Friday, May 1, 2020

Mengapa Habel perlu digantikan oleh Set?

Eksposisi singkat Kejadian 4:25
 


Mengapa Habel yang kemudian mati dibunuh oleh Kain itu perlu digantikan oleh Set? Apakah hal tersebut merupakan suatu kebetulan saja? Ataukah ada makna rohani yang dapat kita renungkan dari keputusan Allah untuk menghadirkan Set sebagai pengganti dari Habel?
 
Dalam tulisan terdahulu kita telah banyak membicarakan kehidupan Kain dan Habel dengan segala lika-likunya. Termasuk segala ironi yang menyelimuti kehidupan mereka berdua.

Kain yang begitu diagungkan oleh orang tuanya, justru bertumbuh dewasa sebagai pria yang kejam dan tidak menghargai Tuhan. Sementara Habel yang kurang diharapkan kehadirannya ke dalam dunia ini, justru mendapat perkenanan di hati Allah.

Ironi berikutnya adalah, Kain yang jahat justru bertahan hidup dan mendapat banyak hal dalam dunia ini. Sedangkan Habel yang dikasihi Allah malah seakan-akan mati dengan sia-sia.

Dan terakhir, kita mungkin merasa heran pada realita jalan hidup Habel yang ternyata lebih mirip sebuah jalan kesia-siaan, sementara jalan hidup Kain-lah yang justru lebih terlihat bagaikan sebuah jalan kemuliaan.

Mengapa segalanya jadi terbolak-balik seperti ini?
Apakah Alkitab telah keliru ditulis? Saya yakin persoalannya bukan terletak pada Alkitab yang seolah telah keliru di tulis. Tetapi persoalannya ada pada kita, yaitu pada cara kita melihat dan menilai hidup ini, yang rupa-rupanya amat berbeda dengan cara Tuhan melihat.

Jika pada tulisan terdahulu saya mengakhiri penuturan dengan kisah kesuksesan Kain beserta kaum keturunannya, maka pada tulisan kali ini, saya akan menyambung kisah tersebut dengan mengangkat kisah Habel, terutama setelah ia mati terbunuh. Benarkah pelita kebaikan Habel sudah redup sama sekali, digantikan oleh sinar kemuliaan duniawi ala Kain?

Jika demikian, bukankah hal itu seolah-olah berarti karya keselamatan Allah bagi manusia sudah gagal bahkan sebelum dimulai? Apakah Allah kita adalah Allah yang rencana-Nya gagal serta dikalahkan oleh kemuliaan manusia yang bersifat fana?

Kalau kita membaca novel atau menonton film drama, mungkin ending dari kisahnya memang adalah kemuliaan dan kesuksesan manusia. Tetapi ini adalah Alkitab. Ini adalah kisah Tuhan dan bukan terutama kisah tentang manusia. Melalui Alkitab kita berharap untuk melihat kemuliaan Tuhan dan bukan kemuliaan manusia. Dan kita bersyukur bahwa kisah permusuhan antara keturunan ular dan keturunan wanita itu, tidak berakhir pada kisah Kain dan Habel, tetapi masih terus berlanjut.

Adam bersetubuh pula dengan isterinya, lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Set, sebab katanya: "Allah telah mengaruniakan kepadaku anak yang lain sebagai ganti Habel; sebab Kain telah membunuhnya." (Kej 4:25)

Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Set merupakan karunia bagi Adam dan Hawa dari Allah, sebab Set adalah pengganti dari Habel yang telah dibunuh oleh Kain. Sungguh luar biasa bukan? Betapa baiknya Allah bahkan terhadap manusia yang telah berdosa.
 
Jika kita bertanya-tanya, mengapa Habel perlu digantikan oleh Set, maka barangkali jawabannya adalah agar kita sadar bahwa kisah Habel belum berakhir. Ia sama sekali tidak dilupakan, baik oleh manusia, apalagi terutama oleh Tuhan. Keluarga Adam dan Hawa kembali dikaruniai seorang anak yang secara spesifik disebutkan bahwa anak itu adalah pengganti Habel. Di dalam Tuhan yang berdaulat, kekacauan seperti pembunuhan pun dapat diubah menjadi sebuah pengharapan.

