Monday, June 1, 2026

Domba-domba tanpa gembala

 

Tuhan Yesus Sang Gembala sejati
 

Di tengah kesibukan dan hiruk-pikuk dunia modern, ada jutaan jiwa yang berjalan tanpa arah yang pasti; lelah, bingung, dan rentan terhadap berbagai tekanan hidup. Itulah gambaran yang Tuhan Yesus lihat ketika Ia menjumpai orang banyak di zaman-Nya, dan gambaran seperti itu masih tetap hadir pula di dalam dunia kita hari ini. Tulisan ini mengajak kita merenungkan teks dari Matius 9:35–10:9 untuk memahami apa artinya menjadi gembala di tengah dunia yang penuh dengan “domba-domba tanpa gembala” ini.

1. Melihat Dunia melalui mata Sang Juruselamat

“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” (Matius 9:36)

Ketika orang banyak mengikuti Tuhan Yesus, sikap Tuhan Yesus bukan menjadi bangga atau merasa spesial karena mendapat perlakuan bagaikan seorang Celebrity yang memiliki banyak pengikut, sebagaimana sikap kita pada umumnya jika mendapatkan begitu banyak pengikut. Mata hati Tuhan Yesus jauh menembus ke dalam realitas yang umumnya tidak dilihat oleh mata manusia biasa. [Baca juga: Iman Kristen bukanlah suatu kepercayaan yang buta. Klik disini.]

Ketika Tuhan Yesus melihat orang banyak itu, Tuhan tidak sekadar melihat situasi jasmaniah dari orang banyak yang mengikuti-Nya. Ia melihat jauh ke dalam kondisi rohani mereka, yaitu sebagai jwa-jiwa yang hidup tanpa arahan yang benar, tanpa perlindungan yang sejati, dan tanpa kehadiran Allah yang sejati. Mereka bagaikan domba-domba yang tidak bergembala dan bagi seekor domba yang tanpa gembala, maka domba itu akan lemah, kehilangan arah, dan mudah menjadi mangsa dari predator di sekitar mereka.

Baca juga:
Upaya iblis dalam menjauhkan manusia dari pemahaman akan kasih Allah. Klik disini.

Inilah perbedaan mendasar antara cara Tuhan Yesus memandang manusia dengan cara kebanyakan kita memandangnya. Kita sering melihat orang banyak sebagai angka, sebagai massa, atau bahkan sebagai peluang untuk dimanfaatkan. Tuhan Yesus melihat manusia sebagai individu yang menderita dan membutuhkan pertolongan rohani dengan segera.

Panggilan pertama bagi kita sebagai orang Kristen adalah melihat dunia melalui sudut pandang Kristus: bukan sekadar melihat persoalan sosial atau persoalan ekonomi, tetapi melihat pada kebutuhan rohani yang paling dalam. Pertanyaan yang harus kita tanyakan bukan, “Apa yang bisa saya dapatkan dari kerumunan ini?” melainkan, “Apa yang bisa saya berikan kepada mereka?” Dan di balik berbagai masalah manusia yang tampak di permukaan kehidupan mereka, ada satu persoalan terbesar yang sering kali luput dari perhatian kita: yaitu persoalan dosa.

Dosa seringkali diidentifikasikan sebagai kesalahan-kesalahan yang besar, tindakan-tindakan yang melanggar norma atau hukum yang berlaku, seperti percurian, pembunuhan atau perselingkuhan, dan tidak salah memang apabila kita berpikir demikian. Tetapi di dalam konteks Alkitab, dosa bukan hanya tentang kejahatan-kejahatan besar yang mudah diidentifikasi seperti itu.

Di dalam lingkungan gereja sekalipun, dosa bisa hadir dalam wujud keengganan untuk menjadi murid Kristus yang sungguh-sungguh, atau tidak menjadikan Alkitab sebagai fondasi iman, atau terjebak dalam self-righteousness dan self-centeredness, asik sendiri dalam mengejar kesejahteraan jasmani, ataupun sibuk mengumpulkan harta bagi diri sendiri. Dosa adalah apapun yang menghalangi relasi kita dengan Tuhan Yesus dan menghambat pertumbuhan rohani kita dalam menghasilkan buah bagi Kristus.

2. Misi yang Lahir dari Doa, Bukan Sekadar Program

“Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Matius 9:38)

Setelah melihat kondisi rohani manusia yang memprihatinkan itu, respons pertama Tuhan Yesus bukan mengadakan rapat panitia atau menyusun program penginjilan. Respons Tuhan adalah mengajak kita untuk berdoa. “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” Artinya, kebutuhan yang ada jauh melampaui kapasitas manusiawi yang tersedia.

