Showing posts with label Dosa. Show all posts
Showing posts with label Dosa. Show all posts

Friday, November 28, 2025

Pelayanan, penangkapan dan pembunuhan terhadap Yohanes Pembaptis

 

Lukisan The Apparition, karya Gustave Moreau 1876. Kepala Yohanes Pembaptis yang terpenggal 


Matius 14:3-5 3Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya. 4Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: "Tidak halal engkau mengambil Herodias!" 5Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi.

 

Pelayanan Yohanes Pembaptis

Pertama kali nama Yohanes Pembaptis disebutkan di dalam Alkitab adalah dalam kitab Matius, yaitu: 1Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan:  2"Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Matius 3:1-2)

Kemunculan Yohanes Pembaptis cukup unik karena ia mula-mula tampil di padang gurun Yudea sambil membawa berita tentang kerajaan sorga. Mengapa hal ini menjadi sesuatu yang unik? Karena di daerah Yudea tersebut, terdapat kota Yerusalem dan di dalam kota Yerusalem ada Bait Allah. Seharusnya Bait Allah merupakan tempat di mana pemberitaan Firman itu berpusat, sebab di sanalah orang-orang Yahudi beribadah.

Tampilnya Yohanes Pembaptis di padang gurun, menjadi semacam pesan dari Tuhan kepada umat-Nya, bahwa Bait Allah yang ada saat itu telah gagal dalam menjalankan fungsinya sebagai Bait Allah, yaitu Rumah darimana Tuhan menyampaikan Firman-Nya kepada umat. Sedemikian rupa hingga Tuhan memilih padang gurun Yudea sebagai pusat pemberitaan Firman yang begitu penting bagi umat Tuhan, yaitu bertobat, karena kedatangan Kerajaan Sorga yang sudah semakin mendekat itu.

Yohanes Pembaptis bukan tokoh agama yang resmi diakui oleh organisasi keagamaan ketika itu, tetapi ia diakui dan ditunjuk oleh Allah sendiri untuk bekerja bagi-Nya. Bukan jabatan keagamaan yang terpenting di sini, tetapi berita apa yang dibawa oleh orang tersebutlah yang dianggap penting oleh Tuhan.

Kehadiran Yohanes Pembaptis, bahkan sudah diberitakan sejak sekitar 700 tahun sebelumnya, yaitu melalui nabi Yesaya, sebagaimana dikutip oleh Matius demikian: Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: "Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya." (Matius 3:3)

Jangankan jabatan, bahkan namanya pun tidak disebutkan, ia hanya diidentifikasikan sebagai: “suara orang yang berseru-seru di padang gurun.” Untuk menegaskan pada kita, bahwa ini semua bukan tentang Yohanes Pembaptis secara pribadi, bukan dia yang harus menjadi perhatian utama kita, tetapi berita apa yang sedang dia beritakan, itulah yang harus menjadi perhatian kita semua.

Injil Markus menambahkan suatu kebenaran lain tentang pelayanan Yohanes Pembaptis, selain sebagai suara atau pemberita Firman, yaitu sebagai Pembaptis (itu sebabnya ia dikenal sebagai Yohanes Pembaptis, sekaligus untuk membedakan dirinya dari Yohanes yang menjadi rasul Tuhan Yesus). Markus menulis demikian: 4demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu." 5Lalu datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di sungai Yordan. (Markus 1:4-5)

Jadi kalau kita bicara tentang pelayanan Yohanes Pembaptis, maka ada dua hal saja yang menjadi fokus pelayanannya, yaitu memberitakan Firman dan membaptis. Tidak banyak ragam pekerjaan, tidak menyandang gelar atau jabatan, tidak ada dukungan financial dari donatur, tidak ada fasilitas apalagi kemewahan, Yohanes Pembaptis bahkan tidak memiliki semacam gereja atau rumah atau bangunan yang bisa dipakai sebagai pusat pelayanannya tersebut. Alam itu sendirilah yang menjadi mimbar pelayanan Yohanes Pembaptis. Padang gurun dan sungai Yordan adalah mimbar ciptaan Allah bagi Yohanes dapat fokus memulai pelayanannya secara setia.

