Friday, December 24, 2021

Yusuf si tukang kayu yang peka akan suara Tuhan


Dalam tulisan sebelumnya kita sudah merenungkan sosok Yusuf, seorang tukang kayu sederhana yang berhati tulus dan penuh dengan kasih karunia. [Baca: Yusuf si tukang kayu yang tulus hati. Klikdisini.] Dalam tulisan kali ini kita akan melihat sisi lain dari kepribadiannya, yaitu tentang kepekaannya akan suara Tuhan.

Tentang kepekaan Yusuf tersebut Alkitab menjelaskan: “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.” (Matius 1:24-25)

Bayangkan peristiwa itu, malaikat datang dalam mimpi ketika Yusuf sedang bergumul dalam membuat keputusan tentang hubungannya dengan Maria. Dan setelah bangun dari tidur, ia dengan penuh keyakinan segera “berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya.” Bukankah ini merupakan suatu tindakan iman yang luarbiasa? Hanya orang-orang yang peka akan suara Tuhan sajalah yang mampu bertindak seperti Yusuf. Dan kepekaan semacam ini tidak mungkin dibangun dalam tempo satu malam saja. Ada suatu latihan rohani yang disiplin dan tekun dibalik kepekaan semacam ini. [Baca juga: Apa artinya memiliki iman yang sejati? Klik disini.]

Sekalipun peristiwa itu hanya disampaikan secara singkat oleh penulis Alkitab, namun tidak sulit untuk membayangkan Yusuf sebagai seorang yang punya hubungan pribadi yang baik dengan Tuhannya. Ia mengenal suara Tuhan dan bersedia untuk bertindak sesuai dengan suara itu. Tidak semua orang punya kualitas seperti yang ditunjukkan oleh Yusuf. Inilah suatu tanda dari seseorang yang sungguh-sungguh mendapat anugerah dari Tuhan.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga cukup peka akan suara Tuhan? Kapan terakhir kali kita benar-benar merasa Tuhan berbicara melalui Firman-Nya? Kapan terakhir kali kita mencari wajah Tuhan untuk menikmati kehadiran-Nya dan mendengarkan suara-Nya? Jika kita cenderung lebih suka mendengarkan apa yang dikatakan dunia, apakah wajar jika kita berharap dapat memiliki kepekaan akan suara Tuhan?

Tim Keller, seorang teolog dan apologet Kristen, pernah memaparkan beberapa cara untuk menguji apakah diri kita seorang Kristen yang sudah lahir baru ataukah selama ini kita hanya kelihatannya saja seperti orang percaya, padahal bukan. Salah satu cara Keller yang saya pikir ada hubungannya dengan tema yang kita bicarakan saat ini adalah berkaitan dengan Firman Tuhan.

Keller meminta kita bertanya pada diri sendiri; Ayat Alkitab (atau perikop) apakah yang telah mengubah hidupku?” Bukan sekedar mengubah pengetahuan saja (dari tidak tahu menjadi tahu), tetapi mengubah hidup; termasuk pikiran, perasaan dan cara bertindak dalam keseharian. Orang percaya yang sudah lahir baru, pasti dapat menyebutkannya, bahkan bukan hanya satu ayat atau satu perikop saja, melainkan banyak. Mengapa? Sebab bagi mereka Alkitab adalah bagian yang tidak terpisahkan dari hidup. Dan mereka, yaitu orang percaya yang sudah lahir baru itupun, tetap adalah orang berdosa yang juga harus terus menerus ditegur dan dikoreksi oleh Firman, serta harus terus menerus bertobat (Baca juga. Perenungan dari Yohanes 3:16 dan 18. Klik disini.)

Tetapi orang yang mengaku percaya padahal belum mengalami kelahiran baru, tidak akan bisa mengidentifikasi dengan jujur, ayat Alkitab apa yang benar-benar telah menghantam sanubarinya, menegur hatinya sedemikian rupa, hingga menghasilkan suatu perubahan dalam hidupnya. Mengapa mereka tidak bisa? Sebab memang mereka tidak pernah punya hati untuk mendengarkan suara Tuhan.

