Friday, June 24, 2022

“Tidak ada yang berakal budi, tidak ada yang mencari Allah

Renungan singkat dari Roma 3 : 11
Apakah arti dari “Tidak ada yang berakal budi”?
Apakah arti dari “Tidak ada yang mencari Allah?”
Bagaimana dengan orang-orang genius di dunia ini?
Tidakkah mereka itu memiliki akal budi?
Bagaimana dengan orang-orang beragama di dunia ini?
Tidakkah mereka itu sedang mencari Allah?


 

Tidak ada yang berakal budi

Ketika kita berbicara tentang akal budi, tidak jarang kita berpikir tentang kecerdasan, kemampuan berpikir yang luar biasa dari seorang manusia. Ada banyak tokoh-tokoh terkenal di dunia ini yang memiliki kemampuan tersebut, misalnya Albert Einstein, Isaac Newton, Stephen Hawkings dll, dan kita seringkali dibuat kagum oleh daya pikir mereka yang sangat kuat, bukan? Tetapi mengherankan sekali jika kita simak bagaimana Alkitab berkata bahwa “tidak ada seorangpun yang berakal budi.”

Baca juga:

Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Klik di sini.
Seperti apakah iman Kristen yang sejati itu? Klik disini.
Apakah tujuan hidup kita sebagai orang Kristen? Klik disini.
Mengapa Paulus rela terkutuk bagi orang berdosa? Klik disini.

 

Mengapa Roma 3 dapat berkata seperti demikian? Apakah Alkitab keliru, ataukah karena di zaman penulisan Alkitab belum ada tokoh pintar seperti Einstein dan Hawkings sehingga timbul ucapan seperti itu?

Kita percaya bahwa jawabannya bukan karena di zaman dahulu tidak ada tokoh yang pintar seperti Einstein dan Stephen Hawking ataukah tidak, sebab sejak zaman dahulu kala pun dunia sudah memiliki orang-orang yang memiliki pemikiran luarbiasa yang bahkan sulit dibayangkan oleh orang zaman sekarang. Arkeologi modern seringkali menemukan monumen-monumen luar biasa yang sulit dibayangkan proses pembangunannya. Dan kita tahu pula bahwa menjelang zaman Perjanjian Baru pun sudah ada para pemikir seperti Aristoteles dan Plato yang cukup berpengaruh di dalam dunia pengetahuan dan filsafat.

Jika demikin, lalu kenapa Surat Paulus ke Roma mencatat bahwa “tidak ada yang berakal budi?”

Dalam tulisan sebelumnya kita sudah memahami bahwa dosa sudah mencemari semua manusia secara objektif. Aspek akal budi manusia juga sudah tercemar oleh dosa, sehingga manusia tidak lagi mampu untuk mencari Allah melalui akal budinya. Oleh karena itu, sepintar-pintarnya manusia, tidak akan mampu datang kepada Allah jika semata-mata ditolong dengan akal budinya tersebut.

Ketika manusia belum dapat terbang seperti burung, manusia terus berusaha berpikir agar keinginan mereka untuk melawan gravitasi tersebut dapat terwujud. Pada akhirnya, melalui akal budi itu, manusia berhasil menciptakan pesawat terbang. Dan melalui akal budi yang sama, manusia dapat terus menyempurnakan ciptaan mereka itu, sampai hari ini. Ini berarti akal budi manusia telah berhasil menemukan cara-cara untuk menyelesaikan masalah demi terwujudnya keinginan. Akal budi manusia telah berhasil menemukan banyak hal sekarang ini, yang mungkin belum pernah ditemukan atau bahkan terpikirkan oleh generasi-generasi sebelumnya.

Akan tetapi, satu hal yang Alkitab ingin katakan adalah bahwa akal budi manusia tidak akan mungkin membawa manusia untuk dapat mengenal Tuhan yang sejati. Akal budi manusia sudah tercemar oleh dosa yang membawa keterpisahan pada Allah dan manusia. Akal budi ini tidak akan mampu menolong manusia untuk Kembali menjalin relasi kasih dengan Allah. Jangankan mengasihi Allah, mengenal Allah yang sejati pun tidak akan dapat ditempuh dengan hanya mengandalkan akal budi tersebut.

Jadi sekali lagi, mengapa Alkitab mengatakan bahwa manusia tidak memiliki akal budi? Sebab akal budi tidak dapat membawa manusia kepada pengenalan akan Allah yang sejati.

Itu sebabnya ada orang yang pintar luar biasa namun percaya pada Tuhan Yesus Kristus, tetapi ada pula orang pintar luar biasa yang tetap tidak mau percaya. Mereka sama-sama pintar, tetapi formula apapun yang mereka ketahui tidak dapat membuktikan atau menjelaskan mengapa yang satu bisa bertemu dengan Tuhan, sementara yang lain tidak. Akal budi memang bukan jawaban atas keberbedaan tersebut. Itulah alasan mengapa Alkitab berkata tidak ada seorangpun yang berakal budi.

Jadi kalau ada orang yang percaya, itu bukan berarti dia lebih pintar atau lebih bodoh dari yang lain. Orang yang pintar maupun yang bodoh di mata dunia, sama-sama punya peluang untuk menjadi percaya, sebab kemampuan percaya tidak terletak pada akal budi. Orang sederhana seperti Petrus dapat percaya, orang pintar seperti Paulus pun dapat percaya. Orang sederhana yang tinggal di kolong-kolong jembatan di Jakarta belum tentu percaya pada Tuhan Yesus, orang-orang pintar yang kerja di Nasa, Texas pun banyak yang tidak percaya pada Tuhan Yesus.