Mungkin ini bisa menjadi kritikan bagi kita yang terlalu overthinking di dalam menjalankan pelayanan. Kita menuntut bahwa harus ada fasilitas ini dan itu sebelum memulai pelayanan kita. Dan kita pun kadang ingin memegang begitu banyak ragam bidang pelayanan, terlibat di sini dan di sana. Tentu saja bukan berarti pasti keliru jika seseorang memegang begitu banyak ragam pelayanan, akan tetapi jika hal itu dilakukan hanya supaya kita dianggap penting oleh orang lain, barangkali kita harus bertobat dan belajar pada Yohanes Pembaptis.

 

Mengapa Yohanes Pembaptis di tangkap?

Pada suatu hari di sekitar tahun 28 – 29 Masehi, namun tidak diketahui kapan persisnya, Yohanes Pembaptis telah mengkritik Herodes Antipas secara terbuka karena ia telah mengambil istri saudaranya sebagai gundik.

Sebagai seorang yang dianggap nabi oleh masyarakat pada zaman itu, Yohanes Pembaptis tidak terikat oleh strata sosial tertentu sehingga ia mempunyai semacam kebebasan untuk berbicara kepada publik. Sangat mungkin teguran Yohanes kepada Herodes tersebut dilakukan melalui salah satu khotbah yang disampaikan oleh Yohanes kepada khalayak ramai.

Memang Yohanes Pembaptis adalah seorang nabi Allah yang sangat berani dalam menyuarakan kebenaran. Ketika ada suatu tindakan atau praktik yang di matanya merupakan tindakan yang tercela, maka Yohanes Pembaptis tidak segan-segan untuk mengkritik pelaku tindakan tercela tersebut. Sejak awal kemunculannya, Yohanes Pembaptis sudah mengkhotbahkan pertobatan dengan kalimat-kalimat yang cukup keras kepada masyarakat Israel. Alkitab misalnya mencatat salah satu peristiwa demikian: Lalu ia berkata kepada orang banyak yang datang kepadanya untuk dibaptis, katanya: "Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu melarikan diri dari murka yang akan datang? (Lukas 3:7)

Yohanes Pembaptis melihat dirinya sebagai wakil dari suara Allah untuk membawa manusia kepada pertobatan. Oleh karena itu, tidak terlalu mengherankan apabila Yohanes Pembaptis tidak ada keraguan sedikitpun untuk menegur orang-orang berdosa, bahkan jika orang berdosa itu adalah seorang penguasa seperti Herodes sekalipun.

Teguran Yohanes Pembaptis kepada Herodes yang disampaikan secara terbuka tersebut, rupanya kali ini menimbulkan kemarahan di dalam diri Herodes, sehingga ia segera memerintahkan penangkapan terhadap Yohanes Pembaptis.

 

Dimanakah Yohanes Pembaptis di penjarakan?

Rupanya kemarahan Herodes Antipas sudah sedemikian besar terhadap Yohanes Pembaptis sehingga ia, menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya

Sejarah memperkirakan bahwa Yohanes Pembaptis di penjarakan di benteng Machaerus, yang berlokasi di sebelah timur dari Laut Mati. Terletak di atas bukit dengan pemandangan yang indah ke arah Laut Mati, benteng ini menjadi tempat terakhir bagi Yohanes Pembaptis melihat kehidupan di dunia ini, karena disinilah ia dibunuh oleh Herodes dengan cara dipenggal.

Hingga saat ini, benteng Machaerus dikenal sebagai situs archaelogi penting yang juga menjadi tujuan wisata rohani. Karena segala sesuatu yang terjadi pada diri Yohanes Pembaptis, tempat itu pada saat ini dikenal pula sebagai The Sacred Town of John the Baptist.

 

Kapankah Yohanes Pembaptis di bunuh?

Diperkirakan pada tahun 30 Masehi, Herodes memerintahkan bawahannya untuk memenggal kepala Yohanes Pembaptis.