Menurut saya, apa yang Keller paparkan bukan suatu teori yang tanpa dasar. Saya melihat keterkaitan antara gagasan Keller ini dengan perkataan Yesus Kristus sendiri, yaitu: Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku (Yoh 10:27). Artinya, orang yang tidak pernah mendengar suara Kristus berkata-kata kepadanya, sangat mungkin orang itu memang pada dasarnya bukan (belum menjadi) domba kepunyaan Kristus.

Lalu apa tandanya seseorang telah mendengarkan suara Tuhannya? Menurut Tuhan Yesus dalam ayat tadi, tandanya adalah orang itu akan “mengikut Aku.” Jadi bukan hanya mendengarkan, melainkan juga mengikuti apa yang didengarkan itu; ada suatu ketaatan, ada suatu perubahan dalam arah hidupnya. Sekarang pertanyaannya adalah: Apakah ini sungguh merupakan sebuah realita dalam kehidupan kita? Atau hanya sekedar suatu konsep teologi belaka? Biarlah masing-masing kita menjawab dengan jujur di hadapan Kristus Yesus.

Yusuf tidak ayal lagi adalah satu model dari manusia yang sangat peka dalam mendengar suara Tuhan. Secara manusiawi, sangat mungkin Yusuf masih galau akibat peristiwa yang terjadi antara dirinya dan Maria. Desas desus kehamilan Maria yang terjadi sebelum Yusuf dan Maria hidup sebagai suami istri tentulah menjadi suatu beban tersendiri bagi Yusuf. Namun di dalam segala kesulitan itu, Yusuf tetap memilih untuk taat pada suara Tuhan yang ia dengar. Dan luarbiasanya, bukan hanya satu kali Yusuf bertindak seperti itu.

Ketaatan semacam ini, kembali ditunjukkan Yusuf ketika ia sekali lagi diberi peringatan oleh malaikat melalui mimpi untuk menyingkir ke Mesir. Alkitab mencatat: nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia." Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, (Matius 2:13-14).

Saya yakin bahwa kesaksian Maria, Zakharia dan Elisabet turut menguatkan keyakinan Yusuf bahwa sesuatu yang dahsyat sedang terjadi. Tetapi hal itu tidak menghapuskan begitu saja kenyataan bahwa Yusuf memang adalah orang yang peka. Sebagai perbandingan, Zakharia dan Maria dikunjungi malaikat bukan ketika tertidur melainkan pada saat mereka berdua sedang dalam keadaan sadar. Tetapi kepada Yusuf, malaikat datang melalui sebuah mimpi, yaitu suatu cara berkomunikasi yang sangat halus dan tersamar.

Keberanian Yusuf dalam bertindak berdasarkan petunjuk yang samar-samar seperti itu, menunjukkan betapa peka hatinya akan suara Tuhan. Allah tidak perlu berteriak atau muncul dalam sosok yang eye-catching untuk bicara padanya, cukup melalui bisikan lembut lewat mimpi saja pun, Yusuf sudah bisa melakukan pekerjaan besar bagi kemuliaan-Nya. Berapa seringkah Tuhan telah berteriak pada kita, entah lewat mimbar, atau lewat tulisan, atau lewat peristiwa tertentu, tetapi hati kita yang dingin, keras dan acuh tak acuh ini tetap saja enggan untuk mendengarkan?

Kita tidak tahu berapa lama Yusuf menjalankan perannya sebagai ayah bagi Tuhan kita Yesus Kristus. Terakhir kali namanya dicatat adalah ketika Tuhan Yesus berusia 12 tahun dan mereka sekeluarga sedang pergi ke Bait Allah. Besar kemungkinan bahwa Yusuf telah tiada ketika Tuhan kita memulai pelayanan-Nya di tengah masyarakat pada usia 30 tahun.