Tidak ada formula apapun di dunia yang dapat membuat seseorang bertemu dengan Tuhan. Karena formula hanya bicara pada akal budi, sedangkan akal budi sudah tercemar dosa, dan kita tahu bahwa dosa memisahkan manusia dari Allah

 

Tidak ada yang mencari Allah

Bagaimana dengan mencari Allah? Bukankah ada banyak orang beragama di dunia ini? Tidak adakah di antara mereka yang sedang mencari Allah?

Bila kita amati kehidupan banyak orang, kita akan temui bahwa dalam diri setiap orang memang ada suatu perasaan ilahi. Maksudnya, di dalam diri setiap orang ada semacam kerinduan pada hal-hal yang ada di luar dirinya, hal-hal yang ilahi, hal-hal yang supranatural, melampaui dirinya sendiri. Bila kita lihat perilaku umat beragama, maka hal itu akan jelas sekali, yaitu ketika mereka pergi ke rumah-rumah ibadah, berdoa, beraktifitas agamawi dst. Bahkan masyarakat primitif yang tidak memiliki agama yang umum dikenal pun, memiliki kepercayaannya sendiri. Mereka bisa memilih untuk mengilahikan benda-benda langit, sungai, pohon, batu atau apapun juga.

Dari kenyataan tersebut, kita bisa simpulkan bahwa jauh di kedalaman hati manusia ada harapan akan sesuatu yang lebih besar yang dapat melindungi dirinya. Jauh di kedalaman hati manusia terletak sebuah kesadaran akan keterbatasan dirinya. Rupanya ini adalah semacam warisan yang masih tinggal di dalam hati, sebuah warisan berupa kerinduan untuk bersekutu dengan yang ilahi. Akan tetapi Alkitab mengajarkan bahwa kerinduan itupun sudah tercemar oleh dosa. Sehingga manusia tidak dapat lagi menemukan Allah yang sejati. Ada suatu keengganan bahkan di dalam diri manusia untuk mengenal Allah yang sejati ini. Akibatnya, mereka “menciptakan” allah yang sesuai dengan kriteria mereka sendiri. Mereka “melahirkan” allah yang sesuai dengan angan-angan atau anggapan mereka sendiri.

Rasul Paulus menggambarkan kondisi tersebut demikian :

“Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya”. (Roma 1:23, 25)

Yang dimaksud Paulus di sini adalah Allah memiliki kebenaran, Allah memiliki jatidiri sebagaimana Dia mau dikenal, Allah adalah Pribadi yang unik. Dia memiliki ajaran, pemikiran, pandangan yang unik. Tetapi masalahnya adalah, kenapa manusia bisa menciptakan begitu banyak kepercayaan yang berbeda-beda? Dan antar satu kepercayaan memiliki ciri dan keunikannya sendiri-sendiri. Mengapa Allah sekarang jadi nampak begitu berbeda-beda? Apakah Dia memang memiliki wajah yang berbeda-beda? Ataukah manusia yang telah menciptakan bagi-Nya wajah yang berbeda-beda? Jika Dia memang memiliki wajah yang berbeda-beda dengan pengajaran-pengajaran yang berbeda, maka pertanyaannya adalah apakah Dia dapat dipercaya? Jika Dia tidak dapat dipercaya, lalu untuk apa ada kepercayaan sama sekali? Jika Dia dapat dipercaya, lalu kenapa faktanya memang Dia berbeda?

Allah dapat dipercaya, itu pasti. Kalau begitu sekarang kita perlu mengarahkan pandangan pada manusia. Status manusia berdosa, kondisinya rusak, manusia terpisah dari Allah bahkan terusir dari hadirat-Nya. Tidak seperti Allah, manusia tidak bisa dipercaya. Kalau begitu bukannya tidak mungkin jika dikatakan bahwa pihak manusialah yang telah menciptakan wajah Allah begitu berbeda. Kalau begitu, tidak keliru pendapat Paulus tentang tabiat manusia yang mau menggantikan kebenaran Allah dengan dusta. Kalau begitu, tidak keliru jika Alkitab katakan bahwa tidak ada yang mencari Allah yang sejati.

Kehendak manusia sudah mati, tidak mau lagi untuk berhubungan dengan Allah yang sejati, yaitu Allah yang telah menghukum manusia karena dosa, Allah yang telah mengusir manusia dari hadirat-Nya. Manusia telah mati secara rohani, tidak lagi mau dan mampu untuk membina hubungan dengan Allah. Jikapun ada semacam indikasi bahwa manusia mencari yang ilahi, itu sebenarnya hanya wujud dari rasa keterpisahan yang ingin dipuaskan. Dan wujud nyata dari kerinduan itu adalah dengan menciptakan ilah-ilah dalam hidup mereka.

“Mencari” berkaitan dengan kehendak. “Kehendak” sudah tercemar oleh dosa. Akibatnya tidak seorangpun yang sungguh-sungguh hendak mencari.

Tanpa insiatif dari Allah untuk menyatakan diri-Nya dan memberi anugerah keselamatan kepada manusia, maka tidak ada kemungkinan bagi manusia untuk dapat mengenal Tuhan dan memperoleh hidup yang kekal itu.

Amin. Tuhan Yesus memberkati. (Oleh: Izar Tirta).