Thursday, December 5, 2019

Jika Tuhan memanggilmu hari ini apakah engkau siap?

Jika Tuhan memanggilmu hari ini apakah engkau siap

Oleh: Izar Tirta

Versi Audio dapat didengarkan melalui Spotify atau Anchor.

Jika Tuhan memanggilmu hari ini, apakah engkau siap? Ini adalah suatu pertanyaan yang sangat personal dan penting untuk direnungkan, sebab siapakah yang tidak takut mati? Semua orang yang normal pasti memiliki rasa takut terhadap kematian. Kita takut berpisah dengan orang yang kita kasihi, kita takut berpisah dengan harta yang telah kita kumpulkan dengan susah payah dan terutama kita juga takut karena kita tidak tahu kemana akan pergi setelah kematian datang menjemput.

Semua orang berharap pergi ke sorga, tentu saja. Tetapi apakah kita pasti akan pergi ke sana sesuai harapan kita atau tidak, itu menjadi persoalan yang lain sama sekali.

Hati kecil kita sering memperingatkan kita bahwa sesungguhnya, di relung hati yang terdalam, kita ini adalah orang yang berdosa. Mungkin kita merasa lebih baik daripada teman kita, atau tetangga, atau pasangan hidup dan lain sebagainya, tetapi di balik itu semua, kita sadar bahwa kita adalah orang yang jauh dari sempurna, bahkan tidak bebas dari dosa.

Sementara di sisi lain, alam bawah sadar kita juga mengatakan bahwa Allah adalah Pencipta yang Mahagung, Mahasempurna dan Mahasuci. Bagaimana mungkin kita yang berdosa ini dapat berdiri di hadapan Allah yang Mahasuci seperti itu?

Anggaplah dalam satu hari kita berbuat dosa sebanyak tiga kali. Maka berapakah dalam satu tahun? Kita akan kedapatan telah 1.080 kali berbuat dosa bukan? Anggaplah kita hidup selama 70 tahun, maka pada saat meninggal, hutang dosa kita akan mencapai sekitar 70.000 dosa. Dengan jumlah dosa sebanyak ini, kita berharap dapat masuk sorga?

Sekalipun jika selama hidup ini kita telah berbuat baik, tetapi bagaimana mungkin Allah yang maha suci bisa menerima diri kita yang merupakan campuran antara dosa dan kebaikan?

Jika ada yang membuat telur dadar yang terdiri dari 9 telur baik dan 1 telur busuk, maka maukah kita memakan telur dadar campuran tersebut?

Tentu tidak bukan? Sebab walaupun yang baik ada 9 dan yang busuk hanya ada 1, tetapi kita tahu bahwa yang busuk itu sudah pasti akan mencemari 9 telur yang baik tadi. Dan hasilnya tetap merupakan suatu makanan yang menjijikan.

Jika kita saja tidak ingin makan telur campuran kebusukan tersebut, bagaimana mungkin kita berpikir bahwa Allah mau menerima kita yang memiliki dosa jauh lebih banyak daripada kebaikan?

Hati kecil kita sangat tahu bahwa Allah pasti akan menghukum kita akibat dosa-dosa tersebut dan salah satu alasan mengapa kita takut mati adalah karena nurani kita sendiri bersaksi bahwa kita ini sangat tidak layak untuk berdiri di hadapan Allah yang Mahasuci.

Ketika kita meninggal dunia nanti, bukan sorga yang sedang menantikan kita, melainkan Allah yang sedang murka terhadap diri kita yang berdosa ini.

Mengerikan sekali bukan?

Tetapi kita boleh bersyukur sebab Allah kita telah memberi jalan keluar dari permasalahan tersebut. Allah mengutus Yesus Kristus untuk menjadi Manusia. Dan sebagai Manusia Yesus telah mati di kayu salib untuk menanggung hukuman atas dosa-dosa kita tersebut. Apabila kita percaya kepada Yesus, maka Allah akan mengampuni kesalahan kita dan tidak akan menghukum kita atas dosa-dosa tersebut.

Ada tertulis:
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. (Yohanes 3:16,18)

Yesus Kristus amat mengasihi kita orang berdosa ini. Ia telah mati untuk menebus dosa kita, dan Ia telah bangkit untuk memberi kita hidup yang kekal. Mari kita datang kepada-Nya. Mari kita belajar untuk mengenal Dia melalui Firman-Nya.

[Baca juga: Perenungan dari Yohanes 3:16 dan 18. Klik di sini]

Pasti bukan kebetulan jika berita ini tiba di sini dan sekarang. Tuhan sedang ingin berbicara secara khusus pada kita. Jadi renungkanlah, jika Tuhan memanggilmu hari ini, apakah engkau siap?


Artikel lain:
Apakah kita dapat diampuni jika tidak tahu apa yang kita perbuat? Klik di sini.

Wednesday, November 27, 2019

Demokrasi : pilihan terbaik di antara yang buruk

Oleh: Izar Tirta

Pendahuluan

Iklim demokrasi sering kali menjadi impian berbagai bangsa di dunia. Masyarakat yang ingin agar demokrasi ditegakkan tidak jarang bahkan harus rela mengorbankan darah mereka demi terwujudnya cita-cita tersebut. Sebut saja perjuangan mahasiswa Cina di lapangan Tiananmen, atau perjuangan mahasiswa di Indonesia yang mengucurkan darah mahasiswa Trisakti sebagai contohnya. Mengapa demokrasi begitu menarik perhatian? Darimanakah asal usul pemikiran demokrasi ini? Dan benarkah demokrasi sungguh-sungguh merupakan pilihan terbaik bagi umat manusia dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air?