Dan sekalipun Yusuf telah mendapatkan berkat melimpah dalam hidupnya karena dipercaya menjadi ayah bagi Sang Mesias, bukan berarti Yusuf lalu menjadi seorang yang terpandang bagaikan selebritis yang hidup makmur. Yusuf tetap menjalankan suatu hidup sederhana sebagai seorang tukang kayu. Hidup yang begitu biasa, di sebuah desa yang sama sekali tidak terpandang. Suatu jenis kehidupan yang mungkin tidak pernah kita minati atau impi-impikan. Hidup yang begitu jauh dari publisitas, glamour dan hingar bingar kesuksesan dunia.

Jadi jika kita mendengar ada yang berkata bahwa kalau seseorang diberkati Tuhan, maka hidupnya pasti akan jadi hebat, pasti kaya, sukses secara materi, pasti luput dari bahaya sakit penyakit dan lain sebagainya, cobalah untuk duduk sebentar dan memandang sosok Yusuf si tukang kayu Yahudi ini dalam keheningan. Jangankan punya banyak kekayaan, umur yang panjang pun dia tidak punya. [Baca juga: Apa yang lebih penting daripada kekayaan? Klik disini.]

Bagi banyak orang, Yusuf bagaikan sosok figuran yang namanya bahkan nyaris tenggelam dan dilupakan. Kiprahnya hampir tidak pernah kita angkat secara khusus dalam mimbar-mimbar gereja. Tetapi siapa di antara kita yang berani berada di posisi Yusuf ketika tanggung jawab dan risiko sebesar itu dibebankan ke atas pundaknya? Meskipun hanya tukang kayu sederhana, peran Yusuf sebagai orang percaya yang rela dipakai Tuhan tidaklah sedikit. Di tangan Yusuf-lah, Bapa telah mempercayakan Anak-Nya yang tunggal, Juruselamat kita, ketika Dia masih seorang bayi yang lemah.

Apa sajakah yang telah Tuhan percayakan di tangan kita? Bagaimana sikap kita terhadap tanggung jawab yang Tuhan berikan itu? Mari belajar dari Yusuf, hamba Tuhan yang sederhana namun tulus hati, setia dan peka akan suara Penciptanya ini. Kiranya kasih karunia dan belas kasihan Tuhan Yesus senantiasa mengisi hati kita. Amin. (Oleh: Izar Tirta)

 

Friday, December 17, 2021

Yusuf si tukang kayu yang tulus hati

 


Seberapa besar iman kita dapat diukur dari seberapa jauh kita berani menanggung risiko demi iman tersebut. Yusuf, tidak diragukan lagi, adalah seorang pria dengan iman yang kokoh. Ia berani melakukan apa yang benar, meskipun tahu bahwa apa yang ia lakukan itu akan mengakibatkan penderitaan bagi dirinya.

Yusuf sudah bertunangan dengan Maria ketika namanya mulai muncul di dalam pentas sejarah Alkitab. Untuk masyarakat Yahudi pada masa itu terdapat tiga tahap yang harus dilalui dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan yang akan menikah. Tahap pertama, kedua calon mempelai saling setuju untuk hidup sebagai satu kesatuan. Tahap kedua, persetujuan mereka berdua diumumkan kepada masyarakat umum atau orang-orang di sekitar hidup mereka. Pada tahap ini, hubungan mereka sudah bersifat mengikat satu sama lain dan hanya dapat dipisahkan oleh kematian atau perceraian. Meskipun demikian, hubungan seksual seperti layaknya suami istri masih belum diperkenankan. Tahap selanjutnya yaitu yang ketiga, pasangan muda mudi ini masuk ke dalam jenjang pernikahan dan tinggal bersama.

Ketika kisah antara Yusuf dan Maria muncul di Alkitab, hubungan mereka sudah berada pada tahap yang kedua. Artinya, hubungan mereka sudah berada pada situasi di mana masyakarat sudah mengetahui bahwa mereka adalah calon suami istri. [Baca juga: Pemberitahuan tentang Kelahiran Yesus Kristus menurut Injil Lukas. Klik disini.]

Ketika Maria memberi tahu Yusuf bahwa dirinya telah mengandung, Yusuf dapat saja menceraikan Maria dan membiarkan pihak-pihak yang berwenang menghukum Maria dengan cara melemparinya dengan batu sampai mati. Hal ini sesuai dengan hukum Yahudi seperti yang tertuang di dalam Ulangan 22:23-24 yang berbunyi: “Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan -- jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati. Demikianlah harus kau hapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.”