Semenjak merasa ditegur oleh Yohanes Pembaptis, Herodes sudah berkeinginan untuk membunuh Yohanes, akan tetapi ia belum berani bertindak sembarangan karena merasa takut pada orang banyak. Matius menulis demikian: 5Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. Itu sebabnya ada jarak sekitar 1 atau 2 tahun antara moment penangkapan hingga akhirnya Yohanes Pembaptis dibunuh.

Adapun yang menjadi pemicu terhadap pembunuhan Yohanes Pembaptis adalah justru berasal dari istri Herodes sendiri, yaitu Herodias yang sangat mungkin merasa sangat tersinggung pula oleh teguran yang dilontarkan oleh Yohanes Pembaptis.

Injil Matius mencatat peristiwa tragis yang menimpa Yohanes Pembaptis secara demikian: 6Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes, 7sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. 8Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: "Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam." 9Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. 10Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara 11dan kepala Yohanes itupun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. (Matius 14:6-11)

Dari sudut pandang dunia, kehidupan Yohanes Pembaptis kelihatan seperti orang yang mengalami nasib sial, sedangkan kehidupan Herodes justru terlihat seperti orang yang menang dan berhasil mengalahkan musuhnya. [Baca juga: Mengapa orang tega membunuh sesamanya? Klik disini.]

Tetapi dari sudut pandang Ilahi, justru orang seperti Yohanes Pembaptis adalah orang yang menerima hak istimewa sebagai martir. Yang rela kehilangan nyawa demi kebenaran Ilahi yang dipegangnya. Justru orang seperti Herodes dan Herodiaslah yang sedang menumpuk murka ilahi. Kemenangan sementara mereka hanyalah sebuah ilusi kehidupan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, jika mereka tidak bertobat, maka mereka akan berhadapan langsung dengan murka Ilahi yang menyala-nyala sebagai akibat dosa-dosa mereka.

 

Pelajaran apa yang kita peroleh dari hidup dan matinya Yohanes Pembaptis?

Dosa yang satu membawa pada dosa lainnya yang lebih besar

Herodes telah berdosa karena mengambil istri yang tidak seharusnya. Dosa tersebut membawa dia pada dosa berikutnya, yaitu menangkap dan bahkan muncuk keinginan untuk membunuh Yohanes Pembaptis. Ketimbang bertobat ketika mendapat teguran dari Yohanes Pembaptis, Herodes justru berusaha membungkam orang yang menyampaikan kebenaran itu kepadanya. Dan hasil akhirnya dapat kita lihat, Herodes yang sudah sedemikian terjerat di dalam dosanya, pada akhirnya tidak mampu untuk menghindar dari dosa yang bahkan lebih besar lagi yaitu benar-benar terlibat dalam pembunuhan terhadap Yohanes Pembaptis. Hati kecilnya mungkin takut untuk membunuh, tetapi konsekuensi dosa memang senantiasa akan membawa seseorang semakin dalam terjerat.

Kesetiaan pada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari jalan salib

Yohanes Pembaptis adalah saksi yang setia. Kesetiaannya kepada Tuhan tidak senantiasa membawa seseorang kepada kehidupan duniawi yang baik. Hidup Yohanes Pembaptis justru harus berakhir karena kesetiaannya dan keberaniannya dalam memberitakan Firman. Hal ini mengajarkan kita bahwa pengalaman nyata hidup di dalam Tuhan, tidak harus sama dengan pengalaman nyata hidup di dalam dunia ini. Ada kalanya hidup yang sejati di dalam Tuhan, justru dapat membawa kita pada kematian secara jasmaniah di dunia ini. Sebaliknya orang yang mempunyai hidup yang luar biasa di dunia ini, ditandai dengan banyak kekayaan, popularitas, banyak keberuntungan, tidak harus ditafsirkan bahwa ia pasti memiliki hidup di dalam Tuhan. [Baca Juga: Ham dikutuk Tuhan, namun keluarganya kaya dan berkuasa. Klik disini.]