Inilah fondasi dari setiap pelayanan dan misi Kristen yang sejati: gereja harus lebih dulu berlutut sebelum berlari. Doa bukan sekadar ritual pembuka rapat. Doa adalah pengakuan bahwa misi ini bukan milik kita—ini adalah pekerjaan Allah, dan kita hanyalah instrumen yang Ia pilih dan utus.

Misi Kristen tidak dijalankan dengan kekuatan atau kecerdasan manusia. Bukan tentang siapa yang paling karismatik, gereja mana yang memiliki teknologi terbaik, atau rekening bank mana yang paling tebal. Misi Kristen adalah tentang Allah yang secara berdaulat mengutus para pekerja-Nya yang setia ke ladang yang telah Ia siapkan. [Baca juga: Bersaksi dalam kuasa Roh Kudus. Klik disini.]

3. Dipanggil Secara Pribadi, Bertanggung Jawab Secara Pribadi

Dalam Matius 10:2–4, Tuhan Yesus menyebut nama kedua belas rasul satu per satu. Ini bukan kebetulan. Di balik pencatatan nama-nama itu tersimpan sebuah kebenaran yang dalam: setiap pekerja Tuhan dikenal secara pribadi dan dipanggil satu per satu.

Pelayanan rohani bukanlah pelayanan yang bersifat anonim. Kita tidak bisa bersembunyi di balik komunitas atau lembaga dan menganggap tanggung jawab kita telah terpenuhi hanya karena “gereja sudah mengurusnya.” Setiap orang percaya memiliki panggilan pribadi yang unik dan tanggung jawab yang tidak dapat dialihkan kepada orang lain. [Baca juga: Melayani Tuhan sebagai sebuah tim. Klik disini.]

Menariknya, daftar kedua belas rasul itu mencakup orang-orang dari latar belakang yang sangat beragam—nelayan sederhana, pemungut cukai yang dibenci masyarakat, hingga seorang yang pada akhirnya menjadi pengkhianat. Allah tidak memanggil mereka karena kecakapan mereka, tetapi karena kehendak-Nya yang berdaulat. Ini sekaligus pengingat: tidak ada seorang pun yang terlalu biasa atau terlalu berdosa untuk dipakai Tuhan.

4. Tahapan dalam Misi: Mulai dari Dekat, Meluas semakin jauh

 “Pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius 10:6)

Pada mulanya, pengutusan para rasul difokuskan hanya kepada Israel. Ini bukan sikap eksklusif atau diskriminatif—ini adalah bagian dari rencana Allah yang tertib dan berjenjang. Misi dimulai dari yang dekat, kemudian meluas ke seluruh bangsa (Matius 28:19–20).

Ada pelajaran praktis di sini bagi setiap orang percaya: jangan terburu-buru melompat ke “misi besar” di tempat-tempat jauh jika lingkaran terdekat kita—keluarga, tetangga, rekan kerja—belum pernah mendengar kabar baik dari kehidupan dan kesaksian kita. Allah punya urutan rencana. Setia pada tahapan yang ada di hadapan kita adalah langkah pertama menuju pelayanan yang lebih luas.

5. Pemberitaan Injil: Tentang Kerajaan Allah, Tak Sekadar Penyelamatan Individu

“Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.” (Matius 10:7)

Ada pemahaman yang perlu diluruskan: pelayanan Tuhan bukan semata-mata soal “menyelamatkan jiwa sebanyak mungkin.” Jika itu yang menjadi tujuan utama, maka Tuhan tampaknya “gagal” karena kenyataannya jumlah orang yang menolak Injil jauh lebih banyak daripada yang menerima.

Tujuan yang lebih besar adalah menyatakan Kerajaan Allah dan segala kemuliaan-Nya. Di dalam tujuan itu, ada orang yang merespons dengan iman dan diselamatkan—itu adalah kasih karunia. Ada pula yang menolak dan tetap dalam kebinasaan—itu adalah keadilan Ilahi. Dalam kedua kasus itu, Kerajaan Sorga tetap telah dinyatakan dan nama Tuhan tetap telah dimuliakan.

Pemahaman ini membebaskan para pelayan Tuhan dari tekanan untuk “menghasilkan” keselamatan,karena keselamatan adalah pekerjaan Roh Kudus. Tugas kita adalah memberitakan dengan setia, selebihnya dari itu ada di dalam kedaulatan Tuhan. [Baca juga: Tuhan Yesus adalah Raja. Klik disini.]