Secara manusiawi, fakta bahwa Maria sudah hamil hanya mungkin terjadi jika Maria memiliki pria lain yang telah menghamili dirinya. Sehingga dalam hal ini, Yusuf dapat saja mengumumkan perceraiannya dengan Maria secara terbuka agar masyarakat dan para pemimpin agama dapat mengetahui bahwa perceraian tersebut disebabkan karena Maria berkhianat pada calon suaminya. Dan dengan demikian pihak yang berwenang pun dapat menjatuhkan hukuman pada Maria (dan juga kepada pria misterius tersebut) sebagaimana yang telah diatur dalam Ulangan 22:23-24 tadi.

Namun luarbiasanya, sekalipun belum mengetahui siapa ayah dari bayi itu (yaitu sebelum malaikat datang menemui dia), Yusuf telah memutuskan untuk melepaskan Maria dari penghukuman. Ketimbang mengumumkan perceraian itu secara terbuka, Yusuf memilih untuk menceraikan Maria secara diam-diam. Karena hanya dengan cara ini Yusuf dapat memberi kesempatan pada Maria untuk hidup dan menikah dengan laki-laki lain yang telah menghamili dirinya itu.

Dari peristiwa ini kita tahu betapa baiknya kepribadian Yusuf. Sebagai laki-laki ia tentu merasa sakit hati karena menduga bahwa dirinya telah dikhianati oleh wanita yang dicintainya. Akan tetapi di dalam hal ini Yusuf memilih untuk menunjukkan tindakan kasih karunia daripada menjatuhkan penghakiman yang keras sesuai dengan perintah agama. Ketimbang membalas dendam atas sakit hatinya itu, rupanya Yusuf lebih memilih untuk memberi pengampunan.

Alkitab secara singkat menyebutkan karakter Yusuf ini sebagai “tulus hati.” (Matius 1:19) Dalam versi lain Alkitab, istilah yang dipakai adalah righteous sedangkan versi lainnya memakai istilah just. Sementara istilah Yunani yang dipakai adalah dikaios yang mengacu pada karakter yang suci, adil dan benar.

Di satu sisi kita mendapat informasi bahwa sesuai hukum agama, seharusnya Yusuf melaporkan Maria atas penyimpangan yang dibuatnya dan membiarkan gadis itu diproses secara hukum agama. Tetapi kini kita tahu pula bahwa Yusuf  ternyata disebut sebagai orang yang tulus hati justru ketika ia berniat menghindarkan Maria dari hukuman. Apa yang dapat kita pelajari di sini?

Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa rupanya menunjukkan kasih karunia kepada orang yang bersalah (atau dalam kasus Maria, dianggap bersalah) adalah lebih tinggi nilainya daripada semata-mata menjatuhi orang tersebut dengan hukuman. Kasih karunia adalah sifat Allah. Kasih karunia berarti memberikan kepada orang lain kesempatan atau ruang atau hadiah yang sebenarnya tidak patut diterima oleh orang itu.

Berapa banyak orang telah mati karena melanggar perintah agama? Atau berapa banyak pula orang telah mati karena dianggap tidak sesuai dengan aturan agama-agama tertentu? Mereka adalah orang-orang yang disebut kafir dan pendosa oleh orang-orang yang merasa dirinya telah cukup baik dalam menjalankan hukum dan perintah agama. Namun Allah justru datang untuk menunjukkan kasih karunia pada dunia melalui Yesus Kristus yang lahir untuk menyelamatkan kita dari dosa.

Seorang Yusuf paham bahwa di balik aturan-aturan agama tersimpan suatu makna yang dalam yaitu bagaimana mengasihi sesama seperti diri sendiri. Oleh karena itu Yusuf lebih memilih untuk tetap mengasihi Maria ketimbang menghukumnya. Dan bersyukurlah kita atas sikap Yusuf yang tulus hati ini, karena kemudian kebenaran itu pun dinyatakan oleh malaikat, bahwa sesungguhnya kehamilan Maria bukan disebabkan oleh karena suatu perzinahan melainkan karena pekerjaan Tuhan yang harus terjadi melalui Maria.