Kiranya melalui kisah kehidupan, pelayanan dan kematian Yohanes Pembaptis, kita semakin dapat merefleksikan kehidupan kita sendiri di hadapan Tuhan. Apakah kita lebih mirip kehidupan Yohanes Pembaptis ataukah kita lebih sering hidup di dalam paradigma yang dianut oleh Herodes. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Baca juga:
Dari gelap menuju terang. Klik disini.

 

 

Saturday, November 2, 2024

Apakah Tuhan merestui hubungan cinta di antara kaum LGBTQ?

 Eksposisi Roma 1:25-32

 

Apakah Tuhan merestui hubungan cinta di antara kaum LGBTQ ?

 Maraknya gerakan LGBTQ justru merupakan tanda penghakiman Ilahi terhadap dunia ini

Berbeda dengan pandangan populer bahwa segala tindakan manusia diperbolehkan apabila dilandasi oleh cinta, Alkitab justru mengajarkan bahwa cinta terhadap objek yang salah, bukanlah cinta yang berasal dari Allah. Cinta itu tidak selalu benar, cinta baru dapat dikatakan benar, apabila objek dari cinta itu juga benar. Jika seseorang laki-laki mencintai istinya sendiri, maka hal itu dapat dibenarkan. Tetapi jika laki-laki itu mencintai istri temannya, sementara ia sendiri memiliki seorang istri, maka cinta kepada istri temannya itu adalah suatu kesalahan. Laki-laki itu tidak bisa dibenarkan karena cinta kepada orang yang salah, membuat cinta itu sendiri pun menjadi salah.

Cinta pada keadilan dan kebenaran adalah perbuatan yang benar, tetapi mencintai dosa adalah perbuatan yang tidak benar. Sekali lagi, cinta tidak selalu benar, cinta menjadi benar atau tidak benar, bergantung pada objek dari cinta itu sendiri.

Kaum LGBTQ memaksa semua orang untuk menerima pandangan hidup mereka, dengan argumentasi bahwa tindakan mereka didasarkan pada cinta. Tetapi Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa tindakan kaum LGBTQ adalah salah, karena cinta mereka diarahkan kepada objek yang salah.

Kitab Roma bahkan dengan tegas mengajarkan bahwa gerakan LGBTQ, sebagaimana yang menjadi sangat marak akhir-akhir ini, adalah sebuah tanda penghakiman Ilahi terhadap manusia, bukan tanda dari kemajuan cara berpikir masyarakat dari kalangan woke culture. (Woke Culture dalam definisi yang sederhana adalah sebuah gerakan yang mendukung ide-ide LGBTQ ini).

 

Roma 1:25-27
25 Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin. 26 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. 27 Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.

Menggantikan kebenaran Allah dengan dusta

Manusia membangun sendiri kebenaran menurut versi mereka, itu sama saja hidup dalam kebohongan, dan pasti akan berakhir dalam kesesatan yang memalukan. Dalam tulisan berjudul: Apakah keberadaan Allah sungguh-sungguh tersembunyi bagi manusia? [Klik disini.], saya sudah menjelaskan bahwa penolakan manusia untuk menyembah Allah telah mengakibatkan manusia tersesat di dalam penyembahan kepada objek-objek yang salah.

Di dalam kesesatannya, manusia kemudian jatuh ke dalam penyembahan kepada manusia, burung, binatang berkaki empat dan binatang menjalar. Ada suatu trend penurunan dari makhluk yang lebih tinggi dalam status sebagai ciptaan (yaitu manusia) menuju makhluk yang lebih rendah.  Dan binatang menjalar itu adalah gambaran dari binatang yang posisinya paling rendah, untuk mengajarkan bahwa kondisi kerohanian manusia yang menolak Allah, pasti akan mengalami penurunan menuju pada keadaan yang semakin rendah dan semakin memalukan.

Sebagai kelanjutan dari kondisi yang sudah buruk itu, Roma 1:25-27 mengajarkan bahwa di dalam murka-Nya, Tuhan bahkan akan melemparkan manusia ke dalam situasi dimana perbuatan mereka bahkan menjadi lebih hina daripada binatang menjalar. Mengapa dikatakan lebih hina?

