi kepada manusia lainnya, mengapa kita tidak memiliki rasa takut yang sama kepada Tuhan?

Daya kehendak kita (willingness) sepatutnya digerakkan pula oleh rasa takut kepada Tuhan. Kita ingin belajar mengasihi, karena kita ingin menyenangkan Tuhan. Kita mau menjauhkan diri dari dosa karena kita takut menyakiti hati Tuhan.

Ketiga, segala yang dapat dicapai oleh rasio itu, suatu saat akan berhadapan dengan penghakiman Allah, harus dipertangungjawabkan kepada Allah. Pikiran kita akan dihakimi, emosi kita akan dihakimi, kehendak kita pun akan dihakimi oleh Tuhan.

Amsal 1:7 telah memberikan suatu gambaran tentang kondisi normal manusia sebagaimana Tuhan menciptakan kita, yaitu di mana Tuhan menjadi pusat dari kehidupan manusia.

Di sisi lain, aktivitas sehari-hari kita yang telah dipengaruhi oleh sifat berdosa, selalu cenderung mengalihkan perhatian kita dari Tuhan yang sejati, yaitu Tuhan yang harus ditakuti ini. Jangankan merasa takut, memikirkan Tuhan pun jarang, atau bahkan tidak sama sekali. Bagi banyak orang, Tuhan bahkan dianggap tidak ada, atau pun dianggap sebagai yang tidak memiliki keterkaitan dengan kehidupan manusia sehari-hari.

Berita-berita tentang kematian, berita-berita tentang bencana alam atau musibah apapun yang kita dengar atau baca melalui media massa, seringkali membuat kita merasa sangat gentar. Kita bertanya-tanya, bagaimana jika sendainya itu terjadi padaku? Apakah aku siap? Semua itu membuat kita sadar bahwa diri kita ini sangat rapuh.

Melalui berita kematian yang kita dengar sehari-hari, kita menjadi sadar, bahwa segala yang kita miliki selama ini telah membuat kita lupa betapa rapuhnya diri ini apabila dibandingkan dengan kematian itu sendiri. Segala yang kita anggap penting, tiba-tiba tidak ada artinya lagi apabila diperhadapkan dengan kematian.

Sebuah peristiwa kematian membuat kita sadar akan keterbatasan kita. Kita kembali diingatkan bahwa hidup kita sendiri pun suatu saat akan berakhir. Kita sadar bahwa kita sangat tidak berdaya. Ketika segalanya berjalan baik, kita selalu merasa bahwa kesulitan tidak mungkin datang pada kita. Kita selalu merasa bahwa diri kita cukup mampu menghadapi dunia ini. Berita kecelakaan dapat membuat kita menjadi sadar bahwa kita ini hanya manusia biasa, bukan Tuhan yang penuh kuasa.

Itu sebabnya, sangatlah wajar dan masuk akal untuk merasa takut kepada Tuhan. Jangan tunggu hingga bencana datang, untuk kita mulai merasa takut kepada Tuhan. Bacalah Alkitab, kenalilah Tuhan yang sejati itu, dan biarlah rasa takut kita kepada Tuhan menjadikan kita sebagai orang yang semakin hari semakin hidup di dalam perkenanan Tuhan.

Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Saturday, March 4, 2023

Perbedaan antara perbuatan daging dan Buah Roh



Rasul Paulus membuat sebuah perbandingan antara perbuatan daging dan Buah Roh. Kedua hal ini merupakan hal yang dapat terlihat melalui perbuatan sehari-hari seorang manusia. [Baca juga: Apakah kebangkitan Yesus Kristus hanya bersifat subjektif semata-mata? Klik disini.]

Dalam keseharian, kita senantiasa berbuat sesuatu, kita bertindak ini dan itu, melakukan ini dan itu, beraktivitas ini dan itu, sangat banyak sekali macamnya. Yang menjadi pertanyaan disini adalah, apakah segala Tindakan dan perbuatan itu merupakan perbuatan yang bersifat daging, ataukah perbuatan itu merupakan buah dari Roh Kudus?

Agar pembacanya tidak keliru, Rasul Paulus membuat perbandingan yang konkret beserta contoh-contoh atau ciri-ciri dari masing-masing sumber perbuatan tersebut.

 

Perbuatan daging

Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. (Galatia 5:19-21)

Di dalam tulisan tersebut, Rasul Paulus telah menyebutkan belasan contoh dari apa yang dimaksud dengan perbuatan daging. Dan agaknya belasan contohnya inipun masih belum cukup mewakili keseluruhan perbuatan daging manusia sehingga Rasul Paulus menambahkan kata “dan sebagainya.”