Moment kesalahpahaman yang Yusuf alami, telah memberi kesempatan padanya untuk belajar memberi kasih karunia, pengampunan, pengertian dan kesempatan kepada orang lain. Jadi, jika lain kali ada orang yang menyakiti hati kita, mungkin ada baiknya kita belajar bersabar sedikit dan mencoba menunjukkan kasih karunia pada orang itu, sebab siapa tahu pada saat itu Roh Kudus sedang melakukan sebuah pekerjaan besar di dunia ini melalui kita. Itu pernah terjadi pada Yusuf, dalam skala yang berlainan bukan tidak mungkin itu terjadi juga pada kita, iya kan?

Kiranya melalui moment Natal kali ini, kita bersedia meresponi undangan Tuhan untuk menunjukkan kasih karunia kepada orang-orang yang ada di sekitar kita. Mereka-mereka yang menyakiti hati kita, yang mengecewakan kita, yang membuat kita sedih, yang menyalahpahami kita, biarlah kita mengampuni dan bersabar terhadap mereka seperti Tuhan kita juga telah menunjukkan pengampunan dan kesabaran-Nya pada diri kita yang berdosa ini. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

(Oleh: Izar Tirta)

Monday, December 13, 2021

Kesaksian Sejarah Sekuler tentang Yesus Kristus


 

Apakah keberadaan Yesus Kristus hanya tercatat di dalam Alkitab saja?
Ataukah sejarah dunia pun sempat mencatat tentang keberadaan Dia?

Secara logika sederhana, apabila Yesus Kristus adalah seorang tokoh yang penting di dalam kehidupan manusia, bukankah cukup wajar jika keberadaannya tidak luput dari perhatian sejarah dunia yang tidak terkait dengan Alkitab?

Dalam tulisan sebelumnya saya sudah memaparkan bahwa tulisan Lukas merupakan karya yang dapat diyakini kebenarannya. [Klik di sini.] Ujian terhadap waktu, ujian dari para saksi mata serta otoritas yang diberikan oleh rasul Kristus adalah dasar-dasar yang kokoh bagi iman kita terhadap apa yang tertulis di dalam injil tersebut. [Klik di sini.]

Meskipun demikian, ada kelompok orang yang masih merasa perlu melihat kesesuaian catatan Lukas (dan penulis injil lain) dengan catatan sejarah. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya mencoba memaparkan bagaimana sejarawan sekuler mencatat peristiwa tentang Yesus Kristus tersebut.

Sebagai orang percaya, iman kita tidak bergantung pada kesaksian para sejarahwan sekuler ini. Iman kita adalah anugerah dari Allah melalui Firman-Nya yang tertulis, yaitu Alkitab. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri pula bahwa kebesaran nama Yesus Kristus bukan saja diteliti dan dibukukan oleh orang-orang yang percaya kepada-Nya. Orang-orang yang tidak percaya kepada-Nya pun membuat catatan tentang Yesus Kristus. [Baca  juga; Yesus Kristus senantiasa ingin hadir bagi kamu. Klik disini.]

Berikut ini adalah beberapa sejarawan sekuler yang turut mencatat keberadaan Yesus Kristus dan tokoh-tokoh lain di dalam Alkitab, yaitu:

 

Tacitus

Tacitus adalah seorang sejarawan yang bekerja pada saat kekaisaran Romawi sedang dipimpin oleh Kaisar yang terkenal sangat kejam yaitu Nero. Dalam tulisannya Tacitus mengatakan: Nero fastened the guilt ... on a class hated for their abominations, called Christians by the populace. Christus, from whom the name had its origin, suffered the extreme penalty during the reign of Tiberius at the hands of ... Pontius Pilatus, [Tacitus, Annales 15.44, dikutip dari Lee Stroble, The Case for Christ (Grand Rapids Michigan: Zondervan Publishing House, 1998), 74.]