Sebab serendah-rendahnya binatang menjalar, setidaknya binatang menjalar itu pun adalah ciptaan Tuhan. Tetapi kondisi dimana laki-lagi menjadi birahi terhadap laki-laki, dan perempuan birahi terhadap sesama perempuan, hal itu sama sekali bukan sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan sejak dari mulanya.

Kejadian 1:27, Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Menurut ayat di atas, hanya ada dua kategori gender yang diciptakan oleh Tuhan, yaitu laki-laki dan perempuan. Tidak ada transgender, tidak ada kategori lain seperti Queer, misalnya. (Istilah Queer mengacu atau berkaitan dengan identitas seksual atau gender yang berbeda dengan gagasan yang telah belaku tentang seksualitas dan gender, yaitu laki-laki dan perempuan).

Fakta bahwa di dalam masyarakat woke culture pada saat ini, muncul begitu banyak gender, seperti non-binary, biseksual, androgini, genderfluid dan lain sebagainya, adalah tanda bahwa manusia telah bermain-main untuk menjadi seperti Allah, menciptakan gender-gender baru sesuka hati mereka yang berbeda dengan gender yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Bukan Allah yang menciptakan sedemikian banyak gender, tetapi kebejatan hati manusia yang berdosa-lah yang telah menciptakan semua itu.

Kejadian 2:23-24, 23Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." 24Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

Menurut ayat-ayat di atas, hanya ada satu jenis perkawinan, yaitu perkawinan di antara laki-laki dan perempuan. Menurut ketetapan Tuhan, tidak pernah ada perkawinan yang boleh terjadi antara sesama lelaki atau sesama perempuan, sebagaimana yang diusung oleh kaum LGBTQ tersebut.

Oleh karena itu, berdasarkan kitab Roma, perbuatan sebagaimana yang dilakukan oleh kaum LGBTQ dalam kelompok masyarakat woke culture saat ini, adalah perbuatan yang bahkan lebih rendah atau lebih hina daripada binatang menjalar.

Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan

Sungguh aneh dan patut disayangkan bahwa hal yang sangat dibenci oleh Tuhan seperti gerakan LGBTQ itu, justru saat ini menjadi sebuah gerakan yang semakin luas diterima oleh masyarakat dunia. Dari sudut pandang kitab Roma, kondisi seperti ini semakin menegaskan bahwa dunia ini memang sedang menuju kebinasaan dan penghakiman Ilahi terhadap manusia sedang berlangsung.

Kalimat dalam kitab Roma menjelaskan bahwa hawa nafsu yang muncul di kalangan kaum LGBTQ adalah hawa nafsu yang memalukan. Dan hawa nafsu tersebut timbul karena Allah sendiri di dalam murka-Nya telah menyerahkan manusia ke dalamnya, sebagai sebuah tindakan penghukuman atas tindakan manusia yang terus menerus menolak Allah, terus menerus menginginkan apa yang cemar dan tidak mau belajar menginginkan apa yang suci, apa yang benar, apa yang mulia (Filipi 4:8)

Kalimat-kalimat yang muncul dari mulut kaum woke culture atau LGBTQ bahwa apa yang mereka lakukan adalah terserah mereka karena hidup adalah milik mereka sendiri, bahwa mereka dilahirkan seperti itu, bahwa mereka tidak bersalah karena semua perbuatan itu dilandaskan oleh cinta, dan lain sebagainya; semua itu pada dasarnya adalah sebuah kebohongan dan tidak ada kebenaran sama sekali. Yang benar adalah bahwa Allah sedang murka kepada manusia sehingga membiarkan segala kecemaran dan kesesatan seperti itu semakin berkembang.

Yang paling celaka dari semua ini adalah, masyarakat woke culture atau para pelaku LGBTQ ini justru merasa bangga dengan identitas baru mereka dan seringkali marah apabila ada orang yang tidak setuju pada mereka dan kerapkali memaksa orang lain untuk setuju dan menerima gagasan woke culture mereka. Tidak ada rasa bersalah sama sekali di dalam diri mereka, sebaliknya mereka justru mempersalahkan orang lain secara brutal dan membabi buta.