Perbuatan daging, sebagaimana disebutkan dalam contoh tersebut, merupakan perbuatan yang digerakkan oleh sifat keberdosaan kita. Alkitab mengajarkan bahwa sebagai manusia, yaitu semua manusia tanpa terkecuali, telah dicemari oleh dosa. Semenjak Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, kita semua pun turut mengambil bagian di dalam dosa tersebut. Akibatnya, segala perbuatan manusia itu, senantiasa dicemari atau digerakkan oleh sifat dosa. Perbuatan daging adalah produk natural yang dihasilkan oleh manusia yang telah jatuh ke dalam dosa.

Sifat dari perbuatan daging adalah fragmented, atau terpecah-pecah. Maksudnya, seseorang bisa saja tidak secara nyata terlibat dalam sihir, tetapi mungkin ia terlibat di dalam percabulan. Atau, seseorang bisa saja jarang menunjukkan amarah kepada orang lain, terlihat seperti orang yang sabar, tetapi mungkin saja diam-diam ternyata ia adalah orang yang suka dengki, mabuk dan penuh dengan hawa nafsu. Perbuatan yang satu bisa terpisah dari perbuatan yang lain.

Perbuatan daging bersifat plural (jamak). Ini sangat berbeda di dalam sifatnya apabila dibandingkan dengan Buah Roh yang bersifat singular.

 

Buah Roh

Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. (Galatia 5:22-23)

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Buah Roh itu bersifat singular atau tunggal, sebagai kontras dari perbuatan daging yang bersifat plural. Artinya, seseorang tidak bisa mengatakan bahwa ia kurang di dalam cinta kasih, tetapi ia adalah orang yang penuh sukacita. Hal itu tidak mungkin terjadi, sebab Buah Roh itu merupakan hasil dari Roh yang satu, bukan roh yang terpecah-pecah. Ketika Roh Kudus bekerja di dalam diri seseorang, menumbuhkan cinta kasih kepada Tuhan dan kepada sesama, maka pada saat yang bersamaan orang itu juga memiliki sukacita, damai sejahtera, kesabaran dan seterusnya. Inilah yang dimaksud dengan singularity atau ke-satu-an dari pekerjaan Roh Kudus dalam diri manusia.

Berbeda dengan perbuatan daging yang merupakan produk atau hasil dari dalam diri manusia itu sendiri, Buah Roh adalah hasil perbuatan dan pekerjaan Roh Kudus di dalam diri orang percaya. Roh Kudus-lah yang menganugerahkan seseorang untuk memiliki kasih sehingga secara bersamaan orang itu juga memiliki kualitas lain dari Buah Roh.

Manusia tidak bisa memiliki Buah Roh dengan kekuatannya sendiri, hanya melalui pengenalan akan Allah Tritunggal dan melalui persekutuan dengan Kristus Yesus, manusia diberi kemampuan atau anugerah oleh Roh Kudus untuk menghasilkan buah spiritual di dalam kehidupannya.

Allah Tritunggal menginginkan kita sekalian yang percaya kepada-Nya untuk menghasilkan Buah Roh. Tanda bahwa seseorang sudah diselamatkan adalah hadirnya buah Roh di dalam kehidupan orang itu. Apabila kita sendiri belum merasa memiliki buah Roh di dalam kehidupan kita, maka kita dapat meminta kepada Allah Tritunggal, agar Roh Kudus bekerja di dalam dirinya menghasilkan buah spiritual tersebut.

Tidak semua orang Kristen otomatis tertarik akan hal ini, banyak yang mungkin hanya tertarik pada konsepnya, atau suka pada idenya, atau setuju pada pengajarannya. Akan tetapi tidak semua orang Kristen akan merasa cemas atau memikirkan dengan serius, memeriksa diri dengan sungguh-sungguh apakah buah Roh sebagaimana yang disebutkan dalam Galatia itu sudah hadir ataukah belum di dalam kehidupannya. Jika kita termasuk orang yang demikian, kita patut bersyukur, sebab kecemasan seperti itu adalah kecemasan yang sehat, yang akan membawa kita kepada pertumbuhan rohani yang benar.

Banyak orang merasa cemas karena kurang memiliki uang dan harta benda di dalam kehidupannya. Tidak sedikit manusia yang merasa terganggu ketika kurang mendapat pengakuan atau kurang memperoleh pujian dari sesama manusia. Tetapi sayangnya, mereka sama sekali tidak merasa cemas atau bahkan tidak peduli ketika tidak ada kehadiran Buah Roh di dalam hidupnya.

Sesungguhnya kondisi seperti itu merupakan hal yang berbahaya, sebab jika seseorang ada dalam kondisi yang seperti demikian, dan apabila kondisi tersebut berlangsung dalam kurun waktu yang lama, serta bersifat terus menerus, maka sangat mungkin orang itu sebetulnya belum lahir baru, meskipun secara kasat mata ia adalah orang Kristen.

Kiranya Tuhan Yesus menolong kita untuk mengalami persekutuan di dalam Dia sehingga dapat menghasilkan buah kerohanian yang melimpah. Amin.