Saturday, October 24, 2020

Eksposisi singkat Kejadian 4:26 : Ketika manusia mulai mengenal Allah secara pribadi

Oleh: Izar Tirta



 

Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Set juga dan anak itu dinamainya Enos. Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN. Kejadian 4:26 

 

Set kemudian memiliki anak yang bernama Enos, dan sebagaimana kita baca, sejak zaman Enos inilah orang mulai memanggil nama TUHAN.

 

Apabila kita sungguh merenungkan, maka kita sadar bahwa “memanggil nama TUHAN” bukanlah sebuah perkara yang sederhana. Sebab sebagai keturunan dari orang yang telah jatuh ke dalam dosa, maka pengenalan akan Tuhan adalah suatu hal yang mustahil, kecuali jika ada campur tangan dari Tuhan sendiri. Kalaupun keturunan Set ini dapat memanggil nama Tuhan, maka hal itu sudah pasti merupakan akibat dari perbuatan baik Tuhan yang dengan penuh anugerah mengizinkan diri-Nya untuk dikenal oleh manusia.

 

Apalagi dalam teks tersebut kita membaca bahwa Allah yang dikenal di sini bukan allah sembarang allah seperti yang dipikirkan oleh orang modern sekarang ini, melainkan Yahwe, Allah dengan nama yang spesifik sekali. Yahwe adalah Dia yang telah masuk dan mengikatkan diri-Nya ke dalam suatu relasi pribadi dengan manusia melalui sejarah bangsa Yahudi, dan hanya bisa dikenal melalui Alkitab.

 

Persoalannya bagi kita sekarang adalah, apakah kita merasa tertarik pada anugerah semacam ini? Yaitu bahwa kita boleh mengenal Dia? Ataukah kita masih selalu lebih tertarik pada segala sesuatu yang dimiliki oleh Kain dan keluarganya itu?

 

Apa yang dimiliki oleh Kain, segera dapat dilihat. Tetapi apa yang dimiliki oleh keturunan Set, tidak dapat terlihat oleh mata. Apa yang dimiliki oleh Kain membawa semacam kebanggaan, prestige. Tetapi siapakah yang akan merasa bangga jika mendapat pengenalan akan Tuhan? Bukankah mengenal Tuhan itu lebih terdengar bagaikan suatu konsep yang abstrak? Forbes pun pasti menolak untuk memasukkan orang-orang semacam ini ke dalam majalahnya, bukan?

 

Bagi orang-orang di zaman modern yang sangat memuja pencapaian, uang dan harta benda yang nyata, pengenalan akan Allah menjadi sesuatu yang tidak menarik sama sekali. Namun melalui keturunan Adam dari garis keluarga Set, kita melihat bahwa satu-satunya “kekayaan” terbesar yang mereka miliki justru adalah bahwa mereka mengenal Tuhan.

 

Kita perlu bergumul di hadapan Tuhan apabila kita sulit menerima “kekayaan” semacam itu sebagai sesuatu yang berharga. Saya pikir kita perlu melakukan introspeksi diri apabila kita jauh lebih menghargai jalan hidup Kain ketimbang Habel ataupun Set dan Enos. Tentu bukan suatu kebetulan jika sejak awal mula Alkitab sudah menulis hal-hal yang seperti ini, yaitu agar kita bercermin dari peristiwa tersebut.

 

Dalam artian tertentu, kita bisa menganggap Alkitab itu bagaikan sebuah cermin. Sebuah cermin yang memantulkan sikap hati kita. Dari cara kita menilai sebuah kisah, dari cara kita menaruh hati pada tokoh-tokoh dalam kisah itu, terbongkarlah isi hati kita sendiri di hadapan Tuhan. Kita jadi tahu, kepada siapakah atau kepada apakah hati kita selama ini telah lebih dicondongkan.

 

Jadi, jika kita dalam hidup ini selalu dan selalu dan terus menerus selalu saja tergila-gila pada kekayaan atau sangat bangga pada harta serta sangat menghormati orang kaya sedemikian rupa hanya karena dia kaya, sementara Alkitab justru berbicara dengan arah yang 180o berseberangan dengan hal tersebut, maka mungkin kita perlu duduk sebentar dan merenung. Apakah kita masih ingin mengikuti Yesus yang modelnya kayak gini? Atau mungkin pada dasarnya kita memang kurang cocok hidup bersama Dia? Jangan-jangan (karena malas baca Alkitab) selama ini kita telah keliru menilai Yesus. Jangan-jangan Yesus yang selama ini kita pikir sedang kita gandrungi itu, ternyata totally a different kind of Person?