Bahwa kita harus menerima orang berdosa, itu adalah suatu hal yang diajarkan oleh Tuhan. Tetapi bahwa kita harus setuju dengan orang berdosa yang tidak berniat untuk bertobat dari dosanya, orang berdosa yang bahkan berani memaki orang lain yang tidak setuju pada keberdosaan mereka, hal itu merupakan suatu hal yang sama sekali tidak dapat dibenarkan.

Mengasihi seseorang yang bersalah adalah satu hal, dan itu memang penting untuk diupayakan. Tetapi mengatakan apa yang salah menjadi benar, dan menjadikan benar segala perbuatan yang salah, itu justru adalah perbuatan yang dibenci oleh Tuhan. Yesaya 5:20 berkata: Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan, yang mengubah pahit menjadi manis, dan manis menjadi pahit.

Orang Kristen justru harus tegas, memilah-milah antara yang benar dan yang salah, yang disetujui oleh Tuhan dan yang dimurkai oleh Tuhan. Jika Tuhan mengatakan bahwa perbuatan seperti LGBTQ itu adalah perbuatan yang lebih memalukan serta lebih rendah daripada binatang menjalar, maka sebagai orang Kristen kita tidak bisa berpendapat yang sebaliknya, seolah-olah kita ini lebih baik, lebih penuh cinta, lebih suci dan lebih tahu dibandingkan Tuhan sendiri. Yesaya 5:21 berkata: Celakalah mereka yang memandang dirinya bijaksana, yang menganggap dirinya pintar!

Kebijaksanaan kita haruslah berasal dari atau bertumpu pada Alkitab Firman Tuhan, bukan didasarkan pada logika atau perasaan kita sendiri.

 

Roma 1:28-30
28 Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: 29 penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. 30 Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, 31 tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan.

Tidak merasa perlu mengakui Allah

Perasaan bisa menipu, tidak bisa dijadikan tolok ukur, sebab meskipun hidup dalam kesesatan, manusia bisa merasa bahwa mereka baik-baik saja. Persis seperti Kain, yang mempunyai hidup yang baik, sukses, kaya, beruntung, tetapi tidak mengakui Allah, terpisah dari Allah, dikutuk oleh-Nya

Perasaan bisa menipu, itu sebabnya kita harus kembali kepada Alkitab untuk belajar mana yang benar dan mana yang salah, menurut kriteria yang telah ditetapkan oleh Tuhan.

Maka Allah menyerahkan mereka pada pikiran terkutuk

Kita sering berpikir bahwa karena Allah itu baik, karena Allah itu penyelamat, maka tidak mungkin Allah melakukan tindakan yang keras pada manusia. Ini suatu kesalahan yang fatal.

Allah adalah Pribadi yang bisa menyelamatkan, tetapi Allah juga bisa (dan akan) melemparkan manusia kepada sebuah kondisi celaka, bahkan ketika manusia masih ada di dunia ini, apabila manusia terus menerus membangkang, menghina dan melecehkan Pribadi Tuhan serta perintah-Nya.

Neraka itu nyata bagi orang yang sudah meninggal tanpa Tuhan, tetapi Alkitab mengajarkan bahwa di dunia pun manusia sudah dapat mencicipi neraka, yaitu ketika pikiran mereka dijauhkan dari Tuhan. Menurut Alkitab, di dalam kehidupan manusia hanya ada dua arah kehidupan, yaitu kehidupan yang semakin mendekat kepada Tuhan, atau kehidupan yang semakin menjauh dari Tuhan.

Kehidupan yang semakin mendekat kepada Tuhan adalah ciri dari kehidupan yang diberi anugerah oleh Tuhan, tetapi kehidupan manusia yang semakin menjauh dari Tuhan adalah ciri dari kehidupan yang sedang dibuang oleh Tuhan, sedang dibiarkan oleh Tuhan untuk masuk ke dalam jurang kehancuran dan kebinasaan.