Dalam laporan sejarah yang dibuat Tacitus ini kita lihat bahwa ada seorang yang disebut Kristus, dan Ia menderita hukuman yang sangat ekstrim di tangan Pontius Pilatus. Catatan ini sejalan dengan catatan yang kita kenal di dalam Alkitab, walau tentu saja catatan Tacitus tidak selengkap catatan Alkitab.

 

Pliny the younger

Pliny adalah seorang gubernur Romawi dari Bithynia di Asia Kecil. Dalam salah satu surat yang ditulis kepada Kaisar Trajan pada tahun 112 M, Pliny menyebutkan: They were in the habit of meeting on a certain fixed day before it was light, when they sang in alternate verses a hymn to Christ, as to a god, and bound themselves by a solemn oath, not to any wicked deeds, but never to commit any fraud, theft or adultery, never to falsify their word, nor deny a trust when they should be called upon to deliver it up. [Pliny, Letters, transl. by William Melmoth rev. by W.M.L. Hutchinson (Cambridge: Harvard Univ. Press, 1935), vol.II,X96, seperti di kutip dalam Habermas, The Historical Jesus, 199.]

Dalam surat itu, Pliny menyebutkan tentang orang Kristen yang bernyanyi untuk Kristus, seperti layaknya bernyanyi untuk menghormati dewa.

 

Josephus

Flavius Josephus adalah seorang ahli sejarah Yahudi yang hidup pada tahun 37 – 97 Masehi. Ketika Yerusalem dihancurkan pada tahun 70 M, ia pindah ke Roma dan menjadi sejarawan istana untuk raja Vespasian. Josephus membuat satu referensi tentang Yohanes Pembaptis dan dua referensi tentang Yesus dalam salah satu karya besarnya yang berjudul The Antiquities of the Jews.

Tentang Yohanes Pembaptis misalnya, Josephus menulis: He was a good man and exhorted the jews to lead righteous lives, practice justice towards one another and piety towards God, and so to join in baptism. [Josephus, The Antiquities Of the Jews 18.5.2 [117-119], seperti dikutip dari Everett Ferguson, The Backgrounds of Early Christianity (Grand Rapids Cambridge: WM B.Eerdmans Publishing Co, ), 487.]

Suatu penggambaran tentang Yohanes Pembaptis yang dapat dikatakan sejalan dengan penggambaran dalam Alkitab.

Tentang Yakobus, saudara Yesus Kristus, Josephus menulis: And he (Ananus) convened the judges of the Sanhedrin and brought before them a man named James, the brother of Jesus who called the Christ, and certain others. He accused them of having transgressed the law and delivered them up to be stoned. [Antiquities. 20.9.1 [200], seperti dikutip dari The Background, 488.]

Ada gereja tertentu yang tidak dapat menerima pandangan bahwa Yakobus adalah saudara kandung Yesus Kristus, padahal Alkitab sendiri mengatakan demikian. (Markus 6:3)

Alkitab menjelaskan bahwa semula Yakobus tidak percaya dan menganggap Yesus saudaranya itu sebagai orang yang tidak waras (Markus 3:21). Tetapi setelah peristiwa penyaliban dan kebangkitan-Nya, Yesus menemui Yakobus secara pribadi (1 Kor 15:7) dan Yakobus pun akhirnya percaya pada Yesus. Yakobus kemudian menulis surat yang kita kenal sebagai surat Yakobus (Yakobus 1:1 dan Yudas 1:1), salah satu surat yang terdapat di dalam Alkitab kita, dan melayani sebagai pemimpin gereja di Yerusalem (Kisah 21:18).

Dalam tulisan Josephus ini, Yakobus juga dikenal sebagai saudara Yesus Kristus, sama seperti pernyataan di dalam Alkitab. Dan Josephus menjelaskan bahwa Yakobus akhirnya mati dirajam dengan batu setelah dituduh melanggar hukum (kemungkinan Hukum Taurat). Yakobus yang semula tidak percaya itu, akhirnya mati sebagai martir demi keyakinannya pada Yesus Kristus (fakta yang cukup menarik mengingat bahwa Kristus sendiri pun dibunuh karena dituduh telah melecehkan Hukum Taurat). Selama hidup ia mengenal Yesus sebagai saudaranya, kakak tertua, tetapi pada saat kematiannya, ia telah yakin dan percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamatnya.

