Saturday, January 1, 2022

Apakah kebangkitan Kristus hanya merupakan kepercayaan subjektif semata?

Apakah Yesus Kristus sungguh-sungguh bangkit dalam arti yang harafiah?
Ataukah kebangkitan-Nya itu hanya simbol dari kebangkitan semangat para murid saja?
Apakah kebangkitan Yesus Kristus itu merupakan peristiwa yang terjadi dalam sejarah?
Ataukah narasi kebangkitan itu hanya sebuah mitos belaka?

 

Kebangkitan Kristus bukan merupakan keyakinan subjektif belaka,
melainkan sebuah peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi di dalam sejarah

Tidak sedikit orang yang mengaku percaya pada kebangkitan Yesus Kristus, namun menganggap bahwa kebangkitan tersebut bukan betul-betul merupakan kebangkitan dari kematian dalam arti harafiah, melainkan hanyalah merupakan semacam kebangkitan semangat di dalam diri para murid Yesus semata. Keyakinan seperti ini tidak benar. Alkitab tidak pernah mengajarkan demikian. Para murid sedang dalam ketakutan yang amat sangat, darimana timbulnya kekuatan iman mereka apabila bukan disebabkan oleh Kristus yang sungguh-sungguh bangkit?

Alkitab mengajarkan dengan jelas bahwa Yesus Kristus sungguh-sungguh mati dan pada hari ketiga sungguh-sungguh bangkit dari kematian dan hidup selama-lamanya sebagai Raja yang berkuasa atas seluruh alam semesta, termasuk atas seluruh umat manusia.

 

Darimana keyakinan yang keliru terhadap kebangkitan itu berkembang?
Berikut ini adalah beberapa sumber untuk dipikirkan:

Di bawah ini kita akan coba melihat bagaimana keyakinan-keyakian yang keliru terhadap kebangkitan Yesus Kristus itu berkembang.

David Friedrich Strauss yang hidup pada abad 19 menyadari bahwa kebangkitan Kristus adalah pusat dari iman Kristen. Meskipun demikian, Strauss tidak melihat kebangkitan sebagai suatu peristiwa sejarah, melainkan sebagai suatu konsep pikiran yang subjektif dalam diri para murid.

Dalam bukunya, Alister E.McGrath menilai cara berpikir Strauss adalah sebagai berikut: Strauss was concerned to explain how Christians came to believe in the resurrection, when there was no objective historical basis for this belief. Strauss located the origin of the belief at the purely subjective level. Belief in the resurrection is not to be explained as a response to “a life objectively restore,” but is “a subjective conception in the mind.” Faith in the resurrection of Jesus is the outcome of an exaggerated “recollection of the personality of Jesus himself,” by which a memory has been projected into the idea of a living presence. [Alister E. McGrath, Christian Theology, 378]

Jika kebangkitan adalah hasil dari kumpulan kenangan akan Yesus Kristus maka seperti yang dikatakan oleh Strauss, maka kebangkitan tidak menghasilkan iman, melainkan justru imanlah yang menghasilkan kebangkitan. The resurrection, traditionally seen as the basis of Christian faith, was now viewed as its product. Christianity was seen as relating to the memory of a dead Jesus, rather than the celebration of a risen Christ. [Alister E. McGrath, Christian Theology, 379]

Rudolf Bultmann memiliki jalan pikiran yang sejalan dengan Strauss dalam melihat kebangkitan Tuhan Yesus dari sisi subjektif para murid. The resurrection is something which happened in the subjective experience of the disciples, not something which took place in the public arena of history. [Alister E. McGrath, Christian Theology, 379]

Mengenai Rudolf Bultmann, Stanley J.Grenz mengatakan: Rudolf Bultmann refused to speak of the resurrection as an event of past history. To him, the resurrection is neither the return of a dead man to life in this world nor the translation of Jesus to a life beyond; rather, it is the elevation of the Crucified One to the status of Lord. [Stanley J.Grenz, Theology for the Community of God, 257]

Sementara Donald Guthrie mengatakan bahwa Bultmann totally rejected the resurrection of Christ as an event [Donald Guthrie, New Testament Theology, 382]. Adapun alasan Bultmann untuk menolak hal tersebut adalah because it could not be demonstrated by scientific historical method. [Donald Guthrie, 382.]