Mereka melakukan apa yang tidak pantas

Pada akhirnya Tuhan akan menghakimi manusia berdasarkan kelakuannya. Orang yang sudah dibuang/dijauhkan oleh Tuhan, hatinya akan menjadi gelap, pikirannya sia-sia dan terkutuk serta kelakuannya menjadi semakin tidak pantas, dan persis seperti itulah yang terjadi pada kaum LGBTQ. Hati mereka gelap, penuh dengan kebencian pada orang lain yang tidak sesuai dengan mereka, pikiran mereka sia-sia yaitu ketika mereka berpikir bahwa perubatan mereka adalah perbuatan mulia yang dapat dibenarkan, dan kelakuan mereka pun menjadi semakin tidak pantas.

Meskipun secara kasat mata kehidupan sepertinya baik-baik saja, usaha mereka bisa saja mengalami kemajuan, kekayaan bertambah, mereka tidak pernah melanggar hukum yang berlaku (karena tinggal di negara yang melegalkan praktik tersebut), tetapi di hadapan Tuhan kelakuan mereka tidak berkenan sama sekali.

Hati yang serakah, dengki, membenci Allah, sombong, cinta uang, adalah kejahatan yang tidak selalu melanggar hukum di dunia. Tidak ada orang yang ditangkap oleh pihak berwajib, semata-mata karena sombong atau iri hati pada orang lain. Tetapi di mata Allah yang mahasuci, semua itu tetap saja merupakan buah dari pikiran terkutuk yang akan dihakimi di dalam kekekalan nanti.

 

Roma 1:32
32 Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya.

Mengetahui tuntutan (larangan) Allah namun tetap melakukan apa yang dilarang

Untuk ketiga kalinya Paulus mengatakan bahwa manusia itu bukanlah makhluk yang polos atau naif, bukan kurang informasi atau kurang pengetahuan.

Ayat 19 menegaskan, “karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata.” Lalu ayat 21 mengatakan, “sekalipun mereka mengenal Allah.” Dan terakhir ayat 32 berbunyi: “walau mereka mengetahui tuntutan Allah.”

Kita sering berasumsi bahwa di dunia ini ada orang yang karena hidup terpencil, lalu di dalam kemalangan mereka yang begitu miskin informasi, mereka akhirnya tidak tahu bahwa Allah itu ada. Tetapi jika kita membaca Roma 1, kita mendapati bahwa asumsi kita ternyata keliru. Di dalam kehidupan yang akan datang, tidak seorang pun dikatakan dapat berdalih bahwa mereka tidak pernah mendengar atau melihat atau merasakan kehadiran Allah (baca: Roma 1:20)

Menurut Roma 1 ini, bahkan sampai diulang berkali-kali, manusia sesungguhnya tahu bahwa Allah ada, Allah sendiri tidak pelit informasi tentang keberadaan-Nya, tetapi manusia sendirilah yang membuat diri mereka itu dibuang oleh Allah. Manusia sendirilah yang menjadikan diri mereka diserahkan kepada pikiran terkutuk dan dibiarkan dalam kegelapan oleh Allah.

Berbahagialah orang yang masih diberi kesempatan untuk mengenal Tuhan saat ini, karena Tuhan tidak selalu membuka pintu. Ada waktunya dimana Tuhan menutup pintu dan tidak ada lagi siapapun yang bisa membukanya.

Penutup

Melalui surat Roma, Paulus mengingatkan bahwa semua manusia berdosa, dan terkutuk di hadapan Allah. Mereka yang punya maupun tidak punya Taurat, sama terkutuk di hadapan Tuhan, karena semua orang telah memberontak terhadap Allah.

Tetapi Tuhan masih memberi kesempatan, Dia masih bersabar. Tuhan memberi kesempatan pada jemaat Roma, dan juga kita, untuk mendengar Injil Keselamatan di dalam Yesus Kristus.

Melalui Roma kita belajar betapa dalamnya kejatuhan manusia, betapa besarnya kejahatan manusia terhadap Tuhan, sehingga sepatutnya kita boleh semakin menghargai, betapa besarnya cinta kasih dan pengorbanan Tuhan yang masih mau memberi kesempatan pada kita untuk bertobat dan mengenal Dia serta mendapat pengampunan daripada-Nya. Kiranya Tuhan Yesus membekati dan menolong kita. AMIN