Wednesday, May 24, 2023

Merenungkan kesederhanaan sosok Yesus Kristus sebagai orang Nazareth

 


Maka datanglah Yesus ... (Matius 3:13a)

Alkitab banyak bicara tentang kesederhanaan Tuhan Yesus. Ia yang adalah Allah Yang Mahakuasa, mau datang ke dalam dunia yang kotor oleh dosa. Dan ketika di dalam dunia pun Tuhan Yesus tidak memilih tempat tinggal yang terkenal, atau di kota besar yang megah, melainkan di sebuah desa kecil bernama Nazaret yang sama sekali tidak memberi kesan mengagumkan bagi siapapun yang mendengar nama tempat itu.

 

Buku "Merenungkan Kesengsaraan Tuhan Kita Yesus Kristus"
Klik disini.

Dalam Matius 3, Tuhan Yesus yang tinggal di wilayah Galilea itu, datang menemui Yohanes untuk dibaptiskan. Bukan Tuhan yang memerintahkan Yohanes untuk datang, tetapi Tuhan Yesus-lah yang datang menemui Yohanes. Inilah letak kesederhanaan Kristus. Ia adalah Allah yang datang untuk menjumpai manusia, dan Ia akan selalu merupakan Allah yang datang mencari, datang menjumpai, datang untuk menawarkan kasih kepada manusia.

Ironisnya adalah, meskipun Ia datang untuk mengasihi, tetapi Alkitab mencatat bahwa Yesus Kristus adalah Pribadi yang paling sering dijadikan bahan pergunjingan, perdebatan, serta desas desus di antara manusia, sejak era ketika Ia masih sering berjalan-jalan kian kemari menapaki jalur-jalur berdebu di Palestina, hingga pada era kita sekarang ini.

Ia adalah tokoh yang begitu dicintai, sekaligus begitu dibenci dan sering disalahpahami oleh manusia di sepanjang segala zaman. Ada orang-orang yang rela mati demi mengasihi Dia, tetapi tidak sedikit pula yang rela membunuh demi berusaha melenyapkan pengaruh ajaran yang disebarkan-Nya.

Demikian besarnya Nama Yesus hingga seumur hidup kita pun rasanya tidak akan cukup jika dipakai untuk membahas Tokoh yang satu itu. Namun dalam tulisan kali ini saya mengajak kita semua untuk memperhatikan sebagian kecil dari cara pandang-Nya terhadap sesama dan terhadap kehidupan, khususnya ditinjau dari peristiwa pembaptisan-Nya sebagaimana dicatat oleh Matius.

Semoga melaluinya kita dapat semakin mengenal sosok pria Yahudi yang semasa hidup-Nya sering membuat pernyataan-pernyataan kontroversial ini.


Sebuah desa bernama Nazaret

Semenjak kembali dari Mesir, Yusuf membawa keluarganya menetap di sebuah kota bernama Nazaret. Sebuah kampung kecil yang tidak terkenal dan jauh dari kesan megah serta terletak di dalam wilayah Galilea, yaitu Israel bagian Utara. Dan semenjak saat itulah, Tuhan Yesus bertumbuh dewasa dan menetap di desa tersebut bersama keluarga-Nya, sehingga nama tempat itu pun akhirnya akrab melekat pada diri Pribadi-Nya, Yesus si Orang Nazaret.

Bagi orang Yahudi, wilayah Israel Utara adalah wilayah yang dianggap kurang terberkati dibandingkan wilayah Selatan. Mengapa? 

Pertama, karena di wilayah Israel Selatan ada Bait Allah yang terletak di kota yang sangat terkenal, Yerusalem. Sudah jelas melalui sejarah Yahudi bahwa tempat itu adalah tempat kediaman Allah, tempat dimana Allah seringkali menyatakan kehadiran-Nya secara khusus.

Kedua, karena wilayah Utara, dahulu kala pada zaman raja-raja Israel masih berkuasa, adalah wilayah yang paling banyak diperintah oleh raja-raja yang jahat. Itu sebabnya wilayah Israel Utara inilah yang lebih dulu dihukum oleh Tuhan, melalui datangnya bangsa Asyur pada tahun 722 SM yang meluluhlantakkan kerajaan Israel Utara dan memboyong orang Israel sebagai tawanan ke Asyur. (Sebetulnya Israel Selatan tidak perlu merasa tinggi hati dengan kenyataan tersebut, sebab pada tahun 587 SM Allah mengirim pula bangsa Babel untuk meluluhlantakkan Israel Selatan karena mereka berdosa dan meninggalkan Tuhan. Warga Israel Selatan akhirnya ditawan pula dan digiring ke Babel. Dan kita mengenal peristiwa itu sebagai “pembuangan ke Babel.”)