6. Pelayanan yang Menyeluruh dan Tulus Hati

“Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” (Matius 10:8)

Pelayanan Kristen yang sehat adalah pelayanan yang menyeluruh: menyentuh kebutuhan rohani sekaligus kebutuhan jasmani. Gereja tidak boleh hanya berkhotbah tanpa kepedulian nyata terhadap masalah riil yang dihadapi manusia. Namun sebaliknya, gereja juga tidak boleh terjebak hanya mengurus kesejahteraan materi sambil mengabaikan kesehatan rohani jemaat.

Yang tidak kalah penting adalah motif di balik pelayanan itu. “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Ini adalah serangan langsung terhadap pelayanan yang dimotivasi oleh keuntungan pribadi. Sayangnya, sejarah mencatat tidak sedikit kasus di mana kepercayaan jemaat disalahgunakan—dari penyalahgunaan dana pembangunan gereja hingga skandal keuangan di tingkat internasional.

Paulus merumuskannya dengan indah dalam 1 Korintus 9:16–18: memberitakan Injil bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebuah keharusan yang lahir dari rasa syukur yang mendalam. Jika kita sudah diizinkan menjadi bagian dari pekerjaan Tuhan, maka kesempatan itu sendiri adalah upah yang tak dapat dinilai dengan harta duniawi apapun.

7. Pelayanan yang Bergantung pada Tuhan, Bukan pada Kekayaan

“Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu.” (Matius 10:9)

Petunjuk ini terdengar radikal: pergi tanpa bekal finansial yang memadai? Namun di baliknya tersimpan prinsip yang mendasar—pelayanan misi tidak dijalankan dengan mengandalkan kekayaan duniawi, tetapi dengan bersandar penuh kepada penyediaan Tuhan. [Baca juga: Mengapa manusia haus akan harta dunia dan pengakuan dari orang lain? Klik disini.]

Kita sering berpikir, “Kalau gereja punya dana yang cukup, barulah kita bisa melayani dengan baik.” Namun Alkitab menunjukkan gambaran yang berbeda. Gereja Laodikia yang kaya dan merasa tidak kekurangan apa pun justru mendapat teguran keras dari Tuhan Yesus (Wahyu 3:14–22). Sebaliknya, gereja Smirna yang kecil dan miskin, yang hidup di bawah tekanan dan penganiayaan, justru dipuji—bukan karena kemiskinannya, tetapi karena kesetiaan mereka yang luar biasa di tengah keterbatasan.

Yang menggerakkan misi sejati bukan rekening bank yang gemuk, tetapi kehadiran Kristus dan visi yang Ia tanamkan dalam hati para hamba-Nya.

Penutup: Dipanggil menjadi gembala-gembala kecil bagi Kristus 

Dunia hari ini masih penuh dengan “domba-domba tanpa gembala.” Di setiap sudut kota, di tempat kerja, di lingkungan perumahan, bahkan di dalam keluarga kita sendiri—ada jiwa-jiwa yang lelah, terlantar, dan kehilangan arah.

Tuhan Yesus, sang Gembala Agung (Yohanes 10:11), masih memanggil kita hari ini—bukan dengan infrastruktur yang megah atau program yang canggih, tetapi dengan hati yang tergerak oleh belas kasihan, lutut yang mau berlutut dalam doa, dan kaki yang siap diutus. Ia memanggil kita menjadi gembala-gembala kecil yang dengan setia menuntun sesama kepada-Nya.

Pertanyaannya kini kembali kepada kita masing-masing: Apakah kita akan berdiam diri, ataukah kita mau dipakai Tuhan sebagai gembala-gembala kecil yang menuntun mereka kepada Sang Gembala Agung?

 

 

Saturday, January 3, 2026

Perjamuan Kudus sebagai berita kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus

Perjamuan Kudus sebagai berita Kematian dan Kebangkitan Tuhan Yesus

Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. (1 Kor 11:26)

Saya telah membuat dua buah tulisan lain berkenaan dengan Perjamuan Kudus. Kedua tulisan tersebut adalah:
Beberapa pandangan mengenai Perjamuan Kudus. Klik disini.
Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku. Klik disini.