Menelusuri bibit demokrasi

Istilah demokrasi bukan bahasa asli Indonesia melainkan suatu serapan dari bahasa Yunani demokratia. Kata demokratia itu sendiri terdiri dari demos; yang artinya rakyat, dan kratein; yang artinya berkuasa. Sehingga demokrasi berarti “kekuasaan yang berada di tangan rakyat.” Sistem ini pertama kali diciptakan oleh Cleisthenes pada tahun 507 SM dan diterapkan oleh orang-orang Yunani di Atena. Namun tragisnya, sistem yang relatif baru lahir ini ternyata kemudian membuat seorang filsuf yang sangat terkenal, yaitu Socrates, menjadi korban pembunuhan yang diprakarsai oleh sekelompok orang tertentu.

Sebagaimana kita ketahui, Socrates adalah seorang filsuf. Dan sebagai orang yang gemar berpikir, Socrates suka sekali mempertanyakan segala sesuatu yang dilakukan oleh orang lain. Dari sisi Socrates, sikapnya yang cenderung vokal dalam mengajukan pertanyaan itu mungkin dianggap sebagai hal yang wajar, karena ia sangat mudah tertarik pada sesuatu dan senantiasa ingin tahu ini dan itu. Namun bagi orang lain, gaya Socrates yang vokal ini dinilai sangat mengganggu. Dan tanpa ia sadari, ternyata sikap vokalnya itu telah membuat beberapa petinggi Atena merasa amat tersinggung.

Sungguh celaka bagi Socrates, karena beberapa orang yang tersinggung ini ternyata secara licik berusaha memanfaatkan sistem demokrasi (di mana suara mayoritas dianggap menang) untuk menjatuhkan dia. Masyarakat yang berhasil terhasut oleh omongan para petinggi Atena itu, kemudian secara bulat setuju untuk menghukum Socrates. Filsuf malang itupun kemudian dijatuhi hukuman dengan tuduhan telah melakukan hal-hal yang tidak senonoh dan dianggap telah memberi pengaruh buruk bagi orang-orang muda Atena melalui berbagai ajaran yang aneh.[1] Tanpa mampu melawan, Socrates pun akhirnya terpaksa harus meminum Hemlock (sejenis racun) sebagai hukumannya. Peristiwa nahas itu terjadi kira-kira pada tahun 399 SM

Dari hal ini kita melihat bagaimana demokrasi di Atena telah begitu rupa disalahgunakan hingga mengakibatkan terbunuhnya seorang filsuf yang sangat cemerlang, hanya karena kebencian sekelompok orang tertentu kepadanya.

Perlu kita ketahui, bahwa meskipun Atena adalah negara yang pertama kali menerapkan sistem demokrasi, bukan berarti semangat demokrasi itu memang semata-mata lahir di sana. Jauh sebelum terjadinya peristiwa Socrates, ada sebuah bangsa yang memakai demokrasi untuk mengkudeta Raja mereka.

Israel adalah sebuah bangsa yang secara langsung dipimpin oleh Tuhan sendiri. Bentuk pemerintahan semacam itu disebut Theokrasi.[2] Tuhan bertindak sebagai Raja dan seorang manusia yang disebut sebagai Hakim bertindak sebagai wakil Tuhan dalam menyampaikan segala kehendak dan titah Sang Raja. Dengan sistem Theokrasi ini, bangsa Israel bertahan hidup cukup lama di tengah bangsa-bangsa lain di sekitar mereka yang tidak menganut sistem kebangsaan seperti mereka.

Namun pada sekitar tahun 1050 SM, ketika Samuel menjadi Hakim,[3] bangsa Israel mulai merasa iri terhadap bangsa-bangsa lain yang mereka temui. Mereka melihat bahwa bangsa-bangsa lain memiliki seorang raja dalam rupa seorang manusia yang dapat mereka lihat. Dan Israel menganggap bahwa raja manusia yang terlihat itu dapat menimbulkan rasa aman yang lebih ketimbang Tuhan yang tidak terlihat, sehingga Israel pun menginginkan seorang raja dari kalangan manusia sebagai ganti Tuhan yang selama ini memimpin mereka. Maka berkumpulah para tua-tua dari antara mereka sebagai wakil dari segenap suku bangsa untuk meminta kepada Samuel agar kepada mereka diberikan seorang raja.[4] Meskipun tidak ada satu kata “demokrasi”pun yang muncul dalam peristiwa tersebut, namun kita dapat melihat adanya praktek yang melibatkan semangat dan prinsip demokrasi di sini, yaitu ketika seluruh rakyat sepakat untuk mengemukakan suatu pendapat atau tuntutan kepada otoritas yang saat itu sedang berkuasa.

Jika kita bayangkan, betapa tragisnya peristiwa demokrasi yang terjadi di antara bangsa Israel ini. Raja yang berwenang ketika itu, yaitu Tuhan, ditolak oleh mereka dan sebagai gantinya mereka menuntut seorang raja yang lain. Dalam kosa kata perpolitikan modern, bukankah ini sama artinya dengan sebuah kudeta?

Raja yang “diturunkan” itu pun bukan tidak sadar akan situasi tersebut. Sepenggal kalimat sedih muncul dari mulut-Nya ketika Ia berbicara pada sang Hakim: “Bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Aku-lah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka.” (ayat 7) Namun luarbiasanya, Raja yang dikudeta ini tidak melawan melainkan justru membiarkan diri-Nya diganti oleh orang lain. Tapi mengapa? Apakah Tuhan berpikir bahwa orang lain memang lebih baik? Tentu tidak. Jawabannya mungkin mengejutkan bagi kita semua, yaitu bahwa Sang Raja, Tuhan semesta alam, ternyata menghargai demokrasi.

Semangat demokrasi adalah semangat yang wajar muncul di antara umat manusia. Manusia adalah peta teladan Allah, diciptakan sebagai ciptaan tertinggi dan termulia di atas bumi. Alkitab bahkan mencatat bahwa manusia diciptakan “hampir sama seperti[5] Allah”[6] Dan karena manusia adalah peta teladan Allah maka tidak heran jika manusia sebagai individu juga memiliki unsur intelegensia, emosi dan kehendak yang hampir sama dengan yang Allah miliki.

Dan demokrasi, tidak lain dan tidak bukan adalah perwujudan intelegensia, emosi dan kehendak dari sekelompok besar manusia.

Konsep dasar yang menjadi bibit dari pemikiran tentang demokrasi, paling baik dan lengkap dapat kita baca dari Kitab Kej 9:6 yang berkata: “Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.” Dalam ayat ini terkandung dua unsur penting dari terbentuknya demokrasi itu yaitu: pertama, manusia adalah makluk mulia (oleh karena itu pendapatnya harus didengar, emosinya harus diperhatikan dan kehendaknya harus dipertimbangkan) dan kedua, manusia diciptakan sederajat (harga satu nyawa sama dengan nyawa lainnya).

Itu sebabnya dapat dikatakan bahwa bibit demokrasi bukan pertama-tama muncul dalam pikiran filsafat Yunani, melainkan muncul dari ajaran Alkitab. Negara mana saja yang memiliki pengenalan yang baik terhadap Alkitab dan mengerti betul hakekat manusia sesuai Alkitab, cenderung akan menerapkan prinsip demokrasi.

Douglas F. Kelly, seorang profesor Teologi Sistematika di Reformed Theological Seminary, dalam salah satu bukunya telah menguraikan bagaimana pengaruh ajaran Kristen yang dirumuskan oleh John Calvin telah membawa kemerdekaan yang nyata bagi rakyat suatu negara yang mau menganutnya. Setidaknya ada lima negara dunia yang akhirnya terdorong untuk memperhatikan suara rakyat di dalam sistem pemerintahan mereka setelah dipengaruhi oleh ajaran Kristen yang dirumuskan oleh Calvin, yaitu Jenewa, Perancis, Scotlandia, Inggris dan tentu saja Amerika.[7] Di negara-negara ini, kedaulatan rakyat diakui oleh negara. Inggris sekalipun memiliki seorang raja, namun dalam kehidupan pemerintahan sehari-hari tetap menjalankan prinsip demokrasi yang diwadahi oleh adanya parlemen (sama seperti senat di Amerika). Raja di Inggris kini lebih bersifat sebagai simbol dan bentuk pemeliharaan tradisi daripada benar-benar sebagai penentu dan pelaksana jalannya pemerintahan.

Apakah demokrasi memang pilihan terbaik?

Ada beberapa bentuk pemerintahan yang dikenal di dunia. John Calvin dalam bukunya “Institutio” pada buku ke IV bab 20 membicarakan secara khusus tentang “Pemerintahan Sipil” (Of Civil Government). Dan dalam bagian itu, Calvin menyebutkan ada tiga bentuk pemerintahan yaitu Monarki, Aristokrasi dan Demokrasi. Calvin menulis:


“There are three kinds of civil government, namely, Monarchy, which is the domination of one only, whether he be called King or Duke, or otherwise; Aristocracy, which is a government composed of the chiefs and people of note; and Democracy which is a popular government, in which each of the people has power.”[8]

Kembali kita bertanya, apakah di antara bentuk-bentuk pemerintahan itu, demokrasi merupakan pilihan yang terbaik? Mungkin saja, namun dalam hal ini kita perlu juga mempertimbangkan contoh-contoh kasus yang sudah ada, yaitu paling tidak dua contoh kasus yang telah saya sebutkan dalam tulisan ini.

Dalam kasus Samuel, kita lihat bahwa demokrasi akhirnya justru telah membuat Israel salah dalam mengambil keputusan. Raja yang mereka pilih untuk menggantikan Tuhan, akhirnya malah membawa mereka pada konsekuensi-konsekuensi yang memberatkan mereka sendiri. Apalagi ketika raja pilihan mereka itu kemudian tidak mau taat kepada Tuhan yang adalah Raja di atas segala raja. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa demokrasi yang terjadi dalam peristiwa ini lebih membawa masyarakat kepada keburukan ketimbang kebaikan.

Dalam kasus Socrates, kita melihat kejadian yang tragis pula, yaitu ketika demokrasi dijadikan alat untuk menjatuhkan seseorang yang tidak disukai oleh sekelompok orang lainnya. Sehingga lagi-lagi dapat kita simpulkan bahwa sekalipun demokrasi itu mungkin baik, namun ternyata demokrasi dapat pula dijadikan sebagai alat yang mematikan bagi seseorang.

Dan terakhir, ada pula satu kasus yang dapat kita angkat yaitu peristiwa penyaliban Yesus Kristus. Rakyat dengan suara yang bulat memutuskan bahwa Tuhan Yesus harus disalibkan sesuai tuntutan mereka. Bahkan Pilatus sebagai otoritas yang berkuasa ketika itu pun, tidak berani menghadapi suara rakyat. Sehingga Pilatus akhirnya memilih untuk mencuci tangannya dan menyerahkan saja Tuhan Yesus kepada rakyat untuk disalibkan.[9]

Dari ketiga kasus ini, setidaknya kita dapat melihat suatu kelemahan dari demokrasi yaitu ketika sekelompok manusia, apalagi dalam jumlah yang sangat besar, menginginkan sesuatu maka hampir dipastikan keinginan mereka tercapai. Tapi masalahnya, bagaimana jika keinginan mereka adalah sesuatu yang buruk? Bukankah akan dicapai suatu keputusan yang buruk pula?