Sepeninggalan orang Israel karena ditawan oleh Asyur, maka wilayah Utara yang terkenal dengan Danau Galilea yang indah itu, belakangan lebih banyak diisi oleh orang-orang non-Yahudi. Diperkirakan hanya sedikit populasi Yahudi yang masih tertinggal di sana. Dan bagi orang Yahudi, orang-orang non-Yahudi tersebut hanyalah warga kelas dua yang layak untuk dipandang dengan sebelah mata saja. Dalam pandangan orang Yahudi, wilayah Utara tempat Tuhan Yesus tinggal adalah wilayah bangsa-bangsa yang masih berjalan di dalam kegelapan (Yesaya 9:1).

Di sisi lain, Tuhan Yesus sendiri tidak pernah tercatat merasa malu karena menjadi warga Galilea yang dianggap kurang terberkati itu. Tuhan Yesus bahkan tidak malu dikenal sebagai warga kampung Nazaret. Salah seorang murid Kristus, yang bernama Natanael, pada waktu pertama kali bertemu dengan Tuhan Yesus, terkejut mengetahui bahwa Dia berasal dari Nazaret. Natanael berkata "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" (Yoh 1:46). Mengapa Natanael demikian terkejut dan merasa heran?

Natanael terkejut karena Nazaret benar-benar merupakan sebuah desa yang tidak terkenal sama sekali. Apabila kita mencoba mencari nama Nazaret disebutkan satu kali saja di dalam Perjanjian Lama, maka kita tidak akan berhasil. Sebab desa itu memang tidak pernah disinggung sama sekali dalam kitab Perjanjian Lama manapun. Tidak ada sejarah relijius apapun yang pernah terjadi berkenaan dengan kampung tempat tinggal Tuhan Yesus itu.

Natanael merasa heran, mungkinkah ada sesuatu yang baik datang dari Nazaret? Terlebih lagi, mungkinkah Mesias datang dari sana? Di dalam benak murid yang bingung itu, seorang Mesias seharusnya adalah Pribadi yang agung dan datang dari tempat yang agung pula. Bagaimana mungkin ada seorang yang diurapi oleh Allah tetapi datang dari tempat yang begitu tidak terberkati? Kampung yang tidak relijius sama sekali, dan terhitung sebagai wilayah kegelapan pula? Seandainya saja Tuhan Yesus berasal dari Yerusalem, tentu Natanael tidak akan seheran itu.


Mari menjadi pribadi yang rendah hati dan sederhana seperti Kristus

Penting bagi kita untuk merenung, jika Tuhan Yesus saja yang adalah Allah mau hadir ke dunia yang berdosa ini, jika Tuhan Yesus saja yang adalah Raja di atas segala raja mau datang menemui kita orang yang berdosa ini, maka apakah wajar jika kita sebagai pengikut-Nya tidak tergerak untuk melayani orang-orang yang berdosa melalui pelayanan kasih dan pelayanan Firman?

Tuhan Yesus tidak menjadi orang yang gengsi karena harus tinggal di sebuah desa kecil yang tidak terkenal sama sekali, bagaimana dengan kita? Apakah kita sendiri adalah orang yang merasa kurang percaya diri jika diketahui berasal dari daerah yang tidak terkenal? Apakah kita merasa malu jika diketahui orang sebagai orang yang sederhana? Mari kita belajar dari Yesus Kristus, Mesias yang rendah hati dan sangat sederhana itu. Tuhan memberkati. Amin.

Monday, May 1, 2023

Keselamatan kita adalah pemberian Allah (Efesus 2:8)


 

Keselamatan kita bukanlah hasil prosedur-prosedur mekanis seperti layaknya sebuah mesin. Atau hasil dari formula-formula tertentu yang tidak ubahnya seperti mantra belaka. Keselamatan kita adalah terutama tentang relasi atau hubungan pribadi dengan Allah yang telah memberi keselamatan itu sendiri.

Ada orang yang berpikir bahwa urusan rohani itu dimulai dari bagaimana kita mengucapkan kalimat-kalimat tertentu atau karena kita melakukan prosedur-prosedur tertentu. Ucapkan kalimat ini, maka engkau akan terhitung sebagai orang dengan kepercayaan ini, ucapkan kalimat itu, maka engkau adalah bagian dari jemaat agama itu. Naikkan doa ini sebanyak sepuluh kali lalu tambah dengan doa itu sebanyak dua puluh kali, maka engkau akan begini dan akan begitu. Kirimkan pesan ini kepada seratus teman maka sesuatu keajaiban akan terjadi, tetapi jika engkau tidak melakukannya maka bencana akan datang.