Adapun mengapa saya menulis beberapa tulisan mengenai Perjamuan Kudus adalah karena Perjamuan Kudus merupakan satu di antara dua sakramen yang diakui oleh Gereja. Sehingga pembahasan mengenai Perjamuan Kudus merupakan pembahasan yang penting untuk dipahami oleh orang Kristen. Selain itu, saya menyadari betapa besar dan luasnya makna yang terkandung di dalam Sakramen Perjamuan Kudus tersebut, sehingga tidak mudah apabila ingin memuat semuanya di dalam sebuah tulisan saja.

 

Perjamuan Kudus adalah lambang kematian sekaligus kebangkitan.

Dari ayat yang ditulis oleh Paulus di dalam 1 Korintus 11:26 di atas kita mendapati adanya keterkaitan antara Perjamuan Kudus dengan berita tentang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

Hal tersebut dapat dimaknai dari peristiwa ketika roti dipecah-pecahkan, yaitu sebagai perlambang tubuh Tuhan yang juga dipecahkan di atas kayu salib. Ketika Tuhan Yesus dipakukan di kayu salib, maka tubuh yang terpecah itu bukan hanya terluka, melainkan tubuh itu mengalami kematian yang riil.

Di sisi lain, anggur yang kita minum di dalam Perjamuan Kudus juga merupakan sesuatu yang dapat dimaknai dengan kematian dan bahkan kebangkitan Tuhan Yesus.

 

Dalam hal apakah anggur itu dikaitkan dengan kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus?

Di dalam Perjanjian Lama, kita membaca bagaimana Musa mengubah air menjadi darah. Air yang seharusnya merupakan sebuah sumber kehidupan bagi orang Mesir, diubahkan menjadi sesuatu yang mengerikan, sesuatu lambang kematian dan sesuatu yang benar-benar dapat membawa kematian. Bayangkan saja, bagaimana ikan-ikan yang ada di dalam sungai Nil dapat bertahan, apabila air berubah menjadi darah? Atau bagaimana mungkin manusia dapat minum dan menemukan kesegaran yang dibutuhkan, apabila semua air di tanah Mesir menjadi darah. Oleh karena itu, berubahnya air menjadi darah, merupakan sebuah berita kematian bagi penduduk Mesir.

Di dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus juga pernah mengubah air menjadi sesuatu yang lain. Tetapi yang diubah oleh Tuhan Yesus bukanlah air menjadi darah, melainkan air menjadi anggur. Dan disinilah letak keunikan dari anggur yang akan kita bahas.

Anggur memiliki makna ganda di dalam Alkitab, di satu sisi, orang Yahudi memaknai anggur sebagai lambang sukacita. Sebuah pesta perkawinan bukanlah pesta yang lengkap apabila tidak disertai dengan anggur. Hal ini bukan berarti bahwa yang hadir ingin bermabuk-mabukan, melainkan karena anggur sendiri sudah merupakan minuman wajib di dalam sebuah pesta, karena anggur adalah lambang sukacita.

Sementara itu disisi lain, Tuhan Yesus sendiri mengkaitkan anggur tersebut dengan darah-Nya yang tertumpah di kayu salib. Kita dapat membaca hal itu demikian: 23 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu. 24 Dan Ia berkata kepada mereka: "Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang. 25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah." (Markus 14:23-25)

Dari dua peristiwa itu, yaitu ketika Tuhan Yesus mengubah air menjadi anggur (Injil Yohanes), dan ketika Tuhan Yesus mengkaitkan anggur dengan darah-Nya (Injil Markus), maka pada saat kita minum anggur di dalam Perjamuan Kudus, sesungguhnya kita sedang menyatakan dua hal penting sekaligus tentang Tuhan Yesus yaitu: kematian dan kebangkitan-Nya.

Dari uraian singkat terhadap Perjamuan Kudus yang dikaitkan dengan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, maka sekali lagi kita melihat betapa dalamnya makna Perjamuan Kudus bagi iman Kristen. Sehingga untuk mengatakan bahwa Perjamuan Kudus hanya merupakan tindakan untuk mengingat atau mengenang atau kontemplasi saja atas pengorbanan Tuhan Yesus, rasanya merupakan hal yang terlalu menyederhanakan.

Kiranya Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Baca juga:
Bagaimana kita yakin bahwa Alkitab itu berisi berita yang benar? Klik disini.
Apakah kebangkitan Kristus merupakan kepercayaan subjektif semata? Klik disini.
Bersaksi dalam kuasa Roh Kudus. Klik disini.
Kemerdekaan sejati menurut pandangan Kristen. Klik disini.
Iman Kristen mempunyai dasar yang teguh. Klik disini.
Disalibkan bersama Kristus. Klik disini.