Apa lagi yang dapat kita renugnkan dari pertanyaan, mengapa Habel perlu digantikan oleh Set?

Tuhan menggantikan kehadiran Habel karena sebetulnya ia adalah wakil dari keturunan perempuan, yaitu orang-orang yang mendapat anugerah untuk mengenal Tuhan. Semula Hawa menyangka bahwa Kain-lah yang merupakan keturunan yang akan meremukkan kepala si ular. Namun sang waktu telah membuktikan bahwa anggapan Hawa itu ternyata keliru. Kain tidak lain dan tidak bukan justru adalah keturunan si ular itu sendiri, yang memiliki jiwa menentang dan menantang Tuhan.

Dengan matinya Habel, bukan berarti bahwa harapan manusia akan datangnya keselamatan yang dari Tuhan akan pupus sama sekali, sebab Tuhan telah menghadirkan keturunan yang lain sebagai pengganti dirinya.

Kita bersyukur, bahwa Adam dan Hawa tidak secara langsung menerima kutukan dari Tuhan pada saat mereka jatuh ke dalam dosa. Adam dan Hawa memang dihukum oleh Tuhan, bahkan mengalami kematian ketika diusir dari hadirat Alah, namun mereka tidak dikutuk secara langsung seperti Kain. Hal ini memberi peluang pada Adam dan Hawa untuk masih bisa melahirkan keturunan yang tidak dikutuk oleh Tuhan.

Lahirnya Set membawa sukacita besar bagi keluarga Adam dan Hawa. Dengan sukacita pengharapan, Hawa menamai anak itu sambil mengkaitkannya secara langsung dengan Habel. Melalui Set, kita melihat bahwa sukacita Hawa telah dipulihkan kembali. Cara Hawa meresponi kelahiran Set mengingatkan kita pada kegembiraan wanita itu waktu pertama kali mendapatkan Kain.

Kita bersyukur bahwa walaupun Allah menghukum orang berdosa, namun cinta kasih-Nya yang besar itu masih memberi peluang bagi manusia untuk menikmati anugerah-Nya. Kita turut bergembira melihat Hawa yang seperti kembali mampu untuk tersenyum. Hawa pernah dua kali keliru menilai. Ia terlalu gembira atas Kain dan ia terlalu putus asa atas Habel. Dua-duanya sama kelirunya. Tapi kini, pada akhirnya, melalui kebaikan hati Tuhan, Hawa boleh kembali memiliki harapan.. and this time … for a good reason.

Hawa bukan saja kembali mengkaitkan kelahiran seorang anak dengan Tuhan, tetapi Hawa juga telah berhasil memandang Habel dari sudut pandang yang tepat. Anak yang sia-sia itu, ternyata dipandang benar oleh Tuhan. Anak yang sia-sia itu, ternyata merupakan bukti bahwa bagaimana pun juga Tuhan masih mengasihi umat manusia. Anak yang kurang diharapkan itu, ternyata justru menjadi cikal bakal dari pengharapan akan anugerah Tuhan. Melalui Set, anak pengganti Habel itu, sinar pengharapan kembali terbit di hati Hawa.

UNTUK DIRENUNGKAN
Kita dapat dengan mudahnya keliru dalam menilai kehidupan. Apa yang kita pikir penting, ternyata tidak dianggap penting oleh Tuhan. Apa yang kita anggap tidak berharga, ternyata memiliki nilai kekekalan di dalamnya. Kita butuh Firman Tuhan sebagai pedoman dalam menilai kehidupan di sekitar kita.

Keadaan yang tanpa harapan sekalipun tidak dapat menghalangi kebaikan Tuhan dalam memberi anugerah-Nya kepada manusia. Sebaliknya, keberhasilan dan kesuksesan hidup yang begitu kita dambakan, belum tentu merupakan representasi dari berkat yang sejati dari Tuhan kita. (Oleh: Izar Tirta)

Baca Artikel Kristen Lainnya:
Mengapa dunia kita penuh dengan bencana? Klik disini
Apakah kiamat sudah dekat? Klik disini