Penekanan Bultmann, sebagaimana juga Strauss, jelas sekali pada sisi subjektif orang-orang yang percaya pada Kristus, dan bukan pada objektivitas peristiwa kebangkitan-Nya. Yang dimaksud dengan objektivitas dari peristiwa kebangkitan Yesus adalah diterimanya atau diakuinya kebangkitan itu sebagai suatu peristiwa sejarah. Bagi Bultmann hal ini tidak dapat diterima. Menurut George Eldon Ladd asumsi yang dipakai oleh Bultmann adalah demikian: Bultmann assumes that the place where God acts is in human existence and not in history. [George Eldon Ladd,  A Theology of the New Testament, 319.]

Kebangkitan yang dipahami oleh Bultmann adalah kebangkitan iman Paskah bukan kebangkitan tubuh Yesus Kristus. Kebangkitan iman Paskah adalah suatu peristiwa bangkitnya iman para murid pada waktu Paskah pertama setelah kematian-Nya. Donald Guthrie mengatakan: Bultmann is not referring to the event of the resurrection (which the NT affirms), but to the event of the rise of the Easter faith. [Donald Guthrie, New Testament Theology , 382]

Menurut Stanley J.Grenz, berbagai penolakan terhadap kebangkitan Yesus Kristus dapat diklasifikasikan dalam dua koridor yaitu kelompok yang menolak arti penting kebangkitan dari sudut pandang teologi dan kelompok lain yang membuat penafsiran yang radikal terhadap arti kebangkitan.

Baik kelompok pertama maupun kelompok yang kedua, hasil akhirnya adalah sama yaitu menolak peristiwa kebangkitan sebagai suatu peristiwa sejarah. Grenz mengatakan: Such denials range from the dismissal of the thological importance of the idea to the radical reinterpretation of its meaning. [Stanley J.Grenz, Theology for the Community of God, 256.]

Rudolf Bultmann yang penolakannya telah dibicarakan sebelumnya dapat dikategorikan dalam kelompok kedua. Sedangkan tokoh yang pemikirannya dapat dikategorikan dalam kelompok pertama adalah Friedrich Schleiermacher.

Schleiermacher mengatakan: For if the redeeming efficacy of Christ depends upon the being of God in Him and faith in Him is grounded on the impression that such a being of God indwells Him, then it is impossible to prove any immediate connection between these facts and that doctrine. The disciples recognized in Him the Son of God without having the faintest premonition of His resurrection and ascension, and we too may say the same of ourselves; moreover neither the spiritual presence wich He promised nor all that He said about His enduring influence upon those who remained behind is mediated through either of these two facts. [Friedrich Schleiermacher, The Christian Faith, ed. H.R. MacKintosh and J.S. Stewar (Edinburgh: T & T Clark, 2000), 362.]

Inti dari sikap Schleiermacher terhadap kebangkitan Yesus Kristus adalah bahwa kebangkitan tidak harus terjadi sebagai peristiwa sejarah sebab tanpa peristiwa itupun para rasul dan kita dapat tetap memiliki iman. Sikap semacam ini tentu saja amat berbeda dengan Paulus yang telah dikemukakan pada awal tulisan ini. Paulus justru melihat bahwa kebangkitan Yesus harus terjadi sebab jika tidak maka iman kita sia-sia dan status kita belum mengalami perubahan.

Selain Schleiermacher pada sisi satu dan Bultmann pada sisi lainnya, masih banyak lagi pemikir-pemikir lain yang masing-masing mengemukakan cara mereka melihat dan cara mereka menolak kebangkitan sebagai suatu peristiwa sejarah.

H.J Holtzmann misalnya, melihat kebangkitan bukan sebagai peristiwa sejarah melainkan sebagai suatu halusinasi di dalam pikiran rasul Petrus [Donald Guthrie, New Testament Theology , 381]. Halusinasi ini kemudian menular pula kepada murid-murid yang lain. Oleh karena itu bagi Holtzmann kebangkitan Yesus Kristus terjadi semata-mata hanya di dalam pikiran para murid saja.

Johannes Weiss dan Wilhelm Wrede yang berkiprah di awal abad 20 membuat beberapa modifikasi dari pemikir dan penentang abad 19. Gagasan mereka yang dicatat oleh Donald Guthrie adalah: Wrede conjured up a theory that after the death of Jesus his disciples thought of him as redeemer who would reappear, necessitating a belief in the resurrection which in turn led to his being thought of as Messiah. For Wrede, therefore, the resurrection was not an event at all, but the result of the church’s imagination. [Donald Guthrie, New Testament Theology , 381].

Tokoh lain bernama A.Schweitzer menyimpulkan bahwa kebangkitan Yesus pada dasarnya adalah kebangkitan yang terjadi di dalam diri setiap manusia yang percaya pada-Nya. [Donald Guthrie, New Testament Theology, 381.]

Variasi lain dari penolakan terhadap sifat historis kebangkitan dapat pula ditemukan dalam gagasan yang dikemukakan oleh E.Fuchs yang merupakan murid Bultmann. Fuchs berpendapat bahwa kemungkinan untuk mempercayai adanya suatu kebangkitan hanya terjadi jika seseorang berani untuk menjadi serupa dengan Yesus dan menerima anugerah Tuhan serta memelihara anugerah itu sampai mati. [Donald Guthrie, New Testament Theology, 383.]

Guthrie berpendapat: Although Fuchs’ position is nearer to history than Bultmann’s, he is still concerned with belief in the resurrection rather than with its event. [Donald Guthrie, New Testament Theology, 383.]

George Eldon Ladd menilai bahwa asumsi yang dipegang oleh para pemikir abad Pencerahan amat berperan penting dalam menghasilkan sikap yang menentang terhadap kebangkitan Yesus. Asumsi yang ada ketika itu dapat diringkas menjadi beberapa karakterisktik.

Ladd mengatakan: Many modern thinkers cannot accept this concept of God (who is creator and sutainer of all life and existence, who can neither be identified with his creation pantheistically nor separated from it deistically) . They assume that the world must always and everywhere be subject to inflexible “laws of nature.” There is no room for God to act in his world in ways that deviate from his usual ways of acting. Thus a prominent modern theologian flatly rejects the possibility that the resurrection of Jesus means the restoration to life of a dead body, for such and action is involved in a nuter miracle. Therefore, a historical fact which involves a resurrection from the dead is uterly inconceivable.” [George Eldon Ladd,  A Theology of the New Testament, 318.]

Dari kutipan ini dapat ditemukan tiga karakteristik tersebut yaitu:
Pertama, tidak mampu menerima konsep Allah sebagai pencipta dan pemelihara.
Kedua, mengasumsikan alam semesta hanya tunduk pada hukum alam.
Ketiga, tidak dapat menerima kenyataan bahwa Allah kadang bertindak di dalam sejarah dengan cara yang berbeda dari yang biasanya dapat diterima oleh manusia.

Pada akhirnya, ketiga karakteristik ini melahirkan sebuah kesimpulan yaitu menolak secara tegas kemugkinan adanya kebangkitan Yesus sebagai suatu peristiwa dimana sebuah mayat dipulihkan kondisinya hingga menjadi tubuh yang hidup kembali.

Menanggapi kisah-kisah di dalam Perjanjian Baru yang berkaitan dengan kebangkitan Yesus Kristus dari kematian, berbagai kemungkinan atau teori diusung oleh para penentang ini untuk menjelaskan bagaimana sikap mereka terhadap berita kebangkitan Perjanjian Baru.

Stanley J.Grenz mengidentifikasi beberapa teori populer yang berkembang pada abad modern dan bahkan masih berlaku hingga saat ini. Grenz mengatakan: The appeal to the empty tomb is controversial. Critics offer severeal other explanation for this phenomenon. Some suggest that the women, being strangers in the city, went to the wrong tomb… An ancient explanation is that the disciples of Jesus stole his body… The suggestion that the Jerusalem authorities took the body… Jesus did not actually die but merely went into a swoon… The supposes appearances were fabrications…The appearances were hallucinations or subjective visions. [Stanley J.Grenz, Theology for the Community of God,  258].

 

Akhir kata

Tuhan sendiri agaknya membuka ruang yang selebar-lebarnya bagi manusia untuk menyelidiki dan untuk menentang Firman-Nya. Berbagai alasan yang dikemukakan oleh para cendekiawan itu berakar pada satu hal, yaitu menilai diri sendiri lebih tinggi daripada perkataan Tuhan.

Bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita memilih untuk mendengarkan pikiran kita sendiri? Apakah kita lebih setuju dengan argumentasi para cendekiawan yang menolak berita kebangkitan Kristus? Ataukah kita memilih untuk mendengarkan perkataan Tuhan, meskipun belum semua hal dapat kita pahami dengan akal kita?

Kiranya Tuhan Yesus berbelas kasihan dan menolong kita. Amin. (Oleh: izar tirta)