Ada begitu banyak model di dalam spiritualitas mekanik prosedural semacam itu yang bisa kita lihat di dalam kehidupan. Sebuah spiritualitas individuil yang tidak memiliki relasi dengan siapa-siapa kecuali dengan seberapa banyak kita telah melaksanakan hal-hal tertentu di dalam kehidupan ini.

Kamu udah berdoa berapa kali? 10 kali? Well.. aku sih udah 15 kali. Kamu udah berpuasa berapa kali dalam satu bulan? Tidak pernah? Wah.. aku sih puasa setiap hari. Relasi kita akhirnya terjalin bukan dengan Tuhan tetapi dengan angka-angka, dengan prosedur-prosedur, atau dalam bahasa yang lebih agamawi… dengan ritual-ritual. Cara-cara sesat semacam itu jelas bukan ajaran Alkitab… 

Meskipun demikian, orang Kristen pun tidak kebal dari kemungkinan untuk menyimpang ke arah situ. Jika kita melihat keselamatan sebagai anugerah, tetapi kita gagal melihat Siapa yang memberi anugerah, maka pada dasarnya kita salah melihat. Apabila kita melihat keselamatan sebagai hasil dari iman, tetapi gagal memandang kepada Siapa kita beriman, maka pada dasarnya kita juga telah keliru.

Kita tidak menjadi Kristen karena kita ini fasih atau lancar mengucapkan kalimat “aku percaya Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan.” Itu namanya mantra ! Kekristenan tidak pernah mengajarkan model spiritualitas ala password semacam itu. Sebab kalau kekristenan kita hanya dibangun dari ucapan-ucapan atau jargon-jargon seperti itu saja, maka iblis pun bisa kita masukkan ke dalam persekutuan Kristen, mengapa? Karena iblis pun pernah mengucap kalimat: “Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” (Markus 1:24)

Kita tidak diajar untuk menjadi Kristen ala password seperti itu, kita menjadi Kristen karena kita menjalin relasi kasih dengan Bapa melalui Kristus dengan pertolongan Roh Kudus. Ini adalah sesuatu yang tidak dilakukan oleh iblis, atau oleh siapapun yang ada di luar kerajaan Allah.

Anugerah adalah sesuatu yang indah, tetapi keindahannya bukan terletak di dalam anugerah itu sendiri, melainkan terletak di dalam Dia yang telah memberi anugerah. Iman adalah sesuatu yang berharga, tetapi esensi dari iman bukan terletak dari iman itu sendiri melainkan terletak pada Pribadi yang kita imani tersebut.

Di dalam dunia kita diajar, asalkan engkau cukup percaya, maka apapun yang engkau percayai akan berhasil. Kalimat semacam ini populer sekali di dalam dunia kita, tertama kalau kita ikut seminar-seminar marketing atau mendengarkan para motivator yang berusaha meyakinkan kita untuk menjadi orang yang sukses di dunia ini. Penekanan mereka adalah pada seberapa besar kepercayaanmu.

Alkitab mengajarkan, iman sebesar biji sesawi pun bisa memindahkan gunung, mengapa? Sebab yang terpenting bukan imannya sebesar apa, yang terpenting adalah kepada Siapa iman itu diletakkan. Yang memindahkan gunung bukan iman kita, tetapi Dia yang berkehendak melakukannya bagi kita di dalam kedaulatan-Nya. Alkitab bahkan berkali-kali mencatat orang-orang yang mengalami keragu-raguan namun tetap mendapat pertolongan dari Tuhan. Penekanan Alkitab adalah pada kebesaran Allah, bukan pada kebesaran iman seseorang.

Betapa berbedanya cara pandang dunia dan cara pandang Alkitab tentang arti sebuah kepercayaan. Oleh karena itu, sungguh memilukan jika mimbar gereja pun ada kalanya menyuarakan hal-hal yang tidak berbeda dengan suara-suara para motivator dunia tersebut, bukan?

Keselamatan kita adalah pemberian Allah, oleh karena itu, tujuan dari keselamatan kita pun bukan sekedar demi diluputkan dari neraka saja, melainkan agar kita dapat dengan bebas mencintai Allah yang telah menyelamatkan kita. Adakah hal ini menimbulkan suatu ketertarikan atau gairah di dalam hati kita? Ataukah kita malah menjadi kecewa karena menyangka keselamatan adalah tentang sesuatu yang lain??

Biarlah pertanyaan-pertanyaan semacam ini menjadi perenungan pribadi kita di hadapan Allah. Kiranya Tuhan memberkati kita, Amin.