Dan terakhir tentu saja tentang Yesus Kristus sendiri, Josephus menulis: About this time lived Jesus, a wise man, if indeed one ought to call him a man. For he was the achiever of extraordinary deeds and was a teacher of those who accept the truth gladly. He won over many Jews and many of the Greeks. He was the Messiah. When he was indicted by the principal men among us and Pilate condemned him to be crucified. Those who had come to love him originaly did not cease to do so; for he appeared to them on the third day restored to life, as the prophets of the Deity had foretold these and countless other marvelous things about him. And tribe of Christians, so named after him, has not disappeared to this day. [Antiquities. 18.3.3 [63-64], seperti dikutip dari Paul L.Maier, Josephus – the essential works (Grand Rapid Michigan: Kregel Publication, 1994), 282.]

Penggambaran Josephus tentang Yesus cukup sesuai dengan penggambaran Alkitab, walau tidak selengkap Alkitab tentunya. Yesus disebut sebagai seorang bijaksana, berkelakuan sangat baik dan guru bagi semua yang menerima kebenaran. Yesus juga disebutkan telah dihukum oleh Pilatus dengan cara penyaliban. Yesus bangkit pada hari ketiga sesuai dengan nubuat para nabi. Dan “suku Kristen” (demikian Josephus menamai para pengikut Kristus), masih tetap ada hingga hari ia menulis.

Origen, salah seorang Bapa Gereja, mengatakan bahwa Josephus bukanlah orang yang percaya pada Yesus Kristus [Origen, Commentary in Matthew 10.17; Against Celsus 1.47, seperti dikutip dari Everett Ferguson, The Backgrounds, 489.] Jadi Josephus mencatat bukan karena ia kagum atau suka atau percaya pada Yesus, tetapi semata-mata melaporkan saja apa yang ia lihat dari kacamata seorang sejarawan tentang Yesus Kristus.

 

Lucian

Lucian dari Samosata adalah seorang penyair Yunani yang hidup di abad ke dua Masehi. Dalam salah satu karyanya, Lucian menulis tentang sikap orang Kristen pada Yesus Kristus. Lucian menulis: The Christians ... worship a man to this day – the distinguished personage who introduced their novel rites, and was crucified on that account.... [It] was impressed on them by their original lawgiver that they are all brothers, from the moment that they are converted, and deny the gods of Greece, and worship the crucified sage, and live after his laws. [Lucian, “The Death of Peregrine”, 11-13, dalam The Works of Lucian of Samosata, terj H.W.Fowler and F.G Fowler, 4 vols. (Oxford: Clarendon, 1949), vol 4., seperti dikutip dalam Habermas, The Historical Jesus, 206.]

Menurut Lucian, orang Kristen menyembah seorang Manusia yang pernah di salib serta menolak untuk menyembah dewa-dewa Yunani.

Kesaksian Lucian menambah deretan para saksi mata atas satu Orang yang begitu penting yang pernah hidup di abad permulaan.

 

Kesimpulan:

Para sejarawan sekuler ini telah turut menyaksikan keberadaan Yesus Kristus di zaman mereka hidup. Sekalipun orang menolak hasil pembukuan Lukas karena Lukas dianggap bukan seorang yang objektif, maka dunia sekuler mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa keberadaan Yesus Kristus ternyata dibukukan pula oleh para sejarawan sekuler ini.

Dan penting untuk digarisbawahi bahwa para sejarawan sekuler mencatat hal itu, bukan karena mereka tertarik atau karena mereka percaya pada ajaran Yesus. Mereka mencatat hal tersebut, semata-mata karena peristiwa itu memang benar-benar terjadi.

Kiranya Tuhan Yesus menolong kita untuk semakin mengenal Dia. Amin.

(Oleh: izar tirta)