Menentukan kebenaran berdasarkan suara terbanyak belum tentu mencapai kebenaran itu sendiri. Suara mayoritas belum tentu merupakan kebenaran. Apalagi dalam kondisi keberdosaan manusia sekarang ini, demokrasi dapat dengan mudah dipakai sebagai alat untuk mencapai keputusan-keputusan yang menguntungkan kelompok tertentu. Tri Widodo Utomo dalam tulisannya di Kompas berjudul “Mencermati Gejala Demokrasi Korupsi” menguraikan bagaimana untuk melakukan korupsi pun dapat ditempuh dengan cara-cara yang demokratis yaitu melalui rapat, musyawarah, voting dlsb. Ia menulis :

Berdasarkan kenyataan yang ada, sangatlah tidak berlebihan jika kita katakan bahwa korupsi yang terjadi saat ini adalah democratic coruption atau korupsi demokratis, yakni korupsi yang dilakukan berdasarkan tata cara, kaidah-kaidah dan penerapan teori demokrasi. Bisa disebut demokratis karena korupsi dirasakan oleh lebih banyak orang/lembaga secara bersama-sama.[10]

Sudah hampir dua dekade berlalu sejak tulisan itu dimuat di surat kabar, siapa yang dapat mengatakan bahwa keadaannya kini sudah berubah menjadi lebih baik?

Akhir kata

Demokrasi memang baik, dalam arti bahwa sistem ini berusaha meminimalkan kemungkinan terjadinya kekuasan yang bersifat absolut dan berpusat pada pribadi tertentu. Saya tidak bermaksud mengecilkan arti demokrasi, bagaimanapun itu adalah salah satu sumbangsih dari kekristenan bagi dunia. Akan tetapi demokrasi pun dapat menjadi alat yang berbahaya ketika sekelompok manusia yang ada di dalamnya tidak dipimpin oleh kebijaksanaan Ilahi dan tidak memiliki standar moral yang tinggi.

Demokrasi adalah wujud dari hasrat manusia untuk hidup merdeka atau hidup bebas. Dan seperti yang telah saya uraikan dalam tulisan saya yang bertemakan tentang “Kebebasan,” tidak ada cara untuk mencapai kemerdekaan atau kebebasan atau bahkan demokrasi yang sejati sekalipun, selain jika seorang manusia atau sekelompok manusia dipimpin oleh kebenaran Firman Tuhan. “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh 8:31,32) Hanya jiwa-jiwa yang sudah dimerdekakan oleh Firman Tuhan sajalah yang dapat menjadikan demokrasi sebagai sistem yang benar-benar terbaik.

Semoga melalui tulisan yang amat singkat dan jauh dari sempurna ini, wawasan kita tentang pengaruh kekristenan pada demokrasi serta kelebihan dan kekurangan yang ada di dalamnya dapat semakin diperkaya.

Tuhan memberkati.

Beberapa pokok pikiran di dalam tulisan ini:
Apa itu demokrasi?
Darimana asal-usul demokrasi?
Apa hubungan antara Socrates dan demokrasi?
Apakah socrates telah dibunuh oleh demokrasi?
Sokrates meminum Hemlock
Penyalahgunaan Demokrasi di Yunani
Hubungan antara Alkitab dan Demokrasi.
Apakah demokrasi terdapat di Alkitab?
Apakah Tuhan menghargai demokrasi?
Apakah dasar alkitabiah untuk demokrasi?
Apakah demokrasi benar-benar merupakan pilihan terbaik untuk masyarakat?
Apakah yang menjadi tantangan dalam menjalankan sistem demokrasi yang baik?
Apakah ada hubungan antara demokrasi dengan Yesus Kristus?
Apakah Yesus juga dibunuh oleh demokrasi?
Apakah suara terbanyak itu sudah pasti merupakan suara kebenaran?
Mencermati gejala Demokrasi Korupsi.
Apa yang tidak boleh dihilangkan jika demokrasi mau berjalan terus?




[1] Jika kita tidak suka pada seseorang, maka kita tinggal mencari-cari saja apa yang menjadi kelemahannya, karena bagaimana pun setiap orang pasti memiliki kelemahan. Lalu dengan beberapa upaya, kelemahan itu dapat dibuat sedemikian rupa sehingga semua orang yang melihat dapat membuat penafsiran yang amat buruk. Jika opini publik sudah terbentuk, maka publik dapat dengan mudah dikendalikan untuk membuat berbagai keputusan sesuai kehendak sang aktor intelektual. Hal seperti ini tentu saja dapat dikategorikan sebagai fitnah.
[2] Dari Theos dan kratein; kekuasaan pemerintahan ada di tangan Tuhan.
[3] 1 Samuel 7:15
[4] Kisah tersebut dapat dibaca dalam 1 Samuel 8.
[5] Namun harus diingat baik-baik: “hampir sama seperti” bukan berarti “adalah” Hampir sama seperti Allah berarti bukan Allah.
[6] Mazmur 8:6
[7] Lihat : Douglas F.Kelly, Munculnya Kemerdekaan di Dunia Modern (Surabaya: Momentum, 2001)
[8] Jonh Calvin, trans Henry Beveridge, Book IV of Institute of Christian Religion (Grand Rapid Michigan: Eerdmans Publishing Company, 1989), 656.
[9] Menurut tradisi, di hari tuanya Pilatus pergi untuk menikmati masa pensiun di daerah pegungan Alpen, di Swiss. Namun bukan ketenangan yang ia dapati, melainkan rasa sesal yang tidak berkesudahan. Pilatus terus menerus mencuci tangan sambil bergumam “..tidak bersalah…. tidak bersalah…” Bagi orang-orang di sekitarnya, Pilatus dianggap telah hilang ingatan. Namun yang terjadi mungkin jauh lebih mengerikan daripada itu, Pilatus mungkin sekali telah hilang dalam kekekalan karena ia telah menyerahkan Yesus Kristus yang ia tahu pasti tidak melakukan kesalahan apapun.
[10] Tri Widodo W Utomo, Mencermati Gejala “Demokrasi Korupsi,”  Kompas, 9 Sep 2002

Monday, February 11, 2019

Bagaimana kita bisa yakin bahwa Alkitab kita percayai itu berisikan berita yang benar?

Darimana kita tahu bahwa Alkitab yang kita miliki saat ini bukan kitab yang palsu?
Hal apa yang dapat dijadikan dasar bagi keyakinan kita?


Alkitab adalah Firman Kebenaran



Teofilus yang mulia, banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, (Lukas 1:1)



Buku "Dari Injil Lukas Bagi Kehidupan Masa Kini"

Pendahuluan

Berita tentang Yesus Kristus adalah berita yang menghebohkan pada abad pertama.Bagi mereka yang tidak mengenal Yesus, beritanya jadi heboh karena dari desus-desusnya, orang ini diduga berambisi untuk menjadi raja. Namun karena nasibnya kurang beruntung, belum sempat mencicipi kenikmatan menjadi raja, ia telah keburu ditangkap, digebuki dan disalib sampai mati sebagai pemberontak. [Baca Juga: Kesaksian sejarah sekuler tentang Yesus Kristus. Klik disini.]

Semasa hidupnya, pemberontak satu ini dianggap suka melecehkan hari Sabat, suka kumpul-kumpul bareng pelacur, duduk semeja dengan pemungut cukai, doyan makan, suka minum-minum dan bahkan pernah membual bisa membangun Bait Allah hanya dalam 3 hari saja. Benar-benar heboh, kisah orang aneh yang satu ini.

Kehebohan beritanya tidak selesai sampai di situ, pada hari ketiga setelah mati disalib, mayatnya dikabarkan hilang. Pemerintah dan pemuka agama menyiarkan berita bahwa mayat orang ini dicuri oleh para pengikutnya yang kemudian kabur karena takut mengalami nasib yang sama dengan pemberontak malang tersebut.

Bayangkan betapa hebohnya berita seperti itu, bukan?

Di sisi lain, kita orang yang percaya pada Yesus Kristus, merasa yakin bahwa bukan seperti itu ceritanya. Dia bukan pemberontak, bukan pembual dan bukan orang aneh. Dia telah bangkit dan kita sangat menghormati Dia. Kita yakin bahwa kisah yang disebutkan tadi adalah keliru.

Tapi masalahnya, bagaimana kita bisa yakin bahwa apa yang kita percayai itu adalah berita yang benar? Bagaimana kalau ternyata kitalah yang telah dibohongi selama ini?


Banyak orang
 
Kita bersyukur bahwa peristiwa Yesus bukanlah peristiwa yang subjektif, personal dan tertutup. Melainkan suatu berita yang objektif (tidak dipengaruhi oleh perasaan seseorang), komunal (melibatkan banyak orang) dan terbuka (dapat diselidiki, ditelusuri, serta dianalisa)

Ada banyak orang yang menyaksikan peristiwa itu. Hal ini menjadi penting karena dengan banyaknya orang yang menyaksikan, maka akan banyak pula pihak yang mengevaluasi dan menilai kebenaran peristiwa itu.

Sehingga jika berita itu akhirnya terdengar oleh kita dengan penuturan seperti yang kita ketahui kini, maka kita boleh merasa yakin bahwa berita itu benar adanya. Sebab jika berita itu tidak benar, maka sudah pasti berita tentang Yesus yang sampai kepada kita hari ini akan berbeda sekali. Jika saja Matius, Markus, Lukas dan Yohanes menyampaikan berita bohong tentang Yesus, maka sudah barang tentu berita mereka sudah habis terkoreksi oleh orang-orang yang hidup pada zaman mereka. Apalagi para pengikut Yesus pada umumnya bukan berasal dari kalangan yang terpandang. Tidak ada satu manusia pun yang akan ragu atau segan untuk “menghajar” mereka apabila mereka dianggap berbohong. Para pemberita Injil itu adalah orang-orang yang sederhana, jika orang lain dapat percaya pada berita mereka, maka hal itu terjadi karena yang mereka beritakan adalah kebenaran, bukan karena status atau penampilan mereka sendiri.

“Banyak orang,” kata Lukas, dan orang-orang itu tidak membantah, tidak mengoreksi, tidak mengubah berita tentang Yesus. Berita tentang pemberontak malang yang saya utarakan di awal tadi tidak pernah bertahan lama. Orang banyak yang dilukiskan oleh Lukas itu akhirnya menilai sendiri mana berita yang benar dan mana berita yang keliru.

Alkitab yang kita terima hari ini adalah tulisan yang sudah melewati ujian waktu dan uji kesaksian dari orang banyak tersebut. Berbagai penggalian arkeologi telah dilakukan, baik dengan tujuan untuk mendukung kesaksian Alkitab maupun untuk tujuan mendiskreditkannya. Tapi hingga hari ini, temuan demi temuan arkeologi justru semakin mengukuhkan bahwa berita yang disampaikan oleh Alkitab adalah kebenaran.

Alkitab adalah satu-satunya Kitab Suci yang terus menerus di challenge, baik oleh orang yang tulus mencari maupun oleh orang yang dikuasai oleh benci. Tidak ada satu system of belief yang telah mengalami tantangan, pertanyaan, dan pemeriksaan yang begitu mendetil seperti Alkitab.

Ada suatu kepercayaan di dunia ini yang melarang umatnya bertanya secara kritis terhadap tulisan kitab suci mereka. Ada ancaman yang serius bagi mereka yang nekat meneliti dan mempertanyakan isi kitab tersebut. Tetapi tidak demikian halnya dengan Alkitab. Siapa pun boleh membedahnya habis-habisan, entah dengan tujuan untuk mempermuliakan Firman-Nya, entah dengan tujuan menghina. Tidak sedikit orang yang begitu bencinya pada Yesus Kristus dan Alkitab sehingga mereka membedah Alkitab dengan maksud mencari titik kelemahan Yesus, serta berusaha membuktikan ketololan orang Kristen yang mau-maunya percaya pada Yesus.

Tetapi anehnya, tidak sedikit dari kelompok para pembenci ini yang justru malah bertemu dengan Yesus secara pribadi, lalu percaya kepada-Nya dan kemudian berbalik arah, gigih memberitakan kebenaran tentang Dia. Jadi kalau hingga sekarang ada orang yang merasa belum pernah bertemu dengan Yesus secara Pribadi melalui Alkitab, mungkin sekali hal itu terjadi karena orang tersebut memang belum pernah membedah Alkitab habis-habisan. Sebab logikanya, orang yang benci saja bisa bertemu dengan Dia, masakan orang yang sungguh mencari malah tidak menemukan Dia??


Peristiwa yang telah terjadi di antara kita
 
Kisah tentang Yesus Kristus bukanlah suatu dongeng atau mitos, melainkan kisah yang di dasarkan pada peristiwa yang telah terjadi. Based on true story, kalau memakai istilah perfilman jaman sekarang.

Karena didasarkan pada peristiwa yang telah terjadi, maka Lukas dapat melakukan penelitian terhadap peristiwa tersebut. Anggaplah saya tergila-gila pada Spiderman, lalu saya bermaksud mencari rumahnya, kantor tempat dia bekerja, lokasi tempat dia biasa muncul sebagai pahlawan dan seterusnya. Apakah hal itu mungkin untuk dilakukan? Tentu tidak. Karena Spiderman adalah tokoh khayalan. Dia tidak nyata, maka tidak mungkin saya meneliti kehidupannya.

Lukas mengaku bahwa ia telah menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, sebelum ia membukukan hasil penyelidikan itu secara teratur untuk Teofilus (Lukas 1:3). Kita, sudah terpisah 2000 tahun dengan peristiwa itu, sehingga untuk kita mewawancarai Petrus, Paulus atau Zakheus sudah tidak mungkin lagi. Tapi thanks to Lukas, kita dapat mempelajari hasil penelitiannya tersebut saat ini. [Baca juga: Siapakah Teofilus yang disebutkan oleh Lukas? Klik disini]

Terus terang saya suka agak sedih jika mendengar orang berkata bahwa masalah iman adalah masalah yang semata-mata bersifat subjektif. Kalau saya suka coklat, orang lain suka kopi maka saya setuju bahwa itu adalah persoalan subjektif. Kalau saya lebih suka pada Batman sementara orang lain lebih senang dengan Gatotkaca, maka saya setuju sekali jika hal itu ada di dalam wilayah subjektifitas masing-masing orang.

Tapi jika saya mengatakan bahwa matahari terbit di Timur, sementara orang lain yakin bahwa matahari terbit di Barat, dapatkah hal semacam itu disebut sebagai “masalah keyakinan, tergantung subjektifitas masing-masing orang?” [Baca juga: Ketika langit bercerita. Klik disini]

Peristiwa tentang Yesus Kristus adalah peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi. Ada banyak orang yang menyaksikan peristiwa itu pada saat sedang berlangsung (kita sebut mereka saksi mata). Dan tak terbilang banyaknya orang yang meneliti dan membedah peristiwa tersebut dari berbagai disiplin ilmu.

Tidak ada orang yang mendapat ancaman pembunuhan karena bermaksud untuk meneliti Alkitab, mempertanyakan, bahkan menghinanya sekali pun. Dan hingga kini, berita Alkitab tetap merupakan kebenaran yang tidak tergoyahkan.

Seandainya saja orang yang keukeh mengatakan bahwa matahari terbit di Barat itu mau bangun lebih pagi dan mau belajar arah mata angin, dia akan tahu bahwa saya berkata benar.

Seandainya saja orang yang tidak percaya pada Yesus itu mau belajar Alkitab dengan baik, dia akan tahu bahwa Yesus memang adalah Tuhan dan Juruselamat satu-satunya yang tersedia bagi manusia. “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku,” itu pengakuan Yesus sendiri.

Kiranya Tuhan memberkati kita dengan keinginan untuk membuka hati dan mempelajari Alkitab dengan sungguh-sungguh, sehingga melaluinya kita boleh mengenal Yesus Kristus secara pribadi, sebagaimana Ia mau dikenal. Amin. (Oleh: Izar Tirta)


Baca juga:

Alkitab mengajarkan bahwa tanpa Yesus Kristus datang menyelamatkan kita, maka tidak seorangpun yang dapat diluputkan dari neraka. Baca perenungannya dalam Karena semua orang telah berbuat dosa. Klik disini.

Banyak orang yang mengaku percaya kepada Yesus Kristus, tetapi Alkitab memberikan kita petunjuk tentang seperti apakah orang percaya yang sejati itu. Mari kita memeriksa diri sendiri, apakah  kita sudah memiliki iman yang sejati? Klik disini.

Apakah yang lebih penting dari kebijaksanaan, kekuatan dan kekayaan? Klik disini.

Mengapa Bapa yang baik mengizinkan penderitaan? Klik disini



















Tuesday, February 5, 2019

Siapakah Teofilus dalam Lukas 1:1 ?



Siapakah Teofilus dalam Lukas


Siapakah Teofilus?
 
Injil Lukas di awali dengan kata-kata “Teofilus yang mulia.” Ini adalah suatu indikasi mengenai tujuan atau target pembaca, yaitu seseorang kepada siapakah Injil Lukas ini ditulis.[1] Pertanyaannya adalah, siapakah Teofilus itu? [Baca juga: Ketika hidup kita sangat kekurangan. Klik disini.]


Buku "Tafsiran Injil Lukas" menurut Matthew Henry.

Sepanjang sejarah Alkitab Perjanjian Baru, khususnya terkait Injil Lukas, muncul beragam pendapat mengenai siapakah sosok Teofilus ini. Ada yang mengatakan bahwa ia merupakan seorang Yahudi yang tinggal di daerah Alexandria. Ada pula yang mengatakan bahwa ia sebenarnya adalah seorang Romawi yang memiliki kedudukan tinggi di dalam pemerintahan, sehingga Lukas memberi tambahan kata-kata kratiste yaitu sama artinya dengan “yang mulia“ atau “optime” dalam bahasa Latin. Tetapi ada pula yang menganggap bahwa Teofilus ini sebenarnya adalah seorang ahli hukum (lawyer) yang mendampingi Paulus selama masa-masa pengadilan yang dihadapi oleh Paulus di kota Roma.

Apa pun pendapat yang dilontarkan oleh masing-masing pihak yang saling berbeda itu, sebenarnya tidak ada satu pun di antara mereka yang dapat memastikan bahwa pendapat merekalah yang paling benar dan merupakan argumentasi yang tidak tergoncangkan lagi. [Baca juga: Apakah yang dimaksud dengan iman? Klik disini.]

Agaknya semua pihak pada akhirnya setuju bahwa mereka sendiri pun tidak dapat memastikan siapakah Teofilus ini. Semua pendapat yang disampaikan itu hanya bersifat dugaan atau hipotesa yang tidak mudah juga untuk dibuktikan.

Lalu bagaimana dengan kita? Apakah istilah “Teofilus” ini kita lewatkan saja tanpa makna apa-apa? Atau, jangan-jangan, malah lebih baik kata ini kita hapus saja sekalian dari Alkitab kita?

Tentu saja hal itu tidak boleh terjadi, sebab Roh Kudus melalui Lukas telah berkenan untuk menaruh kata tersebut di dalam Alkitab kita. Sekalipun kita tidak (atau belum) mengenal siapa sebenarnya Teofilus ini, tapi saya pikir ada suatu makna yang dapat kita gali dari sosok yang misterius tersebut.

Saya ingin mengajak kita semua untuk kembali melihat baik-baik istilah ini. Dan tanpa bermaksud membuat sebuah penafsiran yang bersifat alegoris terhadap kata ini, saya pikir kata ini bukan tidak berbicara apa-apa sama sekali kepada kita.


Orang yang mengasihi Allah:
 
Istilah Teofilus sebenarnya terdiri dari dua kata yaitu Teos, yang berarti Allah dan Phileo, yang berarti kasih. Sehingga istilah Teofilus ini bisa kita artikan pula sebagai orang (maskulin, singular) yang mengasihi Allah. Atau ada pula yang menterjemahkannya sebagai sahabat Allah.

Sehingga berdasarkan pemahaman ini, ada pula yang berpendapat bahwa Lukas sebenarnya tidak menulis kepada orang tertentu yang sudah dia kenal, tetapi kepada siapa saja orang yang membaca Injil ini dan yang mengasihi Allah. Semacam “to whom it may concern” dalam istilah kita sekarang.

Bagi saya, terlepas dari berbagai ketidakpastian seputar jati diri Teofilus ini, ada satu hal yang dapat kita pastikan yaitu bahwa orang yang mengasihi Allah ini (siapa pun dia) telah menggerakkan orang lain (yaitu Lukas) untuk turut menunjukkan kasihnya kepada Allah (yaitu dengan menulis Injil ini).

Bukan suatu kebetulan, saya yakin, jika Tuhan Yesus pun pernah berkata seperti ini: dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku." (Yohanes 12:32)

Maksud Tuhan Yesus “ditinggikan dari bumi” adalah disalibkan. Melalui kematian Yesus di atas kayu salib, banyak orang di dunia yang tergerak untuk datang kepada-Nya.

Kasih Tuhan Yesus kepada Bapa-Nya telah menarik orang lain untuk turut mengasihi Allah.

William Carey adalah seorang berkebangsaan Inggris yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Ia pergi ke India pada tahun 1793 untuk memperkenalkan Yesus Kristus kepada orang-orang yang ada di sana.

Upaya Carey ditempuh dengan cara menterjemahkan Alkitab ke dalam sebanyak mungkin bahasa suku yang ada di India. Agar orang India dapat mengenal Tuhan Yesus melalui pembacaan Alkitab dalam bahasa mereka sendiri. Bukan perkara mudah tentunya bagi Carey, karena bahasa India bukanlah bahasa ibu bagi dirinya.

Dengan susah payah, didukung oleh mental sekuat baja dan kasihnya yang besar kepada Yesus Kristus Tuhan kita, akhirnya Carey berhasil membuat berbagai terjemahan Alkitab ke dalam bahasa suku-suku di India tersebut. Bahkan Carey kemudian berhasil membangun workshop untuk percetakan di daerah Serampore yang memproduksi Alkitab dalam bahasa-bahasa suku India tersebut.

Meskipun terbilang sederhana untuk ukuran jaman sekarang, namun boleh dikatakan bahwa inilah pabrik percetakan pertama yang ada di India pada saat itu. Dan bersamaan dengan itu Carey juga telah membuat berbagai Kamus bahasa India serta berbagai macam karya tulis yang semuanya ia persembahkan untuk kemuliaan nama Yesus Kristus di India.

Pada suatu hari, tepatnya tanggal 11 Maret 1812, ketika William Carey sedang mengajar Alkitab di daerah Calcuta, terjadilah suatu kebakaran pada lokasi percetakan yang berada di Serampore tersebut.

Masyarakat sekitar dan beberapa orang rekan pelayanan Carey berusaha sekuat tenaga untuk memadamkan api yang menjalar dengan cepat itu, namun tanpa hasil. Workshop percetakan William Carey, yang dibangun dengan tetesan keringat dan doa penuh air mata itu habis terbakar. Termasuk berbagai terjemahan, kamus, manuskrip dan buku-buku Kristen yang ia simpan dalam perpustakaan pribadinya.

Tanpa mengetahui sedikitpun akan musibah yang telah terjadi, sepulangnya Carey dari mengajar, ia mendapati bahwa percetakannya tersebut sudah habis terbakar. Semua Alkitab terjemahan bahasa suku itu, semua kamus, bahan tulisan, bahan riset yang telah ia kerjakan dengan sepenuh hati dan segenap jiwa itu, lenyap tak bersisa. Hanya sedikit sekali yang tersisa dari mesin-mesin cetak yang dulu ia miliki.

Hati William Carey hancur, ia menangis tersedu-sedu dan bertanya kepada Tuhan mengapa Ia mengizinkan semua ini terjadi? Bukankah semua ini ia lakukan demi mempermuliakan nama Tuhan? Tidak adakah yang dapat dilakukan oleh Allah Yang Mahakuasa untuk sekedar menghentikan api tersebut melalap habis segala jerih lelahnya selama ini? William Carey terpuruk dalam kesedihan dan nampaknya Tuhan pun diam seribu bahasa pada saat itu.

Apakah Tuhan benar-benar tidak perduli pada perjuangan William Carey? Apakah Tuhan entah kenapa kecewa padanya? Apakah Tuhan adalah sejenis makhluk supranatural yang berhati dingin,  kejam serta tidak tahu bagaimana menghargai perjuangan orang yang sudah begitu tulus melayani Dia?

Tuhan tentu saja sangat mengasihi William Carey. Namun cara Tuhan bekerja, tidak selalu sama dengan cara berpikir kita. Dalam beberapa waktu kemudian, Carey pun mulai pulih dan berangsur-angsur bangkit dari kesedihannya. Di sela-sela sisa air matanya Carey berkata: “Tuhan pernah memimpinku dalam pembuatan Alkitab terjemahan itu hingga selesai. Biarlah Tuhan memimpinku sekali lagi mulai dari awal kembali.” Carey belum memahami makna di balik peristiwa ini, tapi ia sudah bersedia untuk mulai dari awal lagi.

Sementara itu, tanpa Carey ketahui, kisah kebakaran hebat yang menimpa percetakannya itu, bergema di seluruh benua Eropa, Inggris, Amerika dan bahkan India sendiri. Banyak orang turut mencucurkan air mata, terharu akan perjuangan Carey yang begitu mengasihi Kristus dan mengasihi masyarakat India di Serampore, Calcuta dan daerah-daerahnya sekitarnya.

Dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama, terkumpullah sejumlah dana yang sangat besar yang akan dikirimkan oleh masyarakat dunia Barat kepada William Carey untuk membangun kembali percetakan Alkitabnya. Dana itu begitu besar, sampai kabarnya Carey beserta rekan-rekan sepelayanannya terpaksa menulis surat memohon agar jangan dikirimi uang lagi karena mereka agak kewalahan dalam mengelola dana sebanyak itu.

Dan bukan itu saja, bersamaan dengan dana bantuan tersebut, kisah kasih William Carey kepada Kristus dan orang-orang India tersebut akhirnya juga menggerakkan banyak sekali anak-anak muda Eropa dan Inggris untuk datang mendukung pelayanan William Carey. Bukan 1 atau 2 orang, tapi banyak sekali.

William Carey bukan saja berhasil membangun pabrik percetakan Alkitab yang lebih besar dari sebelumnya. Ia juga bahkan punya modal yang cukup untuk membangun sekolah dan universitas Kristen di Serampore. Pada tahun 1832, William Carey tercatat telah menyelesaikan penerjemaham Alkitab ke dalam 44 bahasa dan dialek India.

Cara Tuhan membalas kesetiaan dan cinta kasih William Carey tidak selalu dapat kita duga. Tuhan bekerja, dengan cara yang tidak selalu dapat kita pahami. Dan mungkin, kita semua memang tidak pernah dipanggil untuk senantiasa memahami apa yang terjadi dalam hidup kita. Melainkan Dia memanggil kita untuk senantiasa menjadi setia, betapa pun gelapnya jalan yang sedang kita tempuh. Tuhan Yesus memanggil kita untuk mempercayakan hidup kita ke dalam tangan-Nya, sekalipun kita tidak selalu mengerti akan rencana-Nya.

Teofilus telah menggerakkan hati Lukas untuk menulis. Yesus Kristus telah menggerakkan hati banyak orang untuk datang menyembah Bapa. William Carey telah menggerakkan hati banyak pemuda menyerahkan diri untuk melayani Tuhan.

Orang yang mengasihi Allah, akan menggerakkan pula orang lain untuk turut berbagian dalam mengasihi Allah.

Kiranya Tuhan memberkati kita dengan pengenalan akan Dia. Amin.


Catatan
[1] Hal ini muncul dalam Alkitab Bahasa Indonesia versi LAI. Dalam Alkitab Bahasa Inggris maupun dalam bahasa Yunani, istilah “Teofilus yang mulia” muncul pada ayat ke 3.
 
Baca Juga:
Apakah resep kehidupan yang berkelimpahan dan berhasil? Klik disini
Seperti apakah iman yang sejati itu? Klik disini
Apakah kita diselamatkan oleh kasih karunia atau oleh iman? Klik disini
Apakah yang dimaksud dengan bersaksi di dalam kuasa Roh Kudus? Klik disini
Karena begitu besar kasih Allah, apa maksud perkataan ini? Klik disini
Apakah hubungan antara Habel dan Kristus